Seluruh Anggota Keluarga Hilda Meninggal Akibat COVID. Ia Mencoba Menguatkan Diri
Elshinta
Rabu, 24 November 2021 - 12:56 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Seluruh Anggota Keluarga Hilda Meninggal Akibat COVID. Ia Mencoba Menguatkan Diri
ABC.net.au - Seluruh Anggota Keluarga Hilda Meninggal Akibat COVID. Ia Mencoba Menguatkan Diri

Hilda Sofion, seorang perempuan di Jakarta kehilangan tiga anggota keluarganya, yakni Kadri, ayahnya yang berusia 79 tahun; Lina, ibunya yang berusia 74 tahun; serta Abrams, adiknya yang berusia 41 tahun.

Ketiganya meninggal dalam waktu yang berdekatan pada bulan Februari 2021.

"Papi di bulan Januari terkena serangan jantung dan meninggal tanggal 5 Februari," kata Hilda kepada wartawan ABC Sastra Wijaya.

"Mami meninggal 15 Februari dan adik saya Abrams menyusul mereka tanggal 20 Februari," ujarnya, yang juga menceritakan ibu dan adiknya sebelum meninggal dinyatakan positif tertular COVID-19.

Hilda yang bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan jaringan supermarket besar di Indonesia tersebut mengatakan ia hanya bisa menabahkan diri untuk menerima keadaan.

"Setiap hari saya masih mengingat mereka, namun hidup berjalan terus. Ada banyak hal yang harus saya urusin setelah mereka meninggal."

"Kadang sepulang kerja saat menyetir saya menangis ketika mengingat mereka, namun kemudian saya mencoba menguatkan diri sendiri," kata Hilda yang masih melajang.

Tak lagi memiliki keluarga inti, Hilda mengaku mendapat bantuan dari kalangan gereja di dekat rumahnya untuk membantunya secara spiritual.

"

"Saya mendapat bimbingan dan dukungan dari suster dan pastor di gereja saya. Dari mana saya belajar untuk tenang dan berusaha bangkit dari kesedihan untuk mengurus berbagai hal yang perlu diurus karena kepergian mereka yang mendadak," kata Hilda.

"

Berdampak pada kejiwaan

Di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Syukron Aziz kehilangan ayahnya yang bernama Ridwan.

Ayahnya yang bekerja sebagai pegawai PDAM meninggal di pertengahan Juli karena COVID-19.

"Kami tidak tahu dari mana dia mendapatkan virus, karena tidak ada orang-orang di sekitar kami yang terkena," ujar pria berusia 26 tahun tersebut.

"Dalam rentang seminggu bapak meninggal," kata Syukron kepada ABC Indonesia.

Syukron mengaku kepergian ayahnya yang dirasakannya mendadak sangat berpengaruh pada ibunya.

"Waktu bapak meninggal ibu saya berteriak-teriak dan kemudian sering kali melamun."

"Ibu kemudian harus dibawa ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan perawatan dan setelah diberi obat sekarang sudah mendingan," kata Syukron, yang bekerja sebagai guru sebuah sekolah madrasah.

Ia mengatakan saat ini kondisi ibunya sudah normal, tapi tidak bisa lepas dari obat yang diberikan oleh pihak rumah sakit.

"Itu yang jadi kehawatiran kami, bergantung dengan obat," kata Syukron.

Syukron juga sangat berharap mendapat bantuan dari pemerintah dan mengatakan sejauh ini belum mendapat kabar apa pun.

"Setelah bapak meninggal, dari kelurahan ada permintaan mengisi formulir dari Dinas Sosial. Namun sampai sekarang tidak ada yang menghubungi kami."

"

"Masalah seperti kejiwaan ibu saya itu yang membuat kami khawatir dan merasa kami memerlukan bantuan dalam soal ini."

"

Kecemasan banyak ditemukan

Saat ini terdapat sejumlah permintaan konsultasi psikologi dari mereka yang anggota keluarga meninggal akibat COVID atau bahkan dari pasien COVID-19.

Seperti yang diceritakan Lya Fahmi, seorang psikolog klinis di salah satu puskesmas di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Di bulan Juni 2020, saya mulai intens melayani konseling online melalui aplikasi WhatsApp bagi masyarakat di wilayah kerja puskesmas yang sedang isolasi mandiri karena terpapar Covid-19," katanya kepada ABC.

"

"Kecemasan adalah isu utama yang dihadapi oleh pasien-pasien COVID-19 yang sedang menjalani isolasi mandiri," katanya.

"

"Isu-isu psikologis pasien tidak lagi sebatas kecemasan terkait kesehatan diri dan keluarga, tapi meluas pada isu kesedihan ditinggal mati, kecemasan finansial, dan rasa tidak nyaman antara anggota masyarakat.

Lya juga pernah terlibat sebagai petugas pelacak ketika kasus COVID sedang tinggi di bulan Juli lalu, tapi terus melakukan layanan konseling.

Ia menceritakan saat itu hampir seluruh dusun di wilayah kerja puskesmasnya masuk dalam zona merah dan ketika melakukan pelacakan dia melihat banyak warga yang saling curiga satu sama lain.

"Ada kemarahan dan rasa tidak suka pada anggota masyarakat lain yang dinilai tidak peduli dengan pandemi sehingga tidak mau melakukan penyesuaian perilaku."

"Di samping itu, masyarakat juga cenderung merasa tidak aman dan sensitif terhadap cara pandang lingkungannya setelah mereka terpapar Covid-19," ujarnya.

Saat ini kasus COVID di Indonesia dilaporkan mengalami penurunan. Tapi belajar dari negara-negara lain, seperti di Eropa, wabah baru bisa saja terjadi apalagi saat tingkat vaksinasi belum tinggi.

Tapi menurut Lya masyarakat di daerahnya seharusnya sudah lebih siap dan lebih baik jika ada wabah baru, setelah belajar dari gelombang COVID kedua sepanjang bulan Juni hingga Juli lalu.

"

"Yogyakarta kan sudah berpengalaman dengan gelombang kedua. Baru-baru ini ada kluster di Sedayu yang melebar ke 3 kabupaten lainnya," ujarnya.

"

"Respon Sleman menurutku sudah bagus ya, mereka tidak toleran dengan kasus asimtomatik. Pokoknya kalau ada kasus positif, bahkan gejala ringan atau tanpa gejala harus isolasi di penampungan tidak boleh di rumah," katanya.                                                         

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Restoran Indonesia di Australia Terkena Dampak Kekurangan Pekerja Saat Pandemi
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Sejumlah pemilik restoran di Australia melaporkan persaingan dalam mencari pekerja di tengah mening...
Menteri Imigrasi Australia Memutuskan Untuk Batalkan Visa Novak Djokovic
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Menteri Imigrasi Australia, Alex Hawke menggunakan kuasanya untuk membatalkan visa Novak Djokovic...
Vonis 15 Tahun Penjara Untuk Zulkarnaen, Mantan Komandan Militer Jemaah Islamiyah
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Aris Sumarsono, dikenal sebagai Zulkarnaen, dinyatakan bersalah membantu dan bersekongkol dengan pe...
Daging Ayam Sedang Sulit Ditemukan di Australia? Ini Alasannya
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Daging ayam adalah sumber protein yang paling populer di Australia, tapi mungkin masih akan jarang d...
Australia Menyetujui Penggunaan Vaksin Novavax Serta Obat COVID
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Lembaga regulasi obat-obatan di Australia telah menyetujui vaksin Novavax, juga dua obat yang bisa ...
Terbang dari Jambi ke Kolombia, Pilot Perempuan Ini Pecahkan Rekor Dunia
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Zara Rutherford, perempuan berdarah Inggris dan Belgia, memecahkan rekor menjadi perempuan termuda d...
Djokovic Sudah Meninggalkan Australia, Kecewa Tapi Hormati Keputusan
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Novak Djokovic, petenis nomor satu dunia, sudah meninggalkan Australia kemarin malam (16/01) setel...
Perempuan di China Ini Terjebak dalam Kencan Buta Saat Lockdown Diumumkan
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Begitu 'lockdown' mendadak diumumkan di kota Zengzhou, Wang terjebak di apartemen milik s...
Bagaimana Gunung di Tonga Meletus dan Menyebabkan Ada Peringatan Tsunami
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Seberapa besar kerusakan akibat gunung berapi di Tonga masih belum diketahui secara pasti, tapi mel...
Negara-negara Miskin Membuang Jutaan Vaksin COVID karena Hampir Kedaluwarsa
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
UNICEF, salah satu badan PBB, melaporkan negara-negara miskin menolak lebih dari 100 juta dosis va...
InfodariAnda (IdA)