Pelajar Internasional yang Sudah Divaksinasi Penuh Akan Mulai Datang ke Australia
Elshinta
Rabu, 24 November 2021 - 12:56 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Pelajar Internasional yang Sudah Divaksinasi Penuh Akan Mulai Datang ke Australia
ABC.net.au - Pelajar Internasional yang Sudah Divaksinasi Penuh Akan Mulai Datang ke Australia

Mahasiswa internasional yang sudah divaksinasi dua dosis, pemegang visa lainnya, seperti visa kerja, serta turis dari Korea Selatan dan Jepang akan boleh datang ke Australia mulai 1 Desember.

Dalam pengumuman yang disampaikan hari Senin (21/11), Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan mereka yang sudah memiliki visa akan bisa masuk kembali ke Australia mulai 1 Desember tanpa mengajukan permohonan izin khusus.

"Kembalinya pekerja terampil dan mahasiswa ke Australia merupakan langkah penting dalam rangka pemulihan kembali dan apa yang bisa kita lakukan di Australia," kata PM Morrison.

Mereka yang memegang visa lainnya, seperti visa kerja, pencari suaka, dan pemegang visa bekerja sambil berlibur atau 'working holiday visa' (WHV) juga sudah boleh masuk ke Australia.

Menteri Dalam Negeri Australia, Karen Andrews mengatakan diterimanya kembali warga dari kedua negara tersebut akan membantu pemulihan sektor pariwisata.

"Perubahan ini penting sekali bagi Australia di saat kita mulai memasuki fase pembukaan kembali," katanya.

Lebih dari 200 ribu pelajar internasional, pekerja migran terampil, dan pencari suaka diperkirakan akan kembali ke Australia pada bulan Desember dan Januari mendatang.

"

"Kami akan menerima sekitar 200 ribu orang, mungkin saja akan lebih dari itu, namun kami secara aktif akan mendatangkan sebanyak mungkin orang ke Australia dalam waktu secepat mungkin," ujarnya.

"

Jumlah migran yang masuk ke Australia dalam dua tahun terakhir menurun tajam sejak perbatasan internasional Australia ditutup di bulan Maret 2020 akibat pandemi. Hanya mereka yang berstatus warga negara dan penduduk tetap (PR) yang boleh masuk.

Akibatnya banyak usaha dan pebisnis yang mengaku kekurangan tenaga kerja, termasuk proyek-proyek infrastruktur besar yang berisiko terhenti.

Saat ini kuota tahunan bagi migran di Autralia adalah 79.600 orang untuk kategori visa tenaga terampil, 13.750 orang untuk program kemanusiaan, seperti pencari suaka, namun tak ada batasan untuk jumlah mahasiswa asing.

Mahasiswa internasional kembali ke kampus

Pelajar internasional yang sudah divaksinasi dan memiliki visa yang berlaku tidak perlu lagi meminta izin pengecualian untuk masuk ke Australia nantinya.

Namun kedatangan mereka di negara bagian tertentu masih tergantung pada kebijakan karantina masing-masing pemerintah negara bagian.

Menteri Keuangan Simon Birmingham mengatakan mahasiswa internasional akan bisa kembali belajar di kampus secara tatap muka mulai tahun depan.

"Kami mendukung mereka untuk mulai membuat perencanaan untuk bisa kembali ke Australia demi menggairahkan kembali universitas dan juga sektor perekonomian yang mendapatkan manfaat dari kehadian mereka selama ini," ujarnya.

"Berkenaan dengan kembalinya warga negara Australia dan pemegang visa PR, dua negara bagian Victoria dan New South Wales sudah memainkan peran utama dalam membuka perbatasan internasional mereka," katanya.

Sementara itu Bendahara Negara Australia, Josh Frydenberg mengatakan kepada Sky News bahwa semakin banyak migran yang masuk ke Australia maka akan mempercepat pemulihan ekonomi yang terdampak pandemi COVID-19.

"Baik pekerja terampil dan mahasiswa internasional memainkan peran penting dalam perekonomian kita," katanya.

"

"Mahasiswa internasional menyumbangkan sekitar Rp40 triliun ke dalam perekonomian," tambahnya.

"

"Kami tahu adanya kekurangan tenaga kerja saat ini dan pekerja terampil akan bisa memainkan peran penting dalam mengisi kekurangan tersebut."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Restoran Indonesia di Australia Terkena Dampak Kekurangan Pekerja Saat Pandemi
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Sejumlah pemilik restoran di Australia melaporkan persaingan dalam mencari pekerja di tengah mening...
Menteri Imigrasi Australia Memutuskan Untuk Batalkan Visa Novak Djokovic
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Menteri Imigrasi Australia, Alex Hawke menggunakan kuasanya untuk membatalkan visa Novak Djokovic...
Vonis 15 Tahun Penjara Untuk Zulkarnaen, Mantan Komandan Militer Jemaah Islamiyah
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Aris Sumarsono, dikenal sebagai Zulkarnaen, dinyatakan bersalah membantu dan bersekongkol dengan pe...
Daging Ayam Sedang Sulit Ditemukan di Australia? Ini Alasannya
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Daging ayam adalah sumber protein yang paling populer di Australia, tapi mungkin masih akan jarang d...
Australia Menyetujui Penggunaan Vaksin Novavax Serta Obat COVID
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Lembaga regulasi obat-obatan di Australia telah menyetujui vaksin Novavax, juga dua obat yang bisa ...
Terbang dari Jambi ke Kolombia, Pilot Perempuan Ini Pecahkan Rekor Dunia
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB
Zara Rutherford, perempuan berdarah Inggris dan Belgia, memecahkan rekor menjadi perempuan termuda d...
Djokovic Sudah Meninggalkan Australia, Kecewa Tapi Hormati Keputusan
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Novak Djokovic, petenis nomor satu dunia, sudah meninggalkan Australia kemarin malam (16/01) setel...
Perempuan di China Ini Terjebak dalam Kencan Buta Saat Lockdown Diumumkan
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Begitu 'lockdown' mendadak diumumkan di kota Zengzhou, Wang terjebak di apartemen milik s...
Bagaimana Gunung di Tonga Meletus dan Menyebabkan Ada Peringatan Tsunami
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Seberapa besar kerusakan akibat gunung berapi di Tonga masih belum diketahui secara pasti, tapi mel...
Negara-negara Miskin Membuang Jutaan Vaksin COVID karena Hampir Kedaluwarsa
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
UNICEF, salah satu badan PBB, melaporkan negara-negara miskin menolak lebih dari 100 juta dosis va...
InfodariAnda (IdA)