Benarkah Impor Makanan dari Australia Bisa Turunkan Harga Pangan di Indonesia?
Elshinta
Rabu, 08 Desember 2021 - 16:20 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Benarkah Impor Makanan dari Australia Bisa Turunkan Harga Pangan di Indonesia?
ABC.net.au - Benarkah Impor Makanan dari Australia Bisa Turunkan Harga Pangan di Indonesia?

Lebih dari 27 juta warga Indonesia masih dikategorikan miskin sehingga mengizinkan masuknya produk makanan dari Australia bisa membantu menutupi permintaan yang meningkat empat kali lipat di tahun 2050.

Menurut Bank Dunia, pembatasan yang diberlakukan karena adanya pandemi COVID-19 sudah menyebabkan bertambahnya warga miskin di Indonesia sebanyak 1,1 juta orang.

Dikatakan bahwa pandemi telah menyebabkan program untuk mengurangi kemiskinan di Indonesia menjadi mundur tiga tahun, dan sekarang ada 27,5 juta warga - atau sekitar 10 persen dari jumlah penduduk - yang masuk dalam kategori miskin.

Menurut laporan Biro Pertanian dan Sumber Daya Ekonomi Australia (ABARES), kebijakan perdagangan Indonesia sejak tahun 2012 menjadi salah satu sebab masih tingginya angka kemiskinan di sana.

"

"Fokus swasembada pangan telah menyebabkan tingginya biaya ekonomi dan sosial, khususnya harga makanan yang menjadi lebih tinggi," kata laporan ABARES.

"

Direktur ABARES Jared Greenville mengatakan potensi pertumbuhan pasar makanan Indonesia sangat besar.

"Kami memperkirakan permintaan akan makanan akan meningkat empat kali lipat di tahun 2050 karena meningkatnya permintaan akan makanan yang lebih bervariasi dan lebih bernilai tinggi seperti daging, produk susu, buah dan sayuran," katanya.

Investasi membuat harga lebih murah

Menurut pendapat ABARES membuka diri bagi investasi asing di Indonesia akan menurunkan harga makanan dan juga memperbaiki kualitas makanan yang tersedia.

ABARES memperkirakan bahwa setelah krisis pandemi berlalu,  meningkatnya jumlah warga kelas menengah akan memaksa pemerintah Indonesia untuk mengubah kebijakan yang mengizinkan lebih banyak impor makanan dari luar.

Dr Greenville mengatakan produk makanan itu bisa termasuk buah-buahan Australia yang ditanam di musim dingin.

"Daging merah juga termasuk salah satu yang memiliki potensi besar," katanya.

"

"Karena dataran Australia yang begitu luas, kita memiliki keuntungan dalam hal produksi sapi dan domba."

"

Faktor kelas menengah

ABARES memperkirakan bahwa sekitar 75 persen nilai dari makanan yang yang dikonsumsi di Indonesia di tahun 2050 berasal dari produk impor.

Dr Greenville mengakui bahwa banyak  petani Australia - khususnya peternak sapi - mungkin frustasi karena ketidakmampuan mereka untuk memasuki pasar Indonesia saat ini.

Tetapi dia mengatakan bahwa hal yang dibutuhkan adalah kesabaran dan keuletan.

"

"Australia sudah memiliki hubungan panjang dengan Indonesia, menjadi salah satu tetangga terdekat, memang ada kesulitan di bidang perdagangan, dan adanya peraturan yang rumit di Indonesia yang harus ditangani," katanya.

"

"Namun saya kira dalam jangka panjang, kesabaran dan keuletan akan menjadi faktor kunci.

"Bila angka-angka ini di masa depan menjadi kenyataan, maka akan banyak kesempatan di sana."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Djokovic Sudah Meninggalkan Australia, Kecewa Tapi Hormati Keputusan
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Novak Djokovic, petenis nomor satu dunia, sudah meninggalkan Australia kemarin malam (16/01) setel...
Perempuan di China Ini Terjebak dalam Kencan Buta Saat Lockdown Diumumkan
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Begitu 'lockdown' mendadak diumumkan di kota Zengzhou, Wang terjebak di apartemen milik s...
Bagaimana Gunung di Tonga Meletus dan Menyebabkan Ada Peringatan Tsunami
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Seberapa besar kerusakan akibat gunung berapi di Tonga masih belum diketahui secara pasti, tapi mel...
Negara-negara Miskin Membuang Jutaan Vaksin COVID karena Hampir Kedaluwarsa
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
UNICEF, salah satu badan PBB, melaporkan negara-negara miskin menolak lebih dari 100 juta dosis va...
Ada Laporan Delegasi Indonesia Kunjungi Israel untuk Belajar Tangani COVID-19
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Army Radio, sebuah stasiun radio milik militer Israel melaporkan delegasi dari Indonesia telah melak...
Usia Harapan Hidup di Australia Meningkat, Salah Satunya Karena Lockdown
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
'Life expectancy' atau usia harapan hidup warga di Australia telah meningkat sejak dimula...
Sistem Kesehatan di Australia Tertekan di Tengah Naiknya Penularan Omicron
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Australia melaporkan 77 kematian akibat COVID-19 pada hari Selasa (18/01), menjadi kematian tertingg...
Memakai Masker Bedah Membuat Orang Terlihat Lebih Menarik, Benarkah?
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Sebuah studi terbaru yang dilakukan para peneliti di Inggris menemukan jika memakai masker bisa memb...
Selfie NFT Asal Indonesia Laku Jutaan Dolar. Seberapa Aman Jualan NFT?
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Pekan lalu, nama Sultan Gustaf Al Ghozali asal Semarang menjadi viral setelah dilaporkan ia mendapat...
Butuh Pekerja, Australia Kembalikan Biaya Pembuatan Visa Pelajar dan WHV
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja, Pemerintah Australia akan mengembalikan biaya pembu...
InfodariAnda (IdA)
Elshinta
CRI