Qatar Banggakan Stadion Bongkar-Pasang untuk Piala Dunia 2022 yang Berkelanjutan
Elshinta
Senin, 29 November 2021 - 08:32 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Qatar Banggakan Stadion Bongkar-Pasang untuk Piala Dunia 2022 yang Berkelanjutan
DW.com - Qatar Banggakan Stadion Bongkar-Pasang untuk Piala Dunia 2022 yang Berkelanjutan

Di Montreal, Kanada, stadion utama Olimpiade Musim Panas 1976 dulu dikenal dengan sebutan penuh kekaguman, The Big O. Namun stadion itu kini lebih dikenal sebagai The Big Owe atau Si Utang Besar, karena dana yang terus-menerus mengalir, dicurahkan untuk pemeliharaannya.

Si Utang Besar ini butuh waktu 30 tahun untuk melunasinya. Atap terbaru untuk tempat tersebut diperkirakan menelan biaya ratusan juta dolar. Sebuah film dokumenter dari CBC baru-baru ini bercerita tentang struktur yang sekarang berusia 45 tahun itu. CBC bahkan memberi judul The Big Woe, atau Si Celaka Besar.

Ini adalah salah satu dari banyak stadion yang pembiayaannya diserahkan kepada pembayar pajak dan pemerintah di seluruh dunia untuk acara besar seperti Piala Dunia dan Olimpiade. Tempat-tempat ini sekarang jarang digunakan, para klub sepak bola cenderung bermain di kota masing-masing di hadapan sejumlah kecil penggemar.

Stadion kelas dunia adalah struktur megah dan spektakuler yang dimaksudkan untuk menginspirasi, memicu kekaguman, menyambut penggemar, dan menyediakan tempat untuk kompetisi atau hiburan.

Namun jelas bahwa stadion dimaksudkan untuk berdiri dan kosong begitu saja dalam waktu lama. Jika dibiarkan, stadion ini akan menyedot uang pembayar pajak untuk biaya pemeliharaan. Stadion juga akan bertambah tua, sering kali tampilannya memburuk.

Selamat datang di Stadion 974

Di Qatar, ada sebuah stadion yang disebut-sebut bisa dibongkar-pasang. Nama stadion untuk Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar ini diambil dari nomor panggilan telepon untuk negara tersebut. Selain itu, nama juga terinspirasi dari jumlah kontainer pengiriman material pembangunan stadion itu. Qatar menyebut Stadion 974 sebagai sebuah terobosan untuk penyelenggaraan acara besar yang berkelanjutan.

Stadion 974 akan menjadi salah satu dari delapan stadion Piala Dunia yang menampung 32 tim nasional dari total 64 pertandingan antara hari pembukaan pada 21 November dan final kejuaraan pada 18 Desember 2022.

Stadion baru ini digadang telah dibangun dari bahan daur ulang atau dapat didaur ulang, serta bisa dibongkar dan dipindahkan setelah Piala Dunia 2022 berakhir pada bulan Desember, ketika stadion ini tidak lagi dibutuhkan.

"Jika Anda melihat segala kritik atas semua stadion besar yang dibuat di seluruh dunia, dan tidak lagi digunakan, ini, ya, ini berguna," kata Zeina Khalil Hajj, juru kampanye dan ahli Timur Tengah dari 350, sebuah organisasi global yang berfokus pada krisis iklim.

Hajj mengatakan bahwa Stadion 974 Qatar layak mendapat penghargaan karena berpotensi dibongkar dan dibangun kembali. Namun ia juga menyebutnya sebagai langkah kampanye kehumasan yang cerdas dari negara yang terkenal sebagai penghasil CO2 per kapita terbesar per orang di dunia. "Yang mereka lakukan hanyalah 'mesin kehumasan' ini," ujar Hajj.

Sedangkan Bodour Al-Meer, kepala bidang keberlanjutan untuk komite penyelenggara lokal di Qatar, mengatakan negara itu berusaha untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan lingkungan.

Komite Tertinggi Qatar, sejalan dengan organisasi sepak bola dunia FIFA, mengatakan bahwa Piala Dunia 2022 akan menjadi acara netral karbon. Dokumen strategi keberlanjutan acara itu berfokus pada mitigasi emisi, stadion hemat energi, rendahnya biaya transportasi - sebagian karena semua stadion berada sangat dekat dengan pusat kota Doha - dan praktik pengelolaan limbah berkelanjutan.

Keberlanjutan atau greenwashing?

Semua tujuan ini bisa dipuji, kata Phillipp Sommer, direktur ekonomi sirkular untuk organisasi Environmental Action Germany yang dikenal di Jerman sebagai Umwelthilfe.

Tapi menurutnya, mengimbangi "emisi yang tidak dapat dihindari" dengan menanam satu juta pohon seperti yang dijanjikan Qatar - alih-alih menggunakan tenaga surya atau energi angin untuk menerangi dan mendinginkan tujuh dari delapan stadion - tidaklah bersifat berkelanjutan.

"Ini seperti greenwashing hanya untuk mengkompensasi," kata Sommer dalam sebuah wawancara DW.

Piala Dunia 2022 telah diundur selama lima bulan untuk menghindari sengatan musim panas. Namun Qatar masih diperkirakan akan menggunakan AC bertenaga bahan bakar fosil di stadion terbuka pada November dan Desember tahun depan. Ini pula yang mereka lakukan di pusat perbelanjaan luar ruangan, pasar, dan di sepanjang trotoar yang sibuk.

Mengapa tidak gunakan stadion yang ada?

Sommer percaya pada saat isu perubahan iklim menjadi perhatian utama, masih terus ada desakan bagi negara-negara tuan rumah untuk membangun struktur bangunan baru yang megah untuk acara besar seperti Piala Dunia dan Olimpiade.

"Pertama saya akan mengajukan pertanyaan, apakah benar-benar perlu membangun stadion hanya untuk satu tujuan," kata Sommer.

"Jadi mereka berencana untuk membongkarnya nanti… Tapi tidak bisakah pertandingan ini dimainkan di stadion yang sudah ada? Membangun stadion baru hanya untuk acara ini dan sudah merencanakan itu tidak akan digunakan lagi, karena Anda tidak membutuhkannya lagi, ya, itu bukan hal yang benar-benar berkelanjutan."

Namun insinyur asal Qatar, Bodour Al-Meer, menegaskan bahwa saat ini negaranya berada di jalur menuju keberlanjutan. "Kami memiliki rencana peninggalan (legacy) yang terperinci untuk setiap gedung baru yang kami bangun, termasuk stadion-stadion kami," ujar Bodour Al-Meer.

"Saya pikir strategi legacy bagi negara tuan rumah acara-acara besar akan menjadi lebih penting di masa depan sebagai dampak dari Qatar 2022." (ae/yp)



Setahun jelang Piala Dunia, Qatar perkenalkan stadion yang bisa dibongkar sesudah ajang selesai, untuk dirakit lagi di tempat lain. Kampanye humas yang bagus tapi tidak perlu, kata ahli lingkungan.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Fosil Utuh Ichtyosaurus Ditemukan di Inggris
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:43 WIB
Petugas pemeliharaan yang mengeringkan sebuah bendungan di Rutland, Inggris menemukan fosil tulang v...
Jimat dan Mantra Memperlancar Hidup Masih Digemari Kaum Muda
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:43 WIB
"Monggo (silakan), mau cari apa?" sapa Tuti dalam bahasa Jawa yang bercampur bahasa Indone...
Penjelasan Ikatan Dokter Anak Indonesia tentang Vaksinasi COVID-19 untuk Anak
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:43 WIB
Program vaksinasi COVID-19 untuk anak berusia 6-11 tahun resmi dimulai pemerintah sejak 14 Desember ...
Airbus dan Boeing Dapat Saingan Baru dari Rusia dan Cina
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:43 WIB
Tanpa aksi marketing spektakuler, MC-21 dan C919 muncul untuk menantang Airbus dan Boeing yang sejak...
NATO dan Jerman Peringatkan Risiko Nyata dari Konflik Ukraina-Rusia
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:43 WIB
Kanselir Jerman dan Kepala NATO pada Selasa (18/01) mendesak Rusia untuk mengurangi ketegangan di te...
IOC Merespons Kekhawatiran soal Kerentanan Aplikasi Cina My 2022
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:43 WIB
IOC memberi tahu DW bahwa aplikasi ponsel cerdas Cina My 2022, yang dimaksudkan untuk digunakan oleh...
Israel Akhirnya Gusur Rumah Warga Palestina di Yerusalem Timur
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:43 WIB
Penggusuran dilakukan pada Rabu (19/1) menjelang fajar, ketika aparat kepolisian Israel menyambangi ...
PM Inggris Boris Johnson Terancam Dilengserkan Partai Sendiri
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:43 WIB
Sebanyak 20 anggota legislatif dari Partai Konservatif dikabarkan melayangkan mosi tidak percaya ter...
Menteri Ekonomi dan Iklim Jerman: Mencapai Target Iklim Adalah
Jumat, 14 Januari 2022 - 12:07 WIB
Jerman harus segera mengambil tindakan untuk mengatasi ketertinggalan yang parah pada perlindungan i...
Kantor Dalam Negeri Inggris Mundur dalam Kasus Pencari Suaka Suriah
Jumat, 14 Januari 2022 - 10:18 WIB
Kasus tersebut menyangkut seorang pria Suriah berusia 25 tahun yang datang ke Inggris pada Mei 2020....
InfodariAnda (IdA)
Elshinta
CRI