Mantan Presiden Pakistan Asif Ali Zardari Ditahan Badan Anti Korupsi
Elshinta
Rabu, 12 Juni 2019 - 07:44 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Mantan Presiden Pakistan Asif Ali Zardari Ditahan Badan Anti Korupsi
DW.com - Mantan Presiden Pakistan Asif Ali Zardari Ditahan Badan Anti Korupsi

Badan anti-korupsi Pakistan, Biro Akuntabilitas Nasional NAB, menangkap mantan Presiden Asif Ali Zardari di rumahnya di Islamabad hari Senin (10/6). Tokoh politik itu diduga terlibat kasus pencucian uang yang menyebabkan ratusan juta dolar disedot keluar dari negara itu. Zardari diiringi anak perempuannya (foto artikel) telah mengajukan keberatan ke Mahkamah Agung namun ditolak.

Zardari dan saudara perempuannya menghadapi tuduhan, mengoperasikan rekening bank palsu untuk pencucian uang. Keduanya menyangkal tuduhan ini, dan lewat partainya PPP balik menuduh pemerintah saa ini di bawah Perdana Menteri Imran Khan melakukan "viktimisasi politik".

Badan anti-korupsi Pakistan telah menangkap beberapa tokoh politik dan pengusaha dengan tuduhan korupsi sejak Imran Khan berkuasa tahun lalu. Penangkapan Zardari terjadi setelah pengadilan Islamabad menolak permintaan perpanjangan jaminan dari Zardari dan saudara perempuannya, yang juga dituduh terlibat dalam kasus tersebut tetapi belum ditangkap.

Rekening gendut misterius

Tahun lalu, pihak berwenang Pakistan menemukan beberapa rekening gendut penuh uang, tetapi atas nama beberapa warga miskin. Rekening-rekening itu kemudian tiba-tiba dikosongkan. Bulan September tahun lalu, Mahkamah Agung Pakistan membentuk komisi investigasi, dan menemukan bahwa setidaknya 400 juta dolar telah ditransfer melalui "ribuan akun palsu."

Asif Ali Zardari adalah politisi teras, suami mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto yang terbunuh. Dia menjabat sebagai presiden dari 2008 hingga 2013. Dia sebelumnya telah meringkuk selama 11 tahun di penjara atas tuduhan korupsi dan pembunuhan sebelum menjadi presiden. Meskipun dia tidak pernah diproses di pengadilan dan tetap membantah melakukan kejahatan yang dituduhkan.

Motivasi politik?

Beberapa pemimpin oposisi Pakistan, termasuk pendahulu Imran Khan Nawaz Sharif, telah dipenjara atas tuduhan serupa, yakni korupsi. Sharif dicopot dari jabatannya oleh Mahkamah Agung atas tuduhan korupsi dan saat ini menjalani hukuman penjara tujuh tahun di Lahore.

Politisi oposisi dari PPP mengatakan, penangkapan Zardari adalah reaksi terhadap protes yang digalang PPP terhadap pemerintahan Imran Khan. PPP mengatakan akan menentang keputusan itu di Mahkamah Agung.

Namun, pemerintah Pakistan membantah tuduhan bahwa penangkapan Zardari bermotivasi politik. Menteri Sains dan Teknologi Pakistan Fawad Chaudhry mengatakan kepada DW, pemerintah mengambil "sikap yang tegas terhadap korupsi."

"Miliaran ditransfer ke rekening bank palsu yang ditautkan dengan Zardari. Penyelidikan diperintahkan oleh Mahkamah Agung. Sekarang, hukum sedang berjalan," kata Chaudhry.

Pakistan saat ini menghadapi salah satu krisis ekonomi terburuk dalam sejarahnya. Akibatnya Perdana Menteri Imran Khan menghadapi tekanan berat dari lawan politiknya. Bulan Mei lalu, Pakistan mendapatkan paket pinjaman darurat miliaran dolar dari Dana Moneter Internasional (IMF).

hp/as (dw, afp, rtr, ap)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Larangan Penyembelihan Tanpa Pembiusan, Ancaman Bagi Kebebasan Beragama di Eropa
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Hari Rabu (8/7) para hakim Mahkamah Eropa di Luxembourg membahas salah satu elemen utama identitas E...
Setengah Tahun Virus Corona, Apa yang Sejauh Ini Diketahui
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Setengah tahun lalu, di paruhan kedua bulan Januari, pemerintah Cina untuk pertama kalinya mengumumk...
Wabah Sampar yang Terlupakan tapi Belum Musnah
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Cina melaporkan satu kasus penyakit sampar pada seorang pemburu di kawasan Mongolia Dalam di provins...
Australia Tawarkan Perpanjangan Visa dan Perlindungan Bagi Warga Hong Kong
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Perdana Menteri Australia Scott Morrison pada hari Kamis (09/07) mengatakan pemerintahnya akan mempe...
Dewan Keamanan PBB Tolak Rancangan Rusia Untuk Bantuan Kemanusiaan Suriah
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Anggota Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu (9/7) menolak rancangan resolusi Rusia soal koridor bantua...
John Bolton: Trump Gagal ‘Menghargai‘ Sepenuhnya Kepresidenan AS
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Empat bulan sebelum pemilihan presiden AS, sejumlah survei menunjukkan Donald Trump sedang mengalami...
Bisakah India Ciptakan Vaksin yang Siap Pakai Bulan Agustus?
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:12 WIB
Pekan lalu, Direktur Dewan Penelitian Medis India (ICMR), Balram Bhargava, memerintahkan 12 rumah sa...
Boeing 747 Pensiun? Selamat Tinggal Jumbo Jet Pertama di Dunia
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:49 WIB
Boeing akan mengakhiri produksi pesawat dua tingkat 747 setelah 50 tahun beroperasi. Lebih dari 1.50...
Vaksin HIV/AIDS yang Efektif Melindungi Tidak Akan Ada?
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:48 WIB
Mengapa hingga kini vaksin HIV belum ditemukan? Padahal para ahli sudah menemukan virus penyebab men...
AS Secara Resmi Umumkan Keluar dari WHO di Tengah Pandemi
Kamis, 09 Juli 2020 - 08:48 WIB
Amerika Serikat (AS) secara resmi memberi tahu Sekretaris Jenderal PBB tentang penarikan negaranya d...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV