Masalah-masalah yang Jadi Isu Penting Uni Eropa Tahun 2021
Elshinta
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Masalah-masalah yang Jadi Isu Penting Uni Eropa Tahun 2021
DW.com - Masalah-masalah yang Jadi Isu Penting Uni Eropa Tahun 2021

Temuan dalam survei Eurobarometer yang ditugaskan oleh Uni Eropa (UE) baru-baru ini sangat jelas: Warga di blok itu percaya bahwa masalah utama yang harus ditangani adalah perubahan iklim, pandemi COVID-19, perawatan kesehatan, situasi ekonomi, dan ketidaksetaraan sosial. Inilah tema-tema yang akan diangkat oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dalam pidato kenegaraannya yang kedua di hadapan Parlemen Eropa pada Rabu (15/09). Di saat yang sama ia juga akan menyampaikan pencapaian tahun lalu dan mengumumkan langkah-langkah baru. Berikut sejumlah persoalan yang masih dihadapi Uni Eropa:

Pandemi COVID-19

Saat ini di Eropa tersedia cukup banyak vaksin COVID-19. Namun seiring musim gugur yang sudah di ambang pintu, tingkat vaksinasi dinilai masih terlalu rendah. Target untuk memastikan bahwa 70% orang dewasa divaksinasi memang telah tercapai, tetapi ini tidak cukup mengingat penyebaran varian Delta yang sangat menular. Selanjutnya, masalah lain adalah tingkat vaksinasi sangat bervariasi di antara negara-negara anggota UE, dari hanya 20% di Bulgaria hingga hampir 90% di Malta.

Komisi Eropa akan menangani masalah ini dalam beberapa bulan mendatang, ujar Komisaris Kesehatan Stella Kyriakides kepada DW. Sementara itu, von der Leyen telah meluncurkan badan UE baru, yakni Otoritas Tanggap Darurat Kesehatan Eropa (HERA), yang bertujuan mengantisipasi dan mengendalikan epidemi dengan lebih baik di masa mendatang. Otoritas ini akan mencoba untuk membatasi pendekatan tanpa koordinasi yang saat ini diterapkan oleh 27 negara anggota dengan standar berbeda.

Kemunduran ekonomi

Salah satu konsekuensi langsung dari pandemi adalah kemunduran ekonomi dalam tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ursula von der Leyen berencana memulihkan ekonomi di kawasan UE dengan program rekonstruksi lewat kucuran dana pemulihan sebesar €750 miliar (Rp 12,6 kuadriliun). Dana ini untuk pertama kalinya akan didanai oleh utang bersama, dan akan menjadi fokus kebijakan ekonomi UE selama beberapa tahun mendatang.

Mayoritas warga UE mengaku menderita kerugian ekonomi akibat pandemi. Karena itu, ekspektasi UE dalam program pemulihan ini dinilai terlalu ambisius. Selain itu, langkah ini juga punya risiko tersendiri. Negara-negara anggota akan menanggung lebih banyak utang dan inflasi akan meningkat seiring dengan tumbuhnya permintaan. Saat ini di semua negara anggota telah dimulai diskusi dan perdebatan tentang bagaimana menangani peningkatan utang yang begitu tajam.

Perubahan iklim

Komisi menginginkan sebagian besar uang dari dana pemulihan eknomi untuk digunakan di bidang investasi "hijau". Idenya adalah bahwa "Kesepakatan Hijau" di antara negara UE akan mengubah Eropa menjadi benua netral iklim pertama tanpa kontribusi emisi CO2 yang signifikan pada tahun 2050. Ursula von der Leyen telah mampu mencapai tujuan ambisius ini. Sekarang, tugasnya adalah menerapkan transisi ke energi terbarukan, elektromobilitas, dan pekerjaan digital modern dengan serangkaian undang-undang dan tindakan lainnya. Masih belum jelas sejauh mana setiap negara anggota harus mengurangi emisi gas berbahaya dan bagaimana target akan dicapai.

Perbedaan visi dan nilai Uni Eropa

Kekuatan yang memecah belah di dalam UE meningkat. Contohnya pemerintah Polandia dan Hungaria yang menolak upaya Komisi dan Pengadilan Eropa dalam mencegah berlanjutnya erosi supremasi hukum di negara itu.

Tampaknya, tidak semua negara anggota memiliki persepsi yang sama tentang nilai-nilai dan hak-hak dasar Eropa. Ini bisa terlihat dalam kebijakan yang bersifat homofobik di Polandia, Hongaria, dan negara-negara anggota baru lainnya.

Pertanyaan tentang solidaritas Uni Eropa sehubungan dengan migrasi juga masih belum terselesaikan. Di seluruh blok, opini masyarakat sangat terpecah dalam cara menangani migran dan pencari suaka yang kemungkinan besar akan datang dari Afganistan.

Masalah masih sama dengan tahun lalu

Membandingkan isu-isu Uni Eropa pada September ini dengan isu-isu yang dibahas tahun lalu dalam pidato kenegaraan pertama Ursula von der Leyen, tampaknya secara garis besar masalah ini identik. Namun Ketua Komisi akan mempresentasikan langkah-langkah yang sekarang telah diambil untuk menetapkan kebijakan iklim, menciptakan dana pemulihan, dan mempromosikan digitalisasi ekonomi sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Pidato von der Leyen di depan Parlemen Eropa pada Rabu pagi akan diikuti dengan debat ekstensif yang akan kembali memulai musim politik di Strasbourg dan Brussels setelah liburan musim panas. Namun para ahli memperkirakan tidak akan ada kemajuan nyata dalam hal terciptanya undang-undang baru sampai rampungnya pemilihan umum di Jerman - yang merupakan negara terbesar di blok ini.

ae/gtp



Setiap tahun, Komisi Eropa akan mengevaluasi keadaan di blok Uni Eropa. Presiden dari negara anggota menyampaikan pidato di depan parlemen. Isu utama tahun ini diprediksi sama dengan tahun 2020.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Stasiun TV di Indonesia Yang Menyiarkan Inovator
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Bali TV (Denpasar) : setiap Sabtu jam 16:30 Elshinta TV (Jakarta) : setiap Senin – Kamis jam...
Gula Aren Obat Diabetes dari Indonesia, Akan Berlaga di Pertemuan Puncak Sains Berlin 2021
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Pengidap diabetes mellitus harus berjuang mengatasi keseharian yang membosankan, untuk menjaga kadar...
SpaceX Inspiration4: Era Misi Luar Angkasa Warga Sipil Dimulai
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Misi SpaceX Inspiration4 bisa dibilang lebih dari sekadar sebuah wisata luar angkasa, bukan hanya ka...
iPhone 13 Resmi Dirilis, Perluas Konektivitas 5G dan Chip Baru
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Apple Inc meluncurkan iPhone 13 dan iPad Mini baru pada Selasa (14/09), memperluas konektivitas 5G d...
Awal Sebuah Harapan Setelah Gugatan Polusi Udara Dikabulkan Sebagian.
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis (16/09) resmi mengabulkan sebagian gugatan pencemaran uda...
Citra Fantastis Jagad Raya Dari Teleskop Ruang Angkasa Hubble
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Teleskop Luar Angkasa Hubble selama lebih 30 tahun mengirimkan gambar-gambar menakjubkan dari sudut ...
Kisah Finalis Puteri Indonesia dari Papua Barat Hadapi Diskriminasi dan Rasisme
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Saat SMA, Olvah Alhamid perempuan asal Timika, Papua Barat, pindah ke Surabaya, Jawa Timur untuk men...
Kapan Vaksin Covid-19 Akan Tersedia?
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Di seluruh dunia saat ini tercatat ada 160 kandidat vaksin. 50 diantaranya sudah melakukan uji klini...
Masalah-masalah yang Jadi Isu Penting Uni Eropa Tahun 2021
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Temuan dalam survei Eurobarometer yang ditugaskan oleh Uni Eropa (UE) baru-baru ini sangat jelas: Wa...
Kasus COVID Meningkat Lagi di Beberapa Negara Bagian India
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Setelah gelombang kedua Pandemi COVID yang mematikan menyergap India pada bulan April dan Mei, kasus...