Pemerintah Australia Keluarkan Aturan Untuk Memerangi SMS Penipuan
Elshinta
Rabu, 01 Desember 2021 - 11:51 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Pemerintah Australia Keluarkan Aturan Untuk Memerangi SMS Penipuan
ABC.net.au - Pemerintah Australia Keluarkan Aturan Untuk Memerangi SMS Penipuan

Perusahaan telekomunikasi di Australia akan menghentikan pengiriman SMS penipuan sebelum pesan-pesan tersebut dikirimkan, menyusul perubahan peraturan oleh pemerintah

Dalam beberapa bulan terakhir terjadi peningkatan pengiriman SMS penipuan, hal yang digambarkan sebagai "gelombang tsunami" di Australia.

Badan perlindungan konsumen Australia (ACCC) mendapatkan puluhan ribu pengaduan dari warga yang mengatakan mereka jadi korban penipuan.

Untuk tahun ini saja diperkirakan warga Australia sudah menderita kerugian sekitar Rp870 miliar.

Sebelumnya, Pemerintah Australia sudah berhasil menghentikan sekitar 200 juta kali panggilan telepon yang seolah-olah berasal dari institusi pemerintah.

Sekarang Pemerintah Australia juga mengubah peraturan untuk menghentikan pengiriman SMS penipuan.

"Sebagai langkah lanjutan untuk mengatasi masalah pengiriman SMS penipuan, apa yang akan kami lakukan adalah memastikan perusahaan telekomunikasi memiliki kontrol menggunakan teknologi mereka untuk mengidentifikasi dan memblokir semua SMS sebelum konsumen menyadarinya," kata Menteri Telekomunikasi Australia Paul Fletcher.

"Yang kita hadapi adalah organisasi kriminal yang kebanyakan berbasis di luar negeri, yang mengirimkan SMS dan panggilan telepon."

"

"Mereka menggunakan teknologi. Kita juga harus menggunakan teknologi untuk memerangi apa yang mereka lakukan."

"

Andy Penn, Direktur Eksekutif Telstra, yakni perusahaan telekomunikasi terbesar di Australia, mengatakan teknologi yang digunakan termasuk algoritma dan kecerdasan buatan (AI).

"Kami sudah memblokir ratusan ribu SMS," katanya

"Inisiatif terbaru ini memungkinkan kami untuk mendapatkan data lebih banyak, dan akses yang lebih baik ke data yang bisa kami gunakan dengan mesin algoritma dan kecerdasan buatan kami untuk bisa mengidentifikasi lebih baik SMS penipuan tersebut."

"Itulah yang kami lakukan." 

Banyak dari SMS penipuan yang diterima oleh konsumen di Australia berisi pesan yang mengatakan ada rekaman pesan suara yang belum dibuka, disertai tautan ke pesan suara tersebut.

Andy mengatakan jumlah SMS yang dikirim ke seluruh Australia sangat banyak sehingga cara penanganannya hanya bisa dilakukan lewat teknologi.

"Anda bisa bayangkan ada miliaran, atau bahkan triliunan transaksi dan SMS, atau panggilan telepon menggunakan jaringan telekomunikasi setiap tahunnya.

"Apa yang kami harus lakukan adalah menemukan SMS yang hendak menipu dan menghentikannya sebelum dikirim," katanya.

"

"Ini tidak bisa dilakukan secara manual. Kami harus menggunakan teknologi komputer. Kami harus menggunakan kecerdasan buatan."

"

Partai oposisi di tingkat Federal di Canberra, Partai Buruh, baru-baru ini menyerukan kepada perusahaan telekomunikasi, bank dan industri ritel untuk mengubah cara mereka berkomunikasi dengan konsumen sehingga kiriman SMS dan atau panggilan telepon mereka bisa dibedakan dengan yang bermaksud menipu.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kangen ke Luar Negeri? Perjalanan Internasional Diperkirakan Normal di 2024
Kamis, 27 Januari 2022 - 10:30 WIB
Secara perlahan berpergian ke penjuru dunia mulai lebih mudah dibandingkan saat awal pandemi COVID-1...
Sektor Pariwisata Australia Rugi Ratusan Miliar Dolar Akibat Pandemi COVID-19
Rabu, 26 Januari 2022 - 10:12 WIB
Sektor pariwisata di Australia sangat terpukul karena pandemi COVID-19 hingga harus menanggung kerug...
Saya Betul-betul Ingin Pulang: Remaja Australia di Penjara Suriah Minta Tolong
Rabu, 26 Januari 2022 - 10:12 WIB
Sudah lima hari militan Islamic State (IS) terlibat kontak senjata dengan tentara Kurdi dalam usaha...
Kasus COVID-19 di Tiga Negara Bagian Besar di Australia Mulai Menurun
Selasa, 25 Januari 2022 - 10:15 WIB
Jumlah penularan virus corona di tiga negara bagian di Australia, yakni New South Wales, Victoria, d...
Lebih Mudah Lari dari Taliban Ketimbang Dibebaskan dari Tahanan Imigrasi Australia
Selasa, 25 Januari 2022 - 10:15 WIB
Jamal* melarikan diri dari Taliban ke Australia demi keselamatan dirinya. Namun, penahanan yang...
Khawatir Serangan Rusia, Amerika Serikat Perintahkan Staf Kedutaan Meninggalkan Ukraina
Selasa, 25 Januari 2022 - 10:15 WIB
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memerintahkan semua keluarga staf kedutaan mereka di Ukraina...
Ingin Berinvestasi? Lupakan Sejenak Saham, Belilah Mainan Seperti Lego
Selasa, 25 Januari 2022 - 10:15 WIB
Rafal Skowron dari Liverpool di negara bagian New South Wales sudah menghabiskan $80 ribu, atau leb...
Mengapa Australia Barat Masih Menutup Perbatasan, Saat yang Lain Sudah Dibuka?
Senin, 24 Januari 2022 - 09:53 WIB
Dua tahun sudah pandemi COVID-19 terjadi, tapi negara bagian Australia Barat tetap memilih untuk men...
Penyanyi Ceko Meninggal karena Sengaja Menulari Dirinya dengan COVID-19
Senin, 24 Januari 2022 - 09:53 WIB
Seorang penyanyi asal Ceko yang dikenal anti-vaksin meninggal dunia setelah dia sengaja menulari dir...
Nasi Bungkus dan Obat: Warga Indonesia Saling Bantu di Tengah Wabah Omicron Australia
Senin, 24 Januari 2022 - 09:53 WIB
Setelah melakukan serangkaian aktivitas di masa liburan akhir tahun bersama teman-temannya, Nandya G...
InfodariAnda (IdA)
Elshinta
CRI