Kompor Tenaga Surya Bantu Warga Tanpa Listrik
Elshinta
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:46 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kompor Tenaga Surya Bantu Warga Tanpa Listrik
DW.com - Kompor Tenaga Surya Bantu Warga Tanpa Listrik

Kompor tenaga surya buatan Afganistan bisa mendidihkan air hingga 100° Celsius. Banyak keluarga di negara itu menggunakan kompor ini untuk memasak. Tetapi kompor tersebut tidak selalu ideal.

“Kompor ini bagus buat kami, karena dengan kompor ini, kami memasak dan mendidihkan air tanpa butuh kayu, gas atau minyak. Tetapi di musim dingin ini sulit, karena matahari tidak terlalu banyak bersinar,“ kata Noria, putri keluarga Ghazni.

Kompor populer

Sebagian besar kota di Afganistan tidak punya akses ke listrik dan gas. Ibu Noria, Saliha bercerita, mereka sudah membeli kompor ini sembilan tahun lalu. Kami tidak perlu lagi membeli kayu, gas atau bahan bakar lain. “Saya menggunakan kompor untuk memasak dan mendidihkan air. Saya hanya perlu membersihkan dan mencucinya setiap pagi.“

Karena tidak perlu akses ke listrik dan gas, kompor ini populer. Toko-toko lokal membuatnya dari peralatan mendasar. Anak-anak juga ada yang mulai belajar membuat kerangka kompor. Pembuatannya rumit dan harus hati-hati.

Pembeli datang dari berbagai daerah

Liaqat Ali yang mengajar mereka menjelaskan, ia punya tiga murid.Kami memproduksi dua kompor setiap harinya. Tidak bisa lebih banyak lagi.“ Ia bercerita, orang yang datang membeli kompor tidak hanya dari distrik Ghazni tempat ia tinggal. Melainkan juga dari berbagai propinsi lain, seperti Herat, Kandahar dan Wardak. 

Lapisan logam tipis yang digunakan pada bagian luar kompor harus ditempatkan pada kerangka khusus untuk membuat sebuah wadah yang bentuknya seperti kubah. Bagian ini juga dibuat dengan tangan. Kompor dibuat dengan cara yang menekan ongkos sebaik mungkin, agar bisa dibeli orang miskin pula.

Cara gunakan kompor mudah

“Orang sekarang semakin bisa menggunakan kompor ini, dan lebih tertarik karena bisa digunakan dengan mudah,“ jelas Morteza yang juga membuat kompor. Gas juga sangat mahal, papar Morteza. Sementara kompor tenaga surya tidak mengkonsumsi apapun. Orang hanya perlu membeli kompor saja.

Seluruh permukaan wadah harus dilengkapi cermin, yang terdiri dari lempeng-lempeng kecil. Pekerjaan ini harus dilaksanakan dengan kesabaran, presisi dan secara hati-hati.

Pertama-tama mereka harus membuat wadah, di mana lempengan kaca akan dipasang. Ehsanullah, yang bekerja dengan cermin mengatakan, lempengan kaca dieratkan satu-persatu hingga bagian dalam wadah terselubungi sepenuhnya.

Cermin harus direkatkan dan ditempatkan satu sama lain sedekat mungkin. Tempat kecil yang tersisa juga akan diisi.

Cara kerja kompor tenaga surya

Kemudian dia mengontrol setiap cermin dengan menggunakan sebuah gambar, yang ditempatkan pada posisi tertentu. Gambar itu harus bisa terlihat di tiap lempeng cermin. Dengan demikian bisa diketahui juga, apakah nantinya, sinar matahari yang jatuh pada wadah dipantulkan secara terarah ke satu titik. Tampilan ini juga harus bisa terlihat di setiap bagian cermin. Jika tidak, sinar matahari tidak akan bisa diarahkan dengan baik, dan kompor tidak memproduksi cukup panas.

Setelah jadi, oven diuji. Caranya, oven harus bisa membakar sepotong karton, mendidihkan satu tong air, dan cerminnya memantulkan cahaya matahari tepat di tengah piring. Kompor yang murah, tidak melepas emisi dan ramah lingkungan ternyata mampu menyokong kebutuhan masyarakat di daerah, di mana akses listrik tidak tersedia. (ml/yp)



Buatan Afganistan bagi warga Afganistan. Itulah kompor bertenaga surya yang sudah terbukti handal dengan harga terjangkau. Selain itu, juga ramah lingkungan.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gula Aren Obat Diabetes dari Indonesia, Akan Berlaga di Pertemuan Puncak Sains Berlin 2021
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Pengidap diabetes mellitus harus berjuang mengatasi keseharian yang membosankan, untuk menjaga kadar...
SpaceX Inspiration4: Era Misi Luar Angkasa Warga Sipil Dimulai
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Misi SpaceX Inspiration4 bisa dibilang lebih dari sekadar sebuah wisata luar angkasa, bukan hanya ka...
iPhone 13 Resmi Dirilis, Perluas Konektivitas 5G dan Chip Baru
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Apple Inc meluncurkan iPhone 13 dan iPad Mini baru pada Selasa (14/09), memperluas konektivitas 5G d...
Awal Sebuah Harapan Setelah Gugatan Polusi Udara Dikabulkan Sebagian.
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis (16/09) resmi mengabulkan sebagian gugatan pencemaran uda...
Kapan Vaksin Covid-19 Akan Tersedia?
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Di seluruh dunia saat ini tercatat ada 160 kandidat vaksin. 50 diantaranya sudah melakukan uji klini...
Masalah-masalah yang Jadi Isu Penting Uni Eropa Tahun 2021
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Temuan dalam survei Eurobarometer yang ditugaskan oleh Uni Eropa (UE) baru-baru ini sangat jelas: Wa...
Instagram Berupaya Mencegah Kerusakan Mental Pada Remaja Perempuan
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Laporan dari Wall Street Journal mengutip riset Facebook yang menunjukkan fitur foto-sentris Instagr...
Visi Christo dan Jeanne-Claude Membungkus Arc de Triomphe Jadi Kenyataan
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Hari masih pagi di Paris, baru ada sedikit turis di jalan utama Champs Elysees yang biasanya ramai. ...
Hari PMI: Berbagi Sekantong Darah untuk Selamatkan Nyawa
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Di hari jadi ke-76 yang jatuh pada 17 September, banyak tantangan yang masih dihadapi Palang Merah I...
Merindukan “Duel Maut“ Zaman Helmut Schmidt vs Franz Josef Strauss
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Angela Merkel memilih untuk tidak lagi jadi kanselir, jabatan yang melekat padanya selama 16 tahun k...
Live Streaming Radio Network