Musisi Difabel Asal Indonesia di Sydney: Kami juga Punya Hati
Elshinta
Rabu, 08 Desember 2021 - 16:20 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Musisi Difabel Asal Indonesia di Sydney: Kami juga Punya Hati
ABC.net.au - Musisi Difabel Asal Indonesia di Sydney: Kami juga Punya Hati

Ria Andriani masih ingat saat ia tampil bernyanyi bersama dua perempuan lainnya di Bandung ketika ia remaja. Setelah tampil, seorang pria setengah baya menghampirinya dan mengatakan "saya sebetulnya hari ini mau bunuh diri, tapi saya lihat kamu. Saya enggak jadi mau bunuh diri."

Pengalaman itu tidak pernah dilupakan Ria, yang kehilangan pengelihatannya saat masih kecil.

Ria pindah ke Australia pada usia 16 tahun bersama orangtuanya, dan kini ia tinggal di Sydney sebagai penyanyi di paduan suara Sydney Chambre Choir dan Christ Church St Laurence.

Ia juga bekerja sebagai pakar 'braille' untuk mengecek dokumen-dokumen yang ditulis dengan huruf khusus bagi penyandang tunanetra.

Saat berada di panggung, Ria mengatakan jika ia tidak hanya sekadar menyanyi.

"Paduan suara saya banyak mengangkat topik terkait lingkungan, seperti kita baru saja menampilkan Garden of The Soul, atau Taman Jiwa, dengan lagu-lagu yang berisi soal kekeringan, kebakaran hutan," ujarnya.

"Banyak musisi di sini memiliki opini terhadap sesuatu, jadi ini salah satu cara para musisi untuk berbagi opini soal masalah lingkungan atau mendukung penerima suaka dan migran,"

Berdasarkan pengalamannya menghadapi sejumlah tantangan, Ria mengatakan dibutuhkan waktu bagi musisi dengan disabilitas untuk bisa diapresiasi di Australia.

"Jika saya minta partitur sebelum rehearsal, supaya kalau belum ada braille-nya bisa saya buat, biasanya mereka bilang belum punya … jadi saya datang untuk latihan tanpa musik," Ria menceritakan salah satu contohnya.

"

"Semakin lama mereka semakin mengerti kebutuhan saya."

"

"Tantangan sampai sekarang adalah memang masih akses ke braille score … untuk bisa membaca score atau partitur adalah sangat penting bagi saya."

Sementara untuk mobiltas, Ria mengaku tidak memiliki masalah, meski ia juga memiliki 'guide', yakni seekor anjing bernama Max yang setia membantunya terutama saat Ria sedang 'travelling'.

'Jangan dibelaskasihani'

Media di Indonesia seringkali menampilkan mereka yang hidup dengan disabilitas seperti "orang-orang yang hebat", menurut Ria.

Ia mengatakan, sebagai akibatnya ada tekanan untuk membandingkan dengan mereka yang bisa mencetak prestasi atau melakukan banyak hal.

"Tapi tidak semudah itu, ada banyak proses yang terjadi di belakangnya. Jadi dengan menampilkan mereka seperti itu, tidak memberikan gambaran penuh soal apa yang kami alami," ujarnya.

"It takes a village to raise a child, kalau menurut pepatah dalam bahasa Inggris," kata Ria menjelaskan perlunya dukungan dan bantuan dari orang sekitarnya.

Ria mengaku seringkali mendapat pengalaman yang "asimetris". Saat orang lain bisa terinspirasi oleh penyandang disabilitas, di sisi lain ia juga pernah mengalami perlakuan yang berbeda karena status disabilitasnya.

"Orang yang punya disabilitas juga manusia, kita juga punya rasa, punya hati," ujar Ria.

"Jangan dibelaskasihani, tapi justru jadikanlah sebuah lingkungan yang kita semuanya bisa lebih mengaksesnya, sehingga kami bisa setara ."

Ria mengatakan, di eranya pilihan hidup bagi tunanetra hanya ada dua, yakni menjadi musisi atau tukang pijat.

Tapi sekarang Ria melihat teman-teman tunanetra yang mampu jadi guru di sekolah biasa, bukan di sekolah khusus murid difabel. Atau bahkan ada yang menjadi insinyur, yang menurutnya dulu dianggap tidak mungkin karena penyandang tunanetra tidak memiliki akses ke komputer khusus.

"

"Dengan memberikan akses, pendidikan, dan ditambah kreativitas, kita bisa jadi apa pun."

"

Tidak bisa dimasukkan ke dalam satu kategori

Memperingati Hari Penyandang Disabilitas Internasional yang jatuh setiap tanggal 3 Desember, Ria saat ini menjadi seorang 'host' untuk serial video bersama ABC Classic, program musik yang fokus pada musik-musik klasik dari penjuru dunia.

Serial video tersebut menampilkan para musisi dengan disabilitas dan bagaimana mereka bisa bermusik.

"Setiap orang yang memiliki disabilitas itu berbeda-beda, kita tidak bisa dikategorikan ke dalam satu kategori yang sama," jelas Ria tentang pesan yang ia dapatkan setelah mewawancarai para musisi.

"Yang kita alami berbeda, tapi kita bisa share apa yang kita sudah punya dan berbagi pandangan soal apa yang kita bisa lakukan sebagai musisi disabilitas dan apa yang bisa dilakukan industri musik untuk mendukung kita."

Dari pengalamannya, Ria mengajak warga yang hidup dengan disabilitas untuk tetap semangat dalam mewujudukan mimpinya.

"Maju terus," kata Ria.

"Jika ingin mendapatkan respek dan martabat, serta hak yang sama dengan yang non-disabilitas, kita benar-benar harus melakukan sesuatu," katanya.

"Jangan berharap dunia berubah untuk kita kalau kita tidak bisa jadi bagian dari perubahan itu."

ABC Classic merilis serial video baru yang dibawakan Ria Andriani untuk mengeksplorasi pengalaman para musisi penyandang disabilitas dalam rangka peringatan Hari Penyandang Disabilitas Internasional 2021, yang bisa dilihat di sini.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Djokovic Sudah Meninggalkan Australia, Kecewa Tapi Hormati Keputusan
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Novak Djokovic, petenis nomor satu dunia, sudah meninggalkan Australia kemarin malam (16/01) setel...
Perempuan di China Ini Terjebak dalam Kencan Buta Saat Lockdown Diumumkan
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Begitu 'lockdown' mendadak diumumkan di kota Zengzhou, Wang terjebak di apartemen milik s...
Bagaimana Gunung di Tonga Meletus dan Menyebabkan Ada Peringatan Tsunami
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Seberapa besar kerusakan akibat gunung berapi di Tonga masih belum diketahui secara pasti, tapi mel...
Negara-negara Miskin Membuang Jutaan Vaksin COVID karena Hampir Kedaluwarsa
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
UNICEF, salah satu badan PBB, melaporkan negara-negara miskin menolak lebih dari 100 juta dosis va...
Ada Laporan Delegasi Indonesia Kunjungi Israel untuk Belajar Tangani COVID-19
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Army Radio, sebuah stasiun radio milik militer Israel melaporkan delegasi dari Indonesia telah melak...
Usia Harapan Hidup di Australia Meningkat, Salah Satunya Karena Lockdown
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
'Life expectancy' atau usia harapan hidup warga di Australia telah meningkat sejak dimula...
Sistem Kesehatan di Australia Tertekan di Tengah Naiknya Penularan Omicron
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Australia melaporkan 77 kematian akibat COVID-19 pada hari Selasa (18/01), menjadi kematian tertingg...
Memakai Masker Bedah Membuat Orang Terlihat Lebih Menarik, Benarkah?
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Sebuah studi terbaru yang dilakukan para peneliti di Inggris menemukan jika memakai masker bisa memb...
Selfie NFT Asal Indonesia Laku Jutaan Dolar. Seberapa Aman Jualan NFT?
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Pekan lalu, nama Sultan Gustaf Al Ghozali asal Semarang menjadi viral setelah dilaporkan ia mendapat...
Butuh Pekerja, Australia Kembalikan Biaya Pembuatan Visa Pelajar dan WHV
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja, Pemerintah Australia akan mengembalikan biaya pembu...
InfodariAnda (IdA)
Elshinta
CRI