Sejumlah Cara Untuk Mencegah Gelombang Keempat COVID-19 Seperti di Eropa
Elshinta
Rabu, 24 November 2021 - 12:56 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Sejumlah Cara Untuk Mencegah Gelombang Keempat COVID-19 Seperti di Eropa
ABC.net.au - Sejumlah Cara Untuk Mencegah Gelombang Keempat COVID-19 Seperti di Eropa

Eropa kini tengah menghadapi gelombang keempat COVID. Wajar jika kita bertanya apakah negara lain akan dihadapkan pada nasib yang sama.

Ada beberapa faktor yang akan menjadi penentu: tingkat vaksinasi, sebaran vaksinasi 'booster' atau dosis ketiga yang tinggi, vaksinasi pada anak-anak dan apakah strategi ventilasi yang komprehensi, serta pemakaian masker, testing dan pelacakan masih diterapkan atau tidak.

Pemodelan yang dikeluarkan lembaga OzSAGE NSW di Australia menunjukkan kemungkinan Australia mengalami lonjakan kasus mulai pertengahan Desember dengan puncak yang diprediksi pada Februari 2022, meski tingkat vaksinasi tinggi.

OzSAGE memperingatkan jika pelacakan kontak tidak dipertahankan dan anak-anak berusia 5 hingga 11 tahun tetap tidak divaksinasi, rumah sakit mungkin akan kewalahan lagi.

Tetapi jika kita anak-anak divaksinasi sambil terus mempertahankan jumlah testing dan pelacakan yang tinggi, hasil akhirnya juga akan bagus.

Seandainya Delta tidak ada...

Seandainya virus yang mendominasi penularan saat ini masih adalah jenis virus pertama di tahun 2020, jumlah kasus COVID-19 pastinya sudah terkendali dengan baik di negara-negara yang lebih dari 70 persen populasinya sudah divaksinasi.

Sayangnya, begitu vaksin tersedia, varian baru juga mulai muncul.

Varian Delta yang dominan saat ini lebih berbahaya karena jauh lebih menular dan berpotensi membobol perlindungan vaksin.

Ini berarti tingkat vaksinasi haruslah sangat tinggi, yakni lebih dari 90 persen dari semua orang sudah divaksinasi, termasuk anak-anak usia 5-11 tahun, untuk bisa mengendalikan virus.

Selain itu, kita perlu mulai memikirkan ulang definisi "vaksinasi lengkap" menjadi tiga kali lipat, bukan dua kali lipat.

'Booster' adalah kunci

Dosis ketiga vaksin COVID yang tidak merata di Eropa mungkin menjadi penyebab lonjakan kasus COVID yang di sana.

Jerman, misalnya, bulan Oktober lalu mendorong diberikannya 'booster' untuk orang berusia 70 tahun ke atas dan beberapa kelompok rentan.

Pada 18 November, negara tersebut baru mengubah perizinan 'booster' bagi warga berusia 18 tahun ke atas sebagai reaksi atas lonjakan jumlah kasus COVID.

Prancis juga lambat dan terlalu membatasi dalam menyediakan 'booster' untuk orang dewasa.

Mulai Desember ini, warga berusia di atas 50 tahun yang memenuhi syarat baru mulai mendapatkannya.

Irlandia juga baru hanya menyetujui 'booster' untuk orang berusia 60 tahun ke atas pada akhir Oktober lalu.

Bukti yang ada jelas menunjukkan dosis ketiga diperlukan. Jadi, dengan tingkat vaksinasi yang masih kurang, tepatnya di angka 64 persen di Austria hingga 76 persen di Denmark, pemberian 'booster' yang lambat dan terbatas, ditambah pengabaian protokol kesehatan lain, seperti pemakaian masker, menyebabkan banyak negara Eropa rentan.

Austria, yang memiliki salah satu tingkat vaksinasi terendah, mencatat jumlah kasus tertinggi COVID, serta menjadi negara Eropa pertama yang mewajibkan vaksin.

Gelombang keempat juga didorong oleh penularan COVID pada anak-anak.

Uni Eropa lambat dalam mengeluarkan izin vaksin untuk anak-anak, mendorong Austria untuk mulai memvaksinasi anak-anak tanpa persetujuan Uni Eropa.

Gelombang keempat terjadi setelah beberapa protokol kesehatan, seperti penggunaan masker, kapasitas ruangan, testing dan pelacakan, yang dilonggarkan ditambah kegagalan menjaga sirkulasi udara di ruangan.

Yang terjadi di beberapa negara sudah menjadi bukti. Denmark, misalnya, yang menghentikan semua pembatasan, termasuk aturan pemakaian masker pada bulan September.

Sekarang Denmark menghadapi lonjakan kasus besar meskipun tingkat vaksinasinya relatif tinggi.

Kemungkinan terjadinya gelombang keempat juga tergantung pada aspek epidemiologi SARS-CoV-2. Ada kemungkinan besar varian baru nantinya muncul dan lebih menantang, entah karena lebih cepat menular atau lebih tahan terhadap vaksin.

Namun di saat yang sama, kita telah melihat kemajuan dahsyat dalam bidang ilmu pengetahuan, dengan vaksin diproduksi dalam waktu kurang dari setahun.

Ada banyak lagi vaksin generasi kedua dan 'booster' yang berkualitas baik, dan obat anti-virus baru yang menjanjikan untuk pengobatan dini. Sehingga kemampuan kita untuk melawan virus ini akan terus bertambah.

Bagaimana dengan negara lainnya?

Jadi apakah negara lainnya juga akan menghadapi gelombang keempat? Kemungkinan ya, karena SARS-CoV-2 adalah infeksi epidemi.

Infeksi tersebut akan menyebabkan naik-turunnya infeksi, seperti yang terjadi dengan cacar selama beribu-ribu tahun, atau pun campak.

Namun, mungkin juga kita bisa menghilangkan COVID-19 seperti kita menghilangkan campak, sehingga hanya mengalami penularan dalam jumlah kecil.

Jika kita berhasil, wabah mungkin masih terjadi – tetapi tidak akan sampai berkelanjutan atau tidak terkendali.

Inilah yang dapat dipelajari dari Eropa dan negara-negara lain:

  • pertama, kita perlu menargetkan setidaknya 90 persen dari seluruh populasi untuk divaksinasi, yang harus dilakukan secara adil untuk semua negara bagian,  daerah terpencil dan regional dan untuk semua sub-kelompok termasuk anak-anak
  • kita harus gesit dan responsif bila melihat upaya yang terbukti berhasil, termasuk kebutuhan akan 'booster'. Jika vaksin baru atau booster yang cocok dapat meningkatkan perlindungan terhadap Delta, kita harus segera menjadikannya solusi
  • pusat penitipan anak dan sekolah menjadi garda terdepan baru COVID. Kita harus memastikan ruangan memiliki sirkulasi yang baik, disiplin pemakaian masker, dan vaksinasi yang cukup untuk anak pada saat siswa kembali dari liburan musim panas pada tahun 2022
  • vaksin saja tidak cukup, jadi jangan seperti Denmark dan mulai meremehkan. Kita perlu mengamankan sirkulasi udara dalam ruangan dan memiliki strategi tambahan vaksin 

Jika kita sadar betul COVID dapat menular melalui udara dan mengambil langkah efektif untuk mencegah virus ini, kita dapat mengalahkannya.

Tetapi untuk bisa melakukannya, butuh strategi ventilasi yang berlapis dan komprehensif, tindakan vaksin ekstra, dan kemampuan untuk bergerak cepat ketika muncul bukti.

Tapi hingga saat ini kita harus gencar menjalankan strategi COVID dan memiliki ventilasi yang baik, penggunaan masker, dan tindakan lainnya untuk menghindari gelombang keempat.

Artikel ini dimuat pertama kali di The Conversation dan diproduksi dalam bahasa Indonesia oleh Natasya Salim dari tulisannya dalam bahasa Inggris

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Djokovic Sudah Meninggalkan Australia, Kecewa Tapi Hormati Keputusan
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Novak Djokovic, petenis nomor satu dunia, sudah meninggalkan Australia kemarin malam (16/01) setel...
Perempuan di China Ini Terjebak dalam Kencan Buta Saat Lockdown Diumumkan
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Begitu 'lockdown' mendadak diumumkan di kota Zengzhou, Wang terjebak di apartemen milik s...
Bagaimana Gunung di Tonga Meletus dan Menyebabkan Ada Peringatan Tsunami
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Seberapa besar kerusakan akibat gunung berapi di Tonga masih belum diketahui secara pasti, tapi mel...
Negara-negara Miskin Membuang Jutaan Vaksin COVID karena Hampir Kedaluwarsa
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
UNICEF, salah satu badan PBB, melaporkan negara-negara miskin menolak lebih dari 100 juta dosis va...
Ada Laporan Delegasi Indonesia Kunjungi Israel untuk Belajar Tangani COVID-19
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Army Radio, sebuah stasiun radio milik militer Israel melaporkan delegasi dari Indonesia telah melak...
Usia Harapan Hidup di Australia Meningkat, Salah Satunya Karena Lockdown
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
'Life expectancy' atau usia harapan hidup warga di Australia telah meningkat sejak dimula...
Sistem Kesehatan di Australia Tertekan di Tengah Naiknya Penularan Omicron
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Australia melaporkan 77 kematian akibat COVID-19 pada hari Selasa (18/01), menjadi kematian tertingg...
Memakai Masker Bedah Membuat Orang Terlihat Lebih Menarik, Benarkah?
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Sebuah studi terbaru yang dilakukan para peneliti di Inggris menemukan jika memakai masker bisa memb...
Selfie NFT Asal Indonesia Laku Jutaan Dolar. Seberapa Aman Jualan NFT?
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Pekan lalu, nama Sultan Gustaf Al Ghozali asal Semarang menjadi viral setelah dilaporkan ia mendapat...
Butuh Pekerja, Australia Kembalikan Biaya Pembuatan Visa Pelajar dan WHV
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:41 WIB
Untuk mengatasi masalah kekurangan tenaga kerja, Pemerintah Australia akan mengembalikan biaya pembu...
InfodariAnda (IdA)
Elshinta
CRI