Jadi Pertanyaan, Akankah Pencabutan UU Agraria India Tenangkan Petani?
Elshinta
Kamis, 25 November 2021 - 12:46 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Jadi Pertanyaan, Akankah Pencabutan UU Agraria India Tenangkan Petani?
VOA Indonesia - Jadi Pertanyaan, Akankah Pencabutan UU Agraria India Tenangkan Petani?
Kegembiraan di tempat-tempat protes di dekat Ibu Kota India, New Delhi, menandai kemenangan yang diraih petani dari wilayah utara, dengan keputusan PM Narendra Modi baru-baru ini untuk mencabut tiga UU Pertanian yang kontroversial. Ini adalah perjuangan yang dimenangkan dengan susah payah oleh para petani yang berkemah dan memasak di tepi jalan raya selama satu tahun, dengan melewati musim dingin yang keras, musim panas dan pandemi. Protes terbesar selama tujuh tahun pemerintahan Modi ini bermula dari kekhawatiran di kalangan petani bahwa reformasi propasar yang diloloskan tahun lalu mengancam lahan dan mata pencaharian mereka. “Kebenaran selalu menang. Perjuangan kami adalah untuk tujuan yang adil, kami memperjuangkan hak-hak kami,” kata Sajjan Singh, petani dari Punjab. “Ini adalah protes yang kuat namun damai. Ini adalah kemenangan bangsa, kemenangan petani.” Suasana menyambut keputusan itu penuh optimisme tetapi muram. Pengumuman mendadak mengenai pencabutan UU pada hari Jumat oleh Modi, pemimpin berpengaruh yang terkenal dengan reputasi jarang mundur, mengejutkan banyak orang. Para petani mengatakan ketekunan, kesabaran dan keteguhan tekad memperjuangkan tuntutan mereka telah terbayar dalam konfrontasi dengan salah satu pemerintah terkuat India, yang menurut para kritikus tidak menerima perbedaan pendapat.  “Ini pertama kalinya pemerintah tunduk pada tuntutan pengunjuk rasa. Kalau tidak, mereka selalu diusir oleh polisi,” kata Jarnail Singh, seorang petani tua. “Tetapi kami dari komunitas Sikh siap mati untuk tujuan kami.” Protes ini pada awalnya dipimpin oleh para petani Sikh dari Punjab, tetapi tidak lama kemudian petani dari negara bagian Haryana dan Uttar Pradesh bergabung dalam protes itu.  Meskipun kemarahan yang menyebabkan protes itu telah diatasi, para petani belum siap untuk membongkar gubuk-gubuk bambu di tempat protes atau kembali ke desa mereka Setelah menikmati kemenangan itu, mereka kini mengajukan tuntutan lainnya – komitmen hukum untuk membeli semua produksi pertanian dengan harga yang terjamin. Sistem ini lazim terutama untuk beras dan gandum di dua negara bagian di utara, di mana sebagian besar pengunjuk rasa berasal. “Para petani dari berbagai penjuru negara ini telah memberi dukungan bagi protes kami. Sekarang kami harus memastikan semua orang mendapatkan harga yang terjamin untuk hasil panen mereka,” kata Harjinder Singh, seorang petani tua dari Punjab yang bertahan di lokasi protes sejak November lalu. Meskipun ia ingin pulang, ia dan para petani lainnya bersiap untuk melanjutkan perjuangan mereka. Setelah rapat umum massal di Uttar Pradesh pada hari Senin lalu, para tokoh petani mengatakan dalam sepucuk surat yang ditujukan kepada perdana menteri bahwa “harga minimum yang didasarkan pada biaya produksi komprehensif harus  dijadikan hak sah bagi semua petani.” [uh/ab]  
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
AS Desak Mantan Sandera di Iran Batalkan Mogok Makan
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:58 WIB
Pemerintah Biden mendesak seorang warga Amerika mantan sandera di Iran yang berusia 77 tahun untuk m...
PBB: Terdapat “Upaya Nyata” untuk Perdamaian di Ethiopia
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:58 WIB
Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan ia senang mendengar bahwa “kini terdapat upaya nyata untuk ...
Biden: Terlalu Dini Buat Komitmen Untuk Naikan Tarif AS atas Barang-Barang China
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:58 WIB
Presiden Amerika Joe Biden pada Rabu (19/1) mengatakan terlalu dini untuk membuat komitmen menaikkan...
China Peringatkan Kapal Perang AS di Laut China Selatan
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:58 WIB
Pasukan China mengikuti dan memperingatkan agar tidak mendekat sebuah kapal perang AS yang memasuki ...
Menlu AS Peringatkan Tindakan Terhadap Rusia Jika Moskow Serang Ukraina
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:58 WIB
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berada di Berlin untuk berkonsultasi dengan sekutu-sekutu pent...
Pengadilan Pakistan Hukum Mati Seorang Perempuan Karena Penistaan Agama
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:58 WIB
Pengadilan Pakistan menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang perempuan Muslim setelah dinyatakan be...
CIA: ‘Sindrom Havana’ Bukan Kampanye Kekuatan Asing
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:58 WIB
Badan Intelijen Pusat  AS (CIA) telah menyimpulkan bahwa para diplomat AS yang menderita mual dan s...
Polisi Inggris Tangkap 2 Pria Terkait Penyanderaan di Sinagoge Texas
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:58 WIB
Polisi Inggris mengatakan mereka telah menangkap dua orang sehubungan dengan penyanderaan di sebuah ...
Laporan Pelecehan Seksual di Keuskupan Utama Jerman akan Dirilis
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:58 WIB
Sebuah laporan yang telah lama ditunggu-tunggu tentang penanganan Gereja Katolik atas kasus-kasus pe...
Israel Berharap PBB dengan Suara Bulat Kutuk Penyangkalan Holokos
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:58 WIB
Israel berharap Majelis Umum PBB dengan suara bulat akan mengadopsi resolusi yang menolak dan mengut...
InfodariAnda (IdA)