Pengadilan Makar Terhadap Tokoh Oposisi Kamboja Dilanjutkan
Elshinta
Kamis, 20 Januari 2022 - 09:44 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Pengadilan Makar Terhadap Tokoh Oposisi Kamboja Dilanjutkan
VOA Indonesia - Pengadilan Makar Terhadap Tokoh Oposisi Kamboja Dilanjutkan
Pengadilan atas tuduhan makar terhadap pemimpin oposisi Kamboja dilanjutkan Rabu (19/1), dua tahun setelah ditunda karena pandemi virus corona. Kem Sokha adalah ketua Partai Penyelamat Nasional Kamboja ketika ia ditangkap pada September 2017. Penahanannya itu didasarkan pada video yang menunjukkan ia sedang bercerita di sebuah seminar mengenai bagaimana ia menerima saran dari kelompok-kelompok prodemokrasi AS. Jika terbukti bersalah, ia bisa dihukum hingga 30 tahun penjara. Tuduhan itu secara luas dilihat sebagai bagian dari strategi politik Perdana Menteri Hun Sen untuk menyapu bersih semua oposisi sebelum pemilu 2018, yang dimenangkan partainya dengan suara bulat di tengah tuduhan bahwa pemilu itu tidak bebas dan tidak adil. Partai oposisi yang populer itu dipandang sebagai ancaman besar bagi Partai Rakyat Kamboja pimpinan Hun Sen. Penangkapan Kem Sokha segera diikuti dengan pembubaran partai itu oleh Mahkamah Agung, setelah pemerintah menuduhnya merencanakan kudeta. Hun Sen, yang telah memegang kekuasaan selama 36 tahun, mengatakan ia berniat untuk tetap menjabat sampai 2028 dan telah mendukung salah satu putranya untuk menggantikannya. “Dimulainya kembali persidangan Kem Sokha di Phnom Penh setelah jeda hampir dua tahun tidak mengubah fakta bahwa tuduhan palsu bermotif politik ini seharusnya tidak pernah diajukan terhadapnya, kata Phil Robertson, wakil direktur cabang Asia organisasi Human Rights Watch, dalam sebuah pernyataannya melalui email. “Seluruh sandiwara ini adalah tentang mencegah siapa pun menggunakan kotak suara untuk memperebutkan kepemimpinan Hun Sen, yang sangat penting karena pemilihan tingkat daerah dijadwalkan akan diadakan di seluruh negeri pada pertengahan 2022,” ujar Robertson. Chan Chen, salah satu kuasa hukum Kem Sokha, mengatakan setelah sidang pagi, sidang ditunda hingga Selasa depan. Ia mengatakan video yang menjadi bukti terhadap Kem Sokha diputar di pengadilan selama persidangan pagi itu. Kem Sokha mengatakan kepada wartawan menjelang sidang bahwa ia berharap pengadilan akan membatalkan dakwaan demi rekonsiliasi nasional. Sidang itu sebetulnya dimulai pada Januari 2020 tetapi kemudian ditunda dua tahun karena penyebaran COVID-19. Kasus Kem Sokha telah memperburuk hubungannya dengan Sam Rainsy, salah satu pendiri Partai Penyelamatan Nasional Kamboja, yang berada di pengasingan untuk menghindari hukuman pidana yang katanya dimotivasi kepentingan politik. Sam Rainsy adalah pemimpin partai itu secara de facto saat Kem Sokha berada di penjara sebelum dibebaskan dengan jaminan. Ketegangan antara pendukung kedua pemimpin oposisi itu terjadi karena beberapa pihak merasa Kem Sokha harus menghadapi tekanan berat dari pemerintahan Hun Sen sementara Sam Rainsy bebas di pengasingan. Tindakan hukum terhadap Kem Sokha secara luas dipandang mendorong perpecahan di antara keduanya. Hun Sen adalah pemain politik yang gesit, dan memiliki catatan menggunakan taktik memecah belah untuk menaklukkan musuh-musuhnya. [ab/uh]  
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Indonesia dan Malaysia Jadi Angin Segar di Tengah Suramnya Hutan Dunia
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:36 WIB
Indonesia dan Malaysia, yang rutin termasuk di antara negara-negara yang memimpin dalam hilangnya wi...
Saham Global, Euro Merosot karena Peringatan Inflasi AS 
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
Ekuitas dunia, Kamis (12/5) merosot  dan mata uang euro mencapai level terendah dalam lima tah...
Jerman Tuduh Rusia Gunakan Energi sebagai Senjata 
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck, Kamis (12/5)  menuduh Rusia menggunakan energi sebagai "senj...
Mantan PM Srilanka Diangkat Kembali Menjadi PM
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
Mantan Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe yang telah lima kali menjabat, akan diangkat ...
Biden Berjanji Bantu Petani AS Tingkatkan Produksi untuk Kurangi Dampak Perang Ukraina
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
Konflik di Ukraina mengganggu pasokan dan harga pangan di seluruh dunia, kata Presiden Joe Biden har...
AS dan Vatikan Ungkapkan Keprihatinan atas Penangkapan di Hong Kong
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
Amerika bergabung dengan Vatikan dalam mengungkapkan keprihatinan, setelah polisi Hong Kong menangka...
KTT AS-ASEAN: AS Perkuat Komitmen di Asia Tenggara
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
AS kembali menegaskan komitmen pada negara-negara Asia Tenggara dalam KTT AS-ASEAN yang dimulai di i...
Perang Ukraina Munculkan Peluang Baru bagi Petani Prancis
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
Invasi Rusia ke Ukraina mengganggu ekspor hasil tanaman pangan dan menaikkan harga pangan dunia. Ked...
Lima Diguncang Gempa Berkekuatan 5,5 Skala Richter
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
Gempa berkekuatan 5,5 skala Richter mengguncang Lima dan daerah sekitarnya yang luas pada Kamis (12/...
Ribuan Warga Argentina Protes Kenaikan Inflasi
Jumat, 13 Mei 2022 - 11:35 WIB
Ribuan warga Argentina turun ke jalan di pusat kota Buenos Aires sehingga mengakibatkan kota tersebu...
InfodariAnda (IdA)