Setengah Juta Orang Sudah Meninggalkan Australia, Tapi Rumah Sewa Semakin Berkurang dan Mahal
Elshinta
Selasa, 03 Mei 2022 - 08:33 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Setengah Juta Orang Sudah Meninggalkan Australia, Tapi Rumah Sewa Semakin Berkurang dan Mahal
ABC.net.au - Setengah Juta Orang Sudah Meninggalkan Australia, Tapi Rumah Sewa Semakin Berkurang dan Mahal

Veronica Silva terusir dari rumah yang telah dia sewa selama satu dekade. Sejumlah tetangganya di Gold Coast, Australia, juga mengalami hal serupa.

"Sangat berat. Saya menangis hampir setiap malam, sangat stres," kata Veronica kepada ABC News.

Dia menyebut enam tetangganya juga terusir dari rumah yang mereka sewa selama ini, setelah skema bantuan pemerintah untuk keringanan sewa rumah berakhir.

"Saya bakal merindukan semua tetangga saya," ujarnya.

Ia mengaku sangat berat untuk pindah dari lingkungan yang telah dikenalnya cukup lama, dan harus terjadi pada usianya yang sudah 78 tahun.

"Saya hanya akan mengunci diri di rumah yang baru itu dan tidak akan keluar. Itulah yang akan terjadi padaku," ucap Veronica.

Secara sederhana, krisis rumah sewa di Australia tampaknya tidak masuk akal.

Pasalnya, lebih dari 500.000 orang telah meninggalkan negara ini selama pandemi, dan penutupan perbatasan telah menghentikan kedatangan dari luar negeri.

Hal itu seharusnya meningkatkan ketersediaan rumah sewa sekaligus menurunkan harga sewanya.

Namun apa yang dikhawatirkan selama beberapa dekade, yaitu terjadinya krisis rumah sewa, saat ini benar-benar terjadi di Australia.

Tersediaan rumah sewa kian rendah

Veronica menjadi salah satu korban dari krisis yang terus berkembang.

Tingkat ketersediaan properti sewa kini berada pada rekor terendah. Proporsi rumah yang dianggap terjangkau bagi pensiunan seperti Veronica bahkan lebih kecil lagi.

Ia akhirnya bisa mendapatkan rumah sewa, berjarak 60 kilometer dari keluarganya dan harus mengeluarkan A$70 (sekitar Rp700 ribu) lebih banyak per minggu padahal pendapatannya tidak bertambah.

Ditanya apa yang akan dia potong dari belanjanya, Veronica menjawab: "Makanan."

Perusahaan properti REA Group menggunakan situs website realestate.com.au yang populer untuk menganalisis informasi tentang pasar rumah sewa.

Laporan PropTrack dari REA Group menemukan harga sewa mingguan telah melonjak naik 4,7 persen sejak awal tahun 2002 hingga Maret. Ini kenaikan berbesar sejak sebelum 2015.

Fakto penyebabnya, karena kekurangan stok. Jumlah total properti yang tersedia untuk disewa pada Maret 2022 adalah yang terendah sejak Agustus 2003.

Pada bulan Maret tidak sampai 130.000 total properti sewa yang tersedia. Itu anjlok 24,9 persen dari rata-rata dekade yaitu sekitar 170.000 properti sewa.

Kini sangat sedikit rumah yang tersedia untuk disewa.

"Sejak 2014, ketika bank diizinkan untuk mengenakan suku bunga yang lebih tinggi kepada investor, kita melihat banyak investor meninggalkan pasar," kata Cameron Kusher dari REA Group.

"Ketika pandemi melanda, penjualan properti milik mereka terjadi secara berlebihan," jelasnya.

Dengan dibukanya kembali perbatasan internasional dan para migran kembali masuk ke Australia, Cameron menyebut pasar sewa akan semakin ketat, dan harganya akan naik paling tinggi di Sydney dan Melbourne.

Pada awal pandemi harga sewa di kedua kota ini sempat mengalami penurunan akibat banyak penyewa yang tiba-tiba meninggalkan Australia.

"Kurangnya pasokan diperburuk oleh banyaknya pemilik yang menjual properti investasi mereka," jelas Cameron.

"Sebagian besar properti ini dibeli oleh pemilik baru yang sekaligus menghuninya, menyebabkan pasokan rumah sewa semakin berkurang," tambahnya.

Laporan PropTrack memperkirakan sekitar 20 persen dari transaksi saat ini melibatkan pemilik yang menjual properti mereka, sementara hanya 8 persen yang dibeli oleh investor baru.

Artinya, sekitar 12 persen properti yang dijual saat ini beralih status dari rumah sewa menjadi rumah yang ditinggali sendiri oleh pemiliknya.

"Tentu saja, pergeseran tersebut mengurangi persediaan rumah sewa," ujar ekonom PropTrack, Paul Ryan.

"

"Tapi kecenderungannya yaitu penyewa yang lebih kaya kini beralih menjadi pemilik properti," katanya.

"

Rumah kedua naik daun

Meskipun jumlah pembeli rumah pertama meningkat, pembelian properti oleh mereka yang ingin menempatinya — yang disebut pemilik-penghuni — tidak mengurangi tekanan pada pasar rumah sewa.

"Banyak orang menjual properti investasinya karena ingin membeli properti kedua yang lebih besar, lebih bagus, dan di lokasi yang lebih baik," katanya.

Hal ini menyebabkan terjadinya pembelian "rumah kedua" di daerah pesisir dan regional, karena sulit mendapatkannya di pusat kota.

Selain itu, lockdown selama pandemi menyebabkan orang bisa menabung dan membeli rumah liburan di luar kota.

Selama pandemi juga, banyak rumah sewa jangka pendek diubah menjadi jangka panjang. Saat perbatasan dibuka, pasokan rumah sewa seperti ini kembali menjadi sewa jangka pendek.

"Tapi faktor utama lainnya adalah permintaan sewa bergeser dari lokasi dalam kota Sydney dan Melbourne, ke wilayah regional," katanya.

Padahal, ketersediaan rumah sewa di wilayah regional juga sangat terbatas.

Kewajiban bekerja dari rumah dan ledakan layanan kebutuhan secara online menjadikan orang yang biasanya meninggalkan desanya untuk pergi ke kota kini tetap tinggal di desa.

Ketika penduduk kota meninggalkan kota yang di-lockdown, harga sewa rumah di pedesaan pun melonjak.

"Banyak orang kota pindah ke daerah regional. Toh mereka dapat bekerja dari rumah. Menikmati gaya hidup pedesaan. Tapi mereka ini menyebabkan kenaikan harga sewa dan harga rumah," ujar Kate Colvin, juru bicara LSM Rumah Semua Orang.

"Jadi pasar perumahan regional pun hancur dan konsekuensinya dirasakan oleh mereka yang berpenghasilan rendah," tambahnya.

Harga sewa di atas sepertiga penghasilan

Laporan Keterjangkauan Sewa Tahunan yang dirilis badan amal Anglicare Australia menganalisis 45.992 rumah sewa dan mencari yang harganya kurang dari sepertiga penghasilan rata-rata upah minimum.

Hanya 2 persen yang masuk dalam kategori tersebut, yang terjangkau bagi seseorang dengan penghasilan UMR. Jumlah rumah sewa dalam kategori ini hanya 720 properti di seluruh Australia.

Selain itu, tidak sampai 1 persen (312 properti) yang terjangkau bagi penerima tunjangan pensiun usia dan hanya 51 rumah sewa yang terjangkau bagi penerima tunjangan pensiun disabilitas.

Direktur Utama Anglicare Australia, Kasy Chambers, menyebutkan harga sewa meroket di kota besar, kota kecil dan daerah regional.

"

"Kita selalu mendengar Pemilu kali ini fokusnya tentang biaya hidup. Tapi pengeluaran untuk perumahan adalah biaya terbesar yang dialami rakyat Australia sekarang," katanya.

"

"Orang berpenghasilan rendah tidak memiliki peluang. Krisis perumahan Australia telah mencapai puncaknya," ujarnya.

Pasokan tidak cukup

Menanggapi situasi ini, Direktur Dewan Properti Australia, Ken Morrison, merujuk ke teori ekonomi sederhana: penawaran dan permintaan.

"Kita tidak memiliki pasokan perumahan termasuk rumah sewa yang kita butuhkan di masa pandemi ini," ujarnya.

Penyelidikan oleh komite parlemen baru-baru ini berusaha mencari solusi untuk meningkatkan pasokan perumahan dan keterjangkauan harganya.

Ketua komite Jason Falinksi dari Partai Liberal menjelaskan laporan mereka memuat cara-cara praktis "memotong simpul peraturan yang menghambat, perencanaan yang kacau, dan membebani pembeli rumah baru melalui setumpuk pajak dan biaya."

Anggota komite lainnya menolak laporan ini karena tidak ada solusi baru dan karena laporan ini tidak melibatkan pemerintah negara bagian, padahal mereka berperan dalam perencanaan dan pembangunan perumahan.

Ada banyak faktor yang memicu kurangnya perumahan dengan harga yang terjangkau.

Isu ini melintasi yurisdiksi antara pemerintah federal, negara bagian, dan pemerintah lokal dan dapat membenturkan kepentingan investor properti, pemegang kredit properti, dan penyewa properti.

Ada juga interaksi yang kompleks.

Tingkat suku bunga yang sangat rendah memungkinkan seseorang meminjam lebih banyak uang ke bank, mendorong kenaikan harga rumah semakin tinggi.

Pada saat yang sama, mereka berkontribusi pada suku bunga tabungan yang rendah, mendorong orang untuk memasuki pasar perumahan sebagai investor, sehingga menghasilkan properti sewaan.

Veronica tidak sendiri

Veronica Silva mengatakan enam orang tetangganya di daerah Willow Vale terusir dari rumah sewanya karena bantuan sewa rumah (NRAS) telah dihentikan.

Di daerah ini ada 22 rumah sewa penerima bantuan NRAS yang akan berakhir tahun ini. Empat rumah lainnya berakhir bantuannya tahun depan.

Skema NRAS dimulai pada tahun 2008 dengan tujuan meningkatkan pasokan rumah sewa dengan harga terjangkau selama 10 tahun.

Pemilik rumah dibayar oleh pemerintah untuk menyewakan rumahnya dengan harga terjangkau, setidaknya 20 persen di bawah harga pasar.

Tapi bagi orang seperti Veronica, periode satu dekade bantuan itu sudah berakhir.

Data dari Asosiasi Penyedia Perumahan Terjangkau Nasional (badan pelaksana NRAS) menunjukkan sebanyak 22.160 properti sewa NRAS akan berakhir dua tahun ke depan, 8.038 di antaranya di Queensland.

Bagi Veronica, hal itu berarti dia harus pindah lebih jauh dari keluarganya, termasuk 16 cucu dan 13 cicit.

"Saya tak bisa menggambarkan bagaimana perasaan saya. Sangat menyedihkan," ujarnya.

Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC News untuk ABC Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Mewarnai Foto Lawas Hitam-Putih, Menghidupkan Sejarah
Selasa, 21 Juni 2022 - 15:13 WIB
Andiena Shanty terkejut ketika melihat ibunya menangis bahagia karena sebuah foto. Foto tersebut...
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese Pertimbangkan Undangan Presiden Ukraina untuk Mengunjungi Kyiv
Selasa, 21 Juni 2022 - 15:13 WIB
PM Australia Anthony Albanese mengatakan dia akan mencari pertimbangan sebelum memutuskan apakah a...
Perubahan Iklim Bisa Memicu Penyebaran Wabah Seperti Cacar Monyet dan Virus Ensefalitis Jepang
Selasa, 21 Juni 2022 - 15:13 WIB
Di dunia yang sangat peka terhadap penyakit setelah lebih dari dua tahun pandemi global, kemunculan ...
Nelayan Indonesia Diduga Membunuh Penyu Hijau yang Hampir Punah di Perairan Australia
Selasa, 21 Juni 2022 - 15:13 WIB
Muncul kekhawatiran bahwa nelayan asal Indonesia membunuh dan memakan penyu hijau yang diburu di per...
Organisasi Renang Dunia Membatasi Partisipasi Transpuan dalam Kompetisi Renang
Selasa, 21 Juni 2022 - 15:13 WIB
Badan renang dunia, FINA, telah memutuskan untuk membatasi partisipasi atlet transpuan dalam kompe...
Sambal Terasi Kian Populer di Kota Darwin Australia, Para Pembuatnya Rahasiakan Resep Mereka
Selasa, 21 Juni 2022 - 15:13 WIB
Menyusuri jalan ke daerah Wulagi di luar kota Darwin, Australia, bau asing yang menyegat mulai terci...
Marak, Predator Seks Berpura-pura Menjadi Perempuan untuk Jebak Laki-laki Remaja
Selasa, 21 Juni 2022 - 15:13 WIB
Polisi Federal Australia mengatakan pelaku kejahatan seksual mencari sasaran remaja putra di Austral...
Harga Selada Meroket di Australia? Ternyata Harga Kebutuhan Pokok di Negara Lain Juga Meningkat Tajam
Selasa, 21 Juni 2022 - 15:13 WIB
Di Australia harga selada menjadi bahan perbincangan, karena naik tajam. Namun ternyata di negara-...
Indonesia Akan Ekspor Ayam ke Singapura untuk Mengisi Kekurangan Pasokan di Sana
Selasa, 21 Juni 2022 - 15:13 WIB
Pemerintah Indonesia berharap bisa mencapai kesepakatan dengan Singapura untuk mulai mengekspor ayam...
Korban Penipuan Online Banking di Australia Bertambah, Tabungan Rp300 Juta Terkuras dalam Dua Menit
Selasa, 21 Juni 2022 - 15:13 WIB
Selama 25 tahun, Helen Cahill mengurus pembukuan perusahaannya di Melbourne, Australia, dia tidak p...
InfodariAnda (IdA)