Restoran Indonesia di Australia Terkena Dampak Kekurangan Pekerja Saat Pandemi
Elshinta
Jumat, 21 Januari 2022 - 09:56 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Restoran Indonesia di Australia Terkena Dampak Kekurangan Pekerja Saat Pandemi
ABC.net.au - Restoran Indonesia di Australia Terkena Dampak Kekurangan Pekerja Saat Pandemi

Sejumlah pemilik restoran di Australia melaporkan persaingan dalam mencari pekerja di tengah meningkatnya penularan Omicron.

Mereka bahkan rela membayar upah lebih tinggi agar bisa tetap menjalankan usahanya, sementara restoran lain terpaksa harus tutup untuk pertama kalinya sejak pandemi COVID-19.

Kasus COVID-19 yang terus meningkat membuat banyak pekerja, termasuk di sektor kuliner, jatuh sakit atau harus isolasi mandiri karena pernah menjadi 'close contact' atau kontak erat dengan kasus positif.

Perbatasan Australia yang sempat ditutup menambah masalah karena menyebabkan ribuan pelajar internasional dan pekerja terampil yang biasanya bekerja di restoran belum bisa kembali ke Australia.

Hana Tania, pemilik restoran Ayam Penyet Ria di kawasan South Melbourne, harus ikut bekerja untuk membantu karyawannya.

Sebelum pandemi COVID-19 biasanya ia punya empat sampai lima pegawai dalam satu 'shift'. Tapi karena kesulitan pekerja, kini hanya ada tiga orang yang bekerja, termasuk dirinya.

"

"Kondisi ini jauh lebih parah sih dari lockdown kemarin," ujar Hana.

"

"Sekarang jam buka kita bener-bener tergantung dengan siapa yang available untuk dimasukkan ke jadwal kerja," katanya kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

Hana mengaku harus membuat keputusan harian, apakah restorannya bisa tetap buka, atau mengurangi jam buka, atau sama sekali tutup seharian, jika ada pekerjanya yang sakit atau harus menjalani isolasi setelah menjadi kontak erat.

Kondisi yang sama juga dialami oleh banyak restoran, termasuk salah satu restoran Indonesia yang sudah beroperasi paling lama di Melbourne.

Restoran Nelayan, memutuskan untuk menutup sementara cabangnya di kawasan Hawthorn, meski pelanggannya masih bisa datang ke cabangnya di pusat kota.

Pemiliknya, Samuel Sanusi, mengatakan alasan penutupan sementara itu dikarenakan salah satu juru masaknya harus pulang ke Indonesia dan ia belum mendapat pengganti.

"Dia kan belum bertemu keluarganya di Indonesia sejak kita lockdown, jadi saya harus bijak untuk memperbolehkannya [pulang]," kata Samuel.

Sejak September lalu, ia sudah mencoba mencari penggantinya bukan hanya di Melbourne, tapi juga hingga ke Sydney dan Perth, bahkan di Indonesia.

"Ada beberapa yang melamar dari Indonesia dan saya siap memberikan sponsor [visa kerja], tapi kendalanya adalah di aturan imigrasi."

Ketika Samuel membuka restoran Nelayan hampir 30 tahun lalu, persyaratan mendatangkan juru masak dari Indonesia hanyalah memiliki kemampuan masak. Tapi kini aturan imigrasi Australia mensyaratkan nilai tes Inggris dan banyak pelamar dari Indonesia terkendala mendapatkan nilai minimum.

Perang upah memperebutkan pekerja

Hana mengatakan saat ini banyak restoran yang pegawainya "diambil" oleh restoran lain dengan iming-iming upah lebih tinggi.

"Katakanlah mereka sudah memberi upah sesuai dengan aturan standar gaji, tapi restoran fine dining bisa menawarkan sampai A$35 (sekitar Rp350 ribu) per jam untuk pekerjaan cuci piring," ujarnya.

"Banyak restoran yang akhirnya tidak bisa bersaing dengan mereka."

"Bahkan ada juga restoran yang menawarkan uang tambahan ratusan dolar kepada pekerjanya, jika mereka bisa ajak temannya bekerja."

Augustina Mentari, asal Bekasi akhirnya bisa kembali ke Melbourne sebelum Natal kemarin, setelah hampir dua tahun tidak bisa masuk Australia karena penutupan perbatasan.

Ia mengatakan sudah mendapatkan beberapa tawaran kerja di sektor kuliner sejak di Indonesia, sebelum mengirimkan surat lamaran dan CV.

"Bahkan ada juga pemilik restoran yang langsung menawarkan kerja bukan lagi manajernya, belum pernah terjadi sebelumnya."

"

"Restoran saat ini benar-benar memperebutkan kita."

"

"Bukan cuma dari pengalaman gue, tapi banyak banget teman-teman ditawari gaji lebih bagus dari tempat lain," katanya.

"Bahkan ada juga yang mau keluar dari kerjaannya karena tempat lain menawarkan gaji lebih tinggi, kemudian pemiliknya menaikkan gaji untuk bisa mempertahankannya."

Tapi Augustina mengaku ia tetap tidak mau bekerja dengan jam kerja yang banyak, karena ia pernah sakit COVID-19 saat di Indonesia.

Kekhawatirannya saat ini adalah kontak dengan banyak orang, yang bisa meningkatkan risiko tertular COVID-19.

Upah pekerja yang meroket

Tentunya bukan hanya restoran Indonesia yang mengalami situasi kekurangan pekerja, begitu pula dengan restoran-restoran lainnya, terutama di Sydney dan Melbourne.

Bulan November lalu, Asosiasi Restoran dan Katering Australia sudah memperingatkan kemungkinan kenaikan harga makanan karena kekurangan tenaga kerja, selain juga karena kenaikan harga barang-barang.

Wes Lambert, kepala eksekutif dari asosiasi tersebut mengatakan upah pekerja sektor kuliner saat ini sudah meroket dan jadi tantangan banyak restoran dan pemilik usaha.

"

"Kita mengapresiasi adanya upah yang lebih kompetitif, tapi sayangnya, banyak bisnis yang tidak bisa menangani tekanan upah tinggi dan terpaksa harus menutupnya di saat sedang sepi."

"

Wes juga mengatakan penutupan perbatasan Australia telah membuat Australia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bakat-bakat memasak dari berbagai penjuru dunia.

Menurutnya Pemerintah Australia perlu mengembalikan skema dukungan finansial seperti yang ditawarkan di awal pandemi agar bisa membantu restoran bertahan.

Hana setuju dengan perlu adanya bantuan lebih banyak dari Pemerintah Australia untuk sektor pelayanan kuliner.

"Kita tahu kita mulai hidup dengan virus, tapi ketika semua dibuka kembali [setelah lockdown], siapa yang kerja? Harusnya Pemerintah memikirkannya juga," ujarnya.

Sementara itu, ia berharap konsumen bisa ikut mendukung sektor kuliner di Australia, setidaknya dengan menunjukkan sikap sabar atau memberikan 'review' yang baik di internet.

"Sebelum konsumen memesan makanan, saya selalu tanya mereka keberatan tidak kalau harus menunggu lama lebih dari biasanya, karena kita harus menyelesaikan pemesanan sebelumnya akibat kurang pekerja."

"

"Please be kind dengan sektor layanan kuliner saat ini. Kita berusaha yang terbaik untuk tetap bisa melayani Anda."

"

Laporan ini dirangkum dari artikel dalam bahasa Inggris

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Liburan ke Luar Negeri dan Asisten Pribadi. Inilah Cara Perusahaan di Australia Mencari dan Mempertahankan Karyawan
Jumat, 27 Mei 2022 - 10:19 WIB
Di tahun 1990-an, di masa berkembangnya banyak perusahaan baru di bidang teknologi, perusahaan menaw...
Mengerikan: Penembakan di Texas Menewaskan Setidaknya 18 Murid SD, Pelakunya Seorang Remaja
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:46 WIB
Seorang pria bersenjata berusia 18 tahun melakukan penembakan massal di sekolah dasar Robb Elementar...
Menteri Luar Negeri China Wang Yi akan Kunjungi Delapan Negara Pasifik Termasuk Timor Leste
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:46 WIB
Pemerintah China mengukuhkan bahwa Menlu Wang Yi akan mengadakan kunjungan ke beberapa negara Pasifi...
Senang Banyak Imigran Terpilih: Reaksi Pemilih Asal Indonesia Terhadap Hasil Pemilu Australia
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:46 WIB
Andika Mongilala tak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat melihat hasil pemilu Australia yang men...
Masa Lockdown Pandemi di Australia Sebabkan 70% Pelajar Mengalami Masalah Kesehatan Mental
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:46 WIB
Sebuah survei nasional di Australia mengungkapkan dampak COVID dan lockdown terhadap pelajar yang ke...
Akankah Presiden Baru Filipina Melanjutkan Perang Narkoba yang Menewaskan Ribuan Warga?
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:46 WIB
Di hari-hari terakhir masa kepresidenannya yang 'liar dan berdarah', Rodrigo Duterte meras...
Serangan Rasisme Masih Dialami Warga Keturunan Asia di Australia
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:46 WIB
Cassandra Au dan suaminya terpaksa meninggalkan liburan mereka di Cook Islands ketika Australia menu...
Inilah Sebagian Korban Penembakan Massal di Sekolah Dasar di Texas
Jumat, 27 Mei 2022 - 08:46 WIB
Seorang murid perempuan dengan bangga menunjukkan buku rapor kenaikan kelas dengan nilai yang bagus ...
Oposisi Australia Menang Pemilu, Anthony Albanese Dilantik Jadi Perdana Menteri Baru
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Pemimpin Partai Buruh Anthony Albanese dilantik sebagai perdana menteri ke-31 Australia, setelah mem...
Dari Perumahan Rakyat ke Kursi Perdana Menteri Australia, Inilah Sosok Anthony Albanese
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Gubernur Jenderal Australia baru saja melantik Anthony Albanese sebagai Perdana Menteri yang ke-31, ...
InfodariAnda (IdA)