Kami Tak Ingin Menyewa Seumur Hidup: Rumah di Australia Semakin Mahal
Elshinta
Rabu, 24 November 2021 - 12:56 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kami Tak Ingin Menyewa Seumur Hidup: Rumah di Australia Semakin Mahal
ABC.net.au - Kami Tak Ingin Menyewa Seumur Hidup: Rumah di Australia Semakin Mahal

Bila Australia membuka kembali perbatasan untuk masuknya migran, harga rumah yang saat ini sudah tinggi akan semakin mahal.

Meskipun migrasi bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi harga rumah, tapi hal ini menambah permintaan rumah yang sudah tinggi.

Para ekonom mengatakan perlu satu rumah tambahan untuk setiap tiga orang migran.

Sebagai gambaran, harga rata-rata rumah di  Sydney sudah mencapai lebih dari Rp10 miliar, menurut data keluaran CoreLogic Data pada Agustus lalu, sementara di Melbourne hampr mendekati Rp8 miliar.

Seorang migran asal Singapura, Poornima Balasubramanian, pindah Melbourne bersama suaminya Harish dan putrinya Adwitiya empat tahun lalu.

Dia datang dengan visa pelajar tapi sekarang bekerja sebagai guru taman kanak-kanak.

Poornima dalam tahap akhir untuk menjadi penduduk tetap dan ingin segera punya rumah sendiri.

Tapi membeli rumah di daerah Glen Waverley, di pinggir Kota Melbourne, ternyata sangat rumit baginya.

"Saya merasa prosesnya membuat kita frustrasi," katanya kepada ABC.

"Saya sudah hampir putus asa. Tapi saya harus mencari solusi karena kami tidak ingin menyewa seumur hidup," katanya.

Sementara migran lainnya di Sydney, Sid Lal, mengaku sudah melihat-lihat ratusan rumah yang dijual tapi hingga sekarang belum mampu menemukan rumah impiannya.

"Kami harus menaikkan batas harga yang kami inginkan karena harga yang tersedia tahun lalu kini sudah naik lagi," katanya.

Seperti kebanyakan migran yang datang ke Australia, baik untuk bekerja atau belajar, Sid sudah menyewa selama empat tahun. Sekarang dia ingin membeli rumah sendiri.

"Kami sangat menyadari bahwa migrasi akan dibuka kembali," katanya.

"Dengan masuknya gelombang migran baru, tentu saja ada gelombang uang baru, dan harga properti mungkin naik lagi," tambahnya.

Mayoritas tetap ingin tinggal di kota

Jika jumlah migran tahunan Australia meningkat, melampaui perkiraan APBN yang mencapai 250.000 orang pada tahun 2023, prediksi penurunan harga rumah justru akan berbalik.

"

"Jika migrasi masuk kembali dengan cepat, akan terjadi kenaikan yang tinggi pada harga sewa dan pada harga rumah," jelas ekonom AMP Dr Shane Oliver.

"

Dr Shane menjelaskan kondisi ini akan tergantung pada seberapa tinggi penerimaan migrasi tahunan, serta variabel lain seperti suku bunga dan kemungkinan pengetatan pinjaman.

Tapi jika skenario 250.000 migran pada tahun 2023 terjadi, menurut dia, harga rumah akan melonjak 5 persen pada tahun 2023 dan harga sewa naik 7 persen.

Para ekonom dan industri properti telah meminta Pemerintah Australia untuk meningkatkan pasokan perumahan demi memenuhi permintaan yang terus meningkat.

Ekonom BIS Oxford Economics Dr Sarah Hunter menjelaskan meski selama pandemi banyak warga yang pindah ke wilayah regional, namun permintaan rumah di wilayah perkotaan seperti Melbourne dan Sydney tetap tinggi.

Dia khawatir begitu para migran kembali, permintaan rumah di perkotaan akan naik kembali.

Pemerintah Australia saat ini sedang mempertimbangkan untuk membangun lebih banyak perumahan dengan proses yang lebih dipercepat.

Salah satu cara untuk menjaga harga rumah tetap terjangkau, yaitu membangun lebih banyak properti, tapi bank sentral RBA mengatakan langkah ini bukan obat mujarab.

Dr Sarah mengatakan bahwa di balik pertumbuhan populasi, biaya sewa akan meningkat pada tahun 2023, dan hal itu akan mendorong kenaikan harga rumah.

Membangun rumah di wilayah yang diinginkan 

Kelompok pengembang properti mendukung seruan untuk meningkatkan jumlah migran yang akan masuk ke Australia.

Direktur Urban Taskforce Tom Forrest menjelaskan, para migran akan membantu pemulihan ekonomi Australia pasca-COVID.

Namun kebijakan ini, katanya, perlu didukung oleh perubahan sistem perencanaan pembangunan perumahan.

Ia mengatakan stimulus utama bagi pertumbuhan ekonomi adalah melalui peningkatan migrasi.

"Perlu sistem perencanaan yang memberikan persetujuan lebih banyak ke sektor swasta untuk membangun rumah," kata Tom Forrest.

Dr Shane Oliver sependapat.

"Untuk mengatasi masalah keterjangkauan harga rumah, kita membutuhkan lebih banyak pasokan," katanya.

Poornima berharap Pemerintah Australia mendukung setiap langkah yang akan membuat sektor perumahan lebih terjangkau.

"Menerima migran tentunya akan membantu dalam banyak hal, mulai dari perekonomian hingga universitas, yang merupakan salah satu sumber pendapatan utama di Victoria," katanya.

Tapi dia mengaku sangat khawatir dengan semakin besarnya kompetisi untuk mendapatkan rumah.

"Kami tidak tahu dari mana kami bisa mendapatkan dana untuk membeli rumah baru," katanya.

Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC News.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Restoran Indonesia di Australia Terkena Dampak Kekurangan Pekerja Saat Pandemi
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Sejumlah pemilik restoran di Australia melaporkan persaingan dalam mencari pekerja di tengah mening...
Menteri Imigrasi Australia Memutuskan Untuk Batalkan Visa Novak Djokovic
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Menteri Imigrasi Australia, Alex Hawke menggunakan kuasanya untuk membatalkan visa Novak Djokovic...
Vonis 15 Tahun Penjara Untuk Zulkarnaen, Mantan Komandan Militer Jemaah Islamiyah
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Aris Sumarsono, dikenal sebagai Zulkarnaen, dinyatakan bersalah membantu dan bersekongkol dengan pe...
Daging Ayam Sedang Sulit Ditemukan di Australia? Ini Alasannya
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Daging ayam adalah sumber protein yang paling populer di Australia, tapi mungkin masih akan jarang d...
Australia Menyetujui Penggunaan Vaksin Novavax Serta Obat COVID
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Lembaga regulasi obat-obatan di Australia telah menyetujui vaksin Novavax, juga dua obat yang bisa ...
Terbang dari Jambi ke Kolombia, Pilot Perempuan Ini Pecahkan Rekor Dunia
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Zara Rutherford, perempuan berdarah Inggris dan Belgia, memecahkan rekor menjadi perempuan termuda d...
Djokovic Sudah Meninggalkan Australia, Kecewa Tapi Hormati Keputusan
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Novak Djokovic, petenis nomor satu dunia, sudah meninggalkan Australia kemarin malam (16/01) setel...
Perempuan di China Ini Terjebak dalam Kencan Buta Saat Lockdown Diumumkan
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Begitu 'lockdown' mendadak diumumkan di kota Zengzhou, Wang terjebak di apartemen milik s...
Bagaimana Gunung di Tonga Meletus dan Menyebabkan Ada Peringatan Tsunami
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Seberapa besar kerusakan akibat gunung berapi di Tonga masih belum diketahui secara pasti, tapi mel...
Negara-negara Miskin Membuang Jutaan Vaksin COVID karena Hampir Kedaluwarsa
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
UNICEF, salah satu badan PBB, melaporkan negara-negara miskin menolak lebih dari 100 juta dosis va...
InfodariAnda (IdA)