Hasil Survei CGTN: 83,1% Warganet Dukung Penelusuran Sumber Virus Corona di AS
Elshinta
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Hasil Survei CGTN: 83,1% Warganet Dukung Penelusuran Sumber Virus Corona di AS
CRI - Hasil Survei CGTN: 83,1% Warganet Dukung Penelusuran Sumber Virus Corona di AS

Terhadap pertanyaan “Apakah Anda mendukung WHO melakukan penelusuran sumber virus corona di AS?” Sebanyak 83,1 persen warganet dari mancanegara memberikan jawaban yang kompak, Iya, harus melakukan penyelidikan dan penelusuran sumber virus corona terhadap AS.

CGTN melancarkan survei jajak pendapat secara terpisah di Youtube, Twitter, Facebook, Weibo dan WeChat dalam enam bahasa resmi PBB pada 30 Juli malam lalu. Para warganet yang terlibat dalam survei mengetahui sejumlah fakta sebagai berikut, sejak Juli 2019, di negara bagian Virginia dan Wisconsin AS masing-masing ditemukan penyakit saluran pernafasan yang tidak diketahui sebabnya dan penyakit pneumonia rokok elektrik atau Evali yang misterius.

Maish di bulan Juli, Laboratorium di Fort Detric tiba-tiba ditutup oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nasional (CDC). Dari spesimen darah rutin yang tersimpan di sembilan negara bagian AS antara Desember 2019 hingga Januari 2020, dalam 106 sampel ditemukan antibodi virus Corona. Sebanyak 83,1 persen responden dengan tegas mendukung WHO melakukan penelusuran sumber virus corona di AS.

Di media sosial Twitter, sebanyak 86,4 persen responden berbahasa Rusia mendukung investigasi terhadap AS, sedangkan di Youtube, sebanyak 88 persen responden berbahasa Prancis mendukung penelusuran sumber virus corona di AS. Sudah tentu, respons yang paling ramai atas survei tersebut berasal dari para warganet Tiongkok. Di platform Weibo, sebanyak 96,6 persen responden menuntut penelusuran sumber virus corona di AS.

Walaupun berbeda bahasa, namun para warganet yang terlibat dalam survei kali ini telah memberikan komentar yang sama pedasnya. Seorang warganet berbahasa Inggris mengatakan, dirinya “mendukung WHO untuk menyelidiki AS soal penelusuran sumber virus corona, dan WHO tidak boleh menerapkan standar ganda dalam hal ini, karena WHO bukan lembaga yang hanya mewakili AS. Mereka yang terus menuding orang lain sudah pasti yang paling patut dicurigai”. Ada warganet berbahasa Prancis yang menulis, “Tak diragukan lagi, ada rahasia yang tersembunyi di Fort Detric. Akan tetapi, tak ada satu negara pun yang berani melakukan penyelidikan ke sana.” Ada pula warganet Rusia yang menunjukkan, penyakit Evali yang melanda berbagai negara bagian AS telah mengakibatkan kematian massal. Jika otoritas kesehatan AS dapat melakukan pendeteksian terlebih dahulu dari awal, maka pihaknya pasti akan menemukan virus penyebabnya.

Terhadap pertanyaan CGTN, “Apakah badan intelijen AS menyelidiki sumber virus corona dengan tujuan politik?” Para pengakses Youtube berbahasa Prancis memberikan suara dukungan yang terbanyak, yakni 84 persen. Sedangkan di platform Weibo Tiongkok, sebanyak 85 persen warganet Tiongkok secara langsung menunjukkan bahwa investigasi yang dituntut oleh pemerintah AS semata-mata bertolak dari tujuan politik.

Para warganet dari mancanegara telah memberikan komentar yang pedas atas pertanyaan tersebut. Seorang warganet berbahasa Inggris menyatakan, penelusuran sumber virus corona tidak boleh disamakan dengan investigasi badan intelijen, yaitu cara politik yang digunakan AS untuk melemparkan kegagalannya. Seorang warganet berbahasa Arab meragukan peranan yang dimainkan oleh badan intelijen AS dalam penelusuran sumber virus corona. Ia menganggap, pelacakan sumber virus bukanlah tugas yang semestinya dipikul oleh badan intelijen.

Ada warganet berbahasa Prancis berpendapat, teori kebocoran laboratorium yang dipertahankan AS hanya untuk mengalihkan perhatian masyarakat terhadap lonjakan kasus corona di dalam negerinya. Dilihat dari angka kematian pandemi COVID-19, AS tengah memecahkan semua rekor, dan oleh karena itulah, mereka ingin mengalihkan perhatian masyarakat, sekaligus berusaha menimpakan semua kesalahan kepada Tiongkok. Nyata sekali, Tiongkok tidak sempurna, tapi sama sekali tidak dapat percaya bahwa Tiongkok mampu merekayasa virus semacam ini. Sebanyak 91,86 persen warganet Rusia berpendapat, keterlibatan badan intelijen dalam penelusuran virus bertolak dari tujuan politik. Banyak warganet lain yang juga menyatakan, penelusuran serupa harus dipimpin dan dilakukan oleh ilmuwan.

Adapun pertanyaan ketiga CGTN yakni, apakah Anda setuju bahwa gejala diskriminasi dan kekerasan AS terhadap kelompok masyarakat keturunan Asia yang semakin parah telah menarik lebih banyak sorotan responden? Jumlah responden yang menjawab pertanyaan tersebut tiga kali lipat lebih banyak dari para responden yang menjawab 2 pertanyaan sebelumnya. Sebanyak 88 persen responden dari seluruh dunia menyatakan bahwa diskriminasi dan kekerasan yang ditujukan kepada masyarakat keturunan Asia di AS menjadi semakin serius. Dengan menggunakan bahasa mereka masing-masing, mereka telah memberikan komentar yang tajam dan emosional.

Wadah pemikir CGTN dalam analisanya menunjukkan, sebanyak 81.600 warganet yang terlibat dalam survei kali ini umumnya menyatakan ketidakpercayaan dan ketidakpuasan mereka terhadap AS, terutama terkait standar ganda yang diterapkan pemerintah AS terhadap masalah negara lain dan negaranya sendiri. Mereka berpendapat bahwa AS semakin bersikap nekat dan salah dalam hal penelusuran sumber virus corona dan manipulasi politik. Apalagi, diskriminasi dan kekerasan terhadap masyarakat keturunan Asia di negerinya terus meningkat terutama sejak pandemi COVID-19 merebak.

Para warganet yang terlibat dalam survei CGTN kali ini secara umum menyatakan, penelusuran sumber virus corona hendaknya dilakukan di berbagai tempat di dunia. Seorang warganet berbahasa Prancis menyatakan, jika AS benar-benar ingin menyelidiki sumber virus corona, maka dia harus mengizinkan WHO melakukan penyelidikan tentang penyakit Evali dan influenza serta penutupan laboratorium di Fort Detric yang terjadi secara beruntun pada tahun 2019.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Xi Jinping Inspeksi di Chengde
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:27 WIB
 Presiden Tiongkok Xi Jinping mengadakan inspeksi di Kota Chengde, Provinsi Hebei hari S...
24 Jam Rendah Karbon
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:27 WIB
Tanggal 25 Agustus adalah Hari Rendah Karbon Nasional Tiongkok, dan pekan ini juga adalah Pekan Prom...
Tiongkok Desak AS Umumkan Data Kasus Awal
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Wang Wenbin hari Selasa kemarin (24/8) di depan jumpa ...
Tiongkok Bakal Luncurkan “Peraturan Perlindungan Keamanan Infrastruktur Informasi Krusial”
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Di depan briefing pers kebijakan Dewan Negara Tiongkok Selasa kemarin (24/4), Wakil Kepala Kantor Ur...
3 Generasi Buruh Hutan di Saihanba
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Melalui perjuangan 3 generasi buruh hutan, daerah Saihanba yang dulu gurun pasir saat ini telah menj...
Kisah Atlet Para Tenis Meja Afrika Selatan
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Theo Cogill adalah seorang mantan juara tenis meja Afrika Selatan yang berumur 34 tahun, dia hampir ...
Wang Hao, Pembawa Bendera Kontingen Tiongkok di Upacara Pembukaan Paralimpiade Tokyo
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Pada tanggal 23 Agustus, Kontingen Tiongkok untuk Paralimpiade Tokyo mengumumkan, olahragawan atleti...
251 Atlet Tiongkok Bakal Tampil dalam Paralimpiade Tokyo
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
 Pada hari Senin (23/8), Kontingen Tiongkok mengumumkan, Zhou Jiamin dan Wang Hao terpilih seba...
Tingkat Medis dan Kesehatan di Tibet Semakin Meningkat
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Sejak pembebasan damai Tibet, khususnya sejak Kongres PKT ke-18, usaha medis dan kesehatan Tibet dip...
Intervensi Militer AS Membawa Kesengsaraan bagi Rakyat Afghanistan
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Dewan HAM PBB hari Selasa kemarin (24/8) mengadakan sidang khusus mengenai masalah Afghanistan. Para...
Live Streaming Radio Network