Jangan Menyerah, Ayo Berbagi Cerita Perjuangan Hadapi Pandemi
Elshinta
Kamis, 29 Juli 2021 - 09:21 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Jangan Menyerah, Ayo Berbagi Cerita Perjuangan Hadapi Pandemi
DW.com - Jangan Menyerah, Ayo Berbagi Cerita Perjuangan Hadapi Pandemi

Di masa-masa awal pandemi COVID-19, Harpini Winastuti, 85, duduk diam termenung di rumahnya. Saat itu, dia mungkin tidak mengerti mengapa sudah berbulan-bulan tidak bisa bertemu dengan teman-teman di tempat para lansia bersosialisasi di Jakarta Selatan. Harpini didiagnosis menderita Alzheimer sejak tahun 2018. Namun pandemi menyebabkan dia kehilangan sebagian interaksi sosial yang dia sukai dan butuhkan.

"Dia punya aktivitas tiap hari Rabu di sebuah rumah di Cipete. Para lansia penderita demensia diajarkan gambar, merajut, menjahit, dan mewarnai. Yang hadir kelompok kecil sebanyak 4-5 orang dan mereka ditemani caregiver utama (perawat lansia, red.) atau yang paid (perawat pribadi). Begitu pandemi datang, sudahlah semua selesai. Tidak ada lagi pertemuan," ujar Miranti Hudan, 46, anak perempuan Harpini, kepada DW Indonesia.

Miranti Hudan, atau sehari-hari dipanggil dengan nama Mira, menggambarkan dirinya sebagai "Generasi Sandwich" yakni generasi yang harus merawat orang tua yang sudah lanjut usia dan anak-anaknya sendiri yang masih sekolah.

Sang bunda kian murung saat isolasi

Saat awal pandemi, Mira begitu menjaga kesehatan ibunda. Yang boleh menemui ibunya hanya Mira dan orang-orang tertentu di rumahnya. Namun lambat laun berkurangnya interaksi sosial berdampak pada kesehatan mental sang ibu.

"Awalnya dia tidak mengeluh karena tidak bisa keluar rumah, tapi kelihatan makin hari makin sedih dan diam. Dari situ mulai kelihatan merosotnya. Dalam kurun waktu singkat, banyak teman-teman ODD (orang dengan demensia) dalam grupnya mulai meninggal karena kondisi psikologis mereka menurun. Pandemi mulai bulan Maret dan Ibu meninggal bulan Juli," Mira menambahkan.

Mira bersyukur bahwa selama pandemi ada dukungan dari Alzi Indonesia, yakni kelompok penderita Alzheimer, tempat berbagi suka dan duka serta cara merawat anggota keluarga dengan demensia.

"Sebelum ikut Alzi Indonesia, kolesterolku tinggi dan tekanan darahku kumat. Kita suka lupa untuk mengurus diri kita sendiri," katanya. Selain sebagai wadah komunikasi para bagi para perawat lansia utama, grup ini juga didukung beberapa dokter geriatri atau dokter khusus lansia. Bantuan informasi medis yang diberikan online sangat membantu saat akses untuk menemui dokter geriatri secara langsung sangat berkurang, ujarnya.

Mira bercerita bahwa sebelum pandemi, membawa ibunya untuk diperiksa darah dan urin di laboratorium saja sudah penuh tantangan karena ibunya sering kali mendadak emosional. Mira pun bercerita apa yang dia dengar dari teman-temannya yang juga merawat lansia dengan demensia.

"Di chat grup ODD, saya dengar bahwa (penderita demensia) yang sudah kena Covid jadi histeris, terus tegang dan matanya melotot. Mungkin mereka tidak tahu caranya untuk mengungkapkan perasaannya. Untung ibuku tidak tertular Covid. Dia memang sakit tapi meninggal secara alami (karena penyakit demensia)."

Masker, tantangan bagi penyandang tunarungu

Pandemi yang saat ini berlangsung di dunia memiliki dampak yang berbeda bagi tiap orang, tidak terkecuali bagi penyandang disabilitas. Termasuk Barbara Yanti, 47, penyandang tunarungu yang sehari-hari bekerja sebagai pengajar bahasa isyarat Jakarta tingkat 1 di Balai Kota DKI Jakarta.

Saat awal pandemi di Indonesia, semua proses belajar mengajar tiba-tiba berhenti, padahal ada kelas bahasa isyarat yang belum selesai jadwalnya. Seperti banyak pengajar lainnya di Indonesia, mereka terpaksa mempelajari dan mengajarkan metode belajar baru lewat media pertemuan daring melalui Zoom dan Google Meet.

Suatu hari suami Yanti pulang dari perjalanan tur motor ke Lampung. Sepulang dari tur, suaminya langsung sakit batuk dan demam. Beberapa hari kemudian ibu mertua dan Yanti pun jatuh sakit.

"Saat kondisiku mulai membaik, seorang teman semasa SMA mengajakku pergi makan bersama tujuh orang teman lainnya di bilangan Blok M. Salah satu temanku baru membuka usaha restoran di sana. Aku sempat bingung memikirkan bagaimana berkomunikasi dengan teman-teman dengar kalau menggunakan masker. Saat SMA mereka belum mengenal bahasa isyarat karena bahasa isyarat belum berkembang di Indonesia. Jadi malam itu aku harus melepas masker dan hanya memakai face shield supaya bisa berkomunikasi dengan mereka," ujar Yanti yang juga seorang guru SDLB Tunarungu Santi Rama, Jakarta.

Tak disangka, Yanti keesokan harinya kembali merasa pegal linu dan pusing serta kehilangan kemampuan penciuman - gejala yang cukup sering ditemui para penderita COVID-19. Setelah pemeriksaan antigen, Yanti dan anak perempuannya dinyatakan positif. Saat menjalani isolasi di RS Darurat COVID-19 Wisma Atlet Pademangan, Yanti sempat mengalami masalah komunikasi dengan tenaga kesehatan di sana.

"Sayangnya, semua dokter dan tenaga medis di Wisma Atlet Pademangan tidak ada satu pun yang bisa bahasa isyarat. Untungnya aku menjalani isolasi di Wisma Atlet bersama anakku Carissa yang membantu aku berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, karena di sana diwajibkan selalu memakai masker."

Inspirasi dan harapan bagi perempuan

Yanti dan Mira adalah dua dari 23 perempuan yang terpanggil untuk menulis dan membagikan cerita mereka menghadapi pasang surut kehidupan saat pandemi dalam sebuah buku yang sedang digarap bersama. Kesemuanya adalah alumni Universitas Trisakti angkatan 1993 yang tergabung dalam sebuah chat grup.

Intan Pradina, 47, editor buku tersebut mengatakan bahwa sangat penting memberi dukungan emosional bagi perempuan lain. Selain pembaca bisa belajar dari pengalaman hidup berbagai penulis, kegiatan menulis buku dapat membahagiakan dan memberi rasa lega bagi penulisnya.

Banyak perempuan di Indonesia yang saat ini merasakan bahwa pandemi yang berkepanjangan terasa melelahkan dan akhirnya berdampak pada kesehatan mentalnya. "Kesehatan mental dapat berpengaruh pada fisik. Kalau psikis kita terganggu, otomatis semua bisa berantakan. Kalau sesorang merasa kesehatan mentalnya ada yang tidak beres, mereka harus segera cari info dan bertindak. Karena kalau dibiarkan bisa menyebabkan penyakit yang lebih berat dan harus ditangani oleh seorang profesional. Lebih baik ditangani di awal," kata Intan kepada DW Indonesia.

Para penulis berharap bahwa pada saat buku ini siap untuk dibaca oleh publik, para pembaca dapat memetik manfaat dan terinspirasi untuk tetap bersikap positif dan memiliki semangat hidup meski dikelilingi berita negatif selama pandemi berlangsung. (ae)



Dari harus merawat lansia, hingga sulit berkomunikasi sebagai tunarungu karena semua orang pakai masker. Para perempuan ini berbagi kisah agar orang-orang tidak menyerah saat pandemi.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Gula Aren Obat Diabetes dari Indonesia, Akan Berlaga di Pertemuan Puncak Sains Berlin 2021
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Pengidap diabetes mellitus harus berjuang mengatasi keseharian yang membosankan, untuk menjaga kadar...
SpaceX Inspiration4: Era Misi Luar Angkasa Warga Sipil Dimulai
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Misi SpaceX Inspiration4 bisa dibilang lebih dari sekadar sebuah wisata luar angkasa, bukan hanya ka...
iPhone 13 Resmi Dirilis, Perluas Konektivitas 5G dan Chip Baru
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Apple Inc meluncurkan iPhone 13 dan iPad Mini baru pada Selasa (14/09), memperluas konektivitas 5G d...
Awal Sebuah Harapan Setelah Gugatan Polusi Udara Dikabulkan Sebagian.
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis (16/09) resmi mengabulkan sebagian gugatan pencemaran uda...
Kapan Vaksin Covid-19 Akan Tersedia?
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Di seluruh dunia saat ini tercatat ada 160 kandidat vaksin. 50 diantaranya sudah melakukan uji klini...
Masalah-masalah yang Jadi Isu Penting Uni Eropa Tahun 2021
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Temuan dalam survei Eurobarometer yang ditugaskan oleh Uni Eropa (UE) baru-baru ini sangat jelas: Wa...
Instagram Berupaya Mencegah Kerusakan Mental Pada Remaja Perempuan
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Laporan dari Wall Street Journal mengutip riset Facebook yang menunjukkan fitur foto-sentris Instagr...
Visi Christo dan Jeanne-Claude Membungkus Arc de Triomphe Jadi Kenyataan
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Hari masih pagi di Paris, baru ada sedikit turis di jalan utama Champs Elysees yang biasanya ramai. ...
Hari PMI: Berbagi Sekantong Darah untuk Selamatkan Nyawa
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Di hari jadi ke-76 yang jatuh pada 17 September, banyak tantangan yang masih dihadapi Palang Merah I...
Merindukan “Duel Maut“ Zaman Helmut Schmidt vs Franz Josef Strauss
Selasa, 21 September 2021 - 07:29 WIB
Angela Merkel memilih untuk tidak lagi jadi kanselir, jabatan yang melekat padanya selama 16 tahun k...
Live Streaming Radio Network