Hampir 800 Ribu Anak Indonesia Belum Diimunisasi DPT
Elshinta
Selasa, 27 Juli 2021 - 09:05 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Hampir 800 Ribu Anak Indonesia Belum Diimunisasi DPT
VOA Indonesia - Hampir 800 Ribu Anak Indonesia Belum Diimunisasi DPT
Hampir 800 ribu anak di Indonesia diperkirakan belum diimunisasi DPT atau bagian dari imunisasi dasar pada tahun 2020 karena kekhawatiran orang tua membawa anak mereka ke posyandu seiring terus meluasnya pandemi virus corona. Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat kemunduran imunisasi tertinggi di dunia dan menurut WHO terlalu banyak yang dipertaruhkan jika hal ini dibiarkan berlanjut.  “Livia sekarang sudah delapan bulan, harusnya dia sudah dapat DPT-3 ketika berumur enam bulan, tapi ini sudah terlambat. Cuma gara-gara pandemi ini saya tidak berani bawa dia ke Puskesmas, karena takut, was-was. Alhamdulillah sudah dapat BCG, DPT-1 dan DPT-2. Tapi yang DPT-3 belum soalnya pandemi sedang gencar-gencarnya virus corona ini di Indonesia khan jadi saya takut datang ke Puskesmas.” Demikian Lea Mayriani, ibu dua anak berusia 35 tahun yang tinggal di Tomang, Jakarta Barat, dan memilih tidak membawa bayinya ke posyandu untuk diimunisasi karena khawatir tertular virus corona. Lea tidak sendiri. Dian Daniati, penggiat di Pos Perempuan, Mamuju, Sulawesi Barat, mengatakan pada VOA bagaimana sepanjang tahun 2021 ini sangat jarang ibu yang memeriksakan kesehatan dirinya dan anak-anak mereka di puskesmas atau posyandu. “Ini menjadi kekhawatiran yang sangat dahsyat karena di posyandu sekarang sudah jarang balita dibawa vaksinasi. Yang kami khawatirkan terjadinya polio dan vaksin lain yang dibutuhkan dan terganggu. Ini akan jadi bom waktu yang nantinya akan sulit diatasi,” ujar Dian. Laporan terbaru yang dikeluarkan UNICEF pekan lalu menunjukkan pada tahun 2020 saja ada 23 juta anak di seluruh dunia yang tidak mendapat imunisasi dasar yang rutin, suatu kemunduran sangat besar sejak tahun 2009. Dari daftar yang dikeluarkan oleh UNICEF itu, Indonesia berada di urutan ketiga – setelah India dan Pakistan – negara dengan jumlah anak terbesar yang tidak diimunisasi dasar. Imunisasi dasar bagi balita antara lain : Hepatitis B, BCG, polio, DPT dan campak. Imunisasi dasar ini penting untuk mencegah berbagai penyakit berbahaya seperti TBC, campak, pneumonia, kegagalan fungsi hati dan kanker hati, lumpuh layu, difteri, pertusis, tetanus, Hepatitis B dan meningitis – ini semua penyakit-penyakit berbahaya yang dapat dicegah dengan imunisasi dasar. Laporan UNICEF itu juga menunjukkan bahwa sejak pandemi merebak Maret 2020 lalu, ada sekitar 17 juta anak yang bahkan tidak mendapat imunisasi sama sekali. Sebagian anak-anak ini tinggal di pemukiman yang dilanda perebakan COVID-19 sangat parah, daerah terdampak bencana dan konflik, dan daerah kumuh yang memiliki keterbatasan akses pada layanan kesehatan dasar. Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, “Ketika negara-negara berebut untuk mendapatkan vaksin COVID-19, kita mengalami kemunduran dalam imunisasi, membuat anak-anak berisiko terpapar penyakit sangat buruk yang sebenarnya dapat dicegah, seperti campak, polio atau meningitis. Sebagian wabah penyakit ini akan menjadi bencana besar bagi masyarakat dan sistem kesehatan yang sekarang ini berjuang keras melawan COVID-19, sehingga jauh lebih mendesak dibanding sebelumnya untuk berinvestasi dalam imunisasi anak-anak dan memastikan kita dapat menjangkau setiap anak.” Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore dalam pernyataan tertulis 15 Juli lalu mengatakan “bukti-bukti soal banyaknya anak yang tidak mendapatkan imunisasi seharusnya menjadi peringatan jelas bahwa pandemi COVID-19 dan gangguan yang menyertainya telah membuat kita kehilangan banyak hal berharga, dan konsekuensinya akan ditanggung oleh mereka yang kehidupan dan kesejahterannya paling rentan.” Ditambahkannya, “Bahkan sebelum pandemi ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan bahwa kita mulai kalah dalam upaya imunisasi anak-anak agar terhindar dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, termasuk wabah campak yang sangat luas dua tahun lalu. Pandemi ini membuat situasinya semakin parah.”  Kemenkes: 83,9% Layanan Imunisasi Anak Terhenti Akibat Pandemi Kementerian Kesehatan Indonesia akhir April lalu melaporkan setidaknya 83,9% pelayanan kesehatan terkait imunisasi anak di Indonesia terhenti akibat perebakan luas pandemi virus corona. Padahal selain puskesmas, Indonesia memiliki posyandu yang dikelola masyarakat bersama aparat pemerintah desa atau kelurahan untuk memudahkan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan, layanan keluarga berencana, layanan gizi dan imunisasi, serta upaya identifikasi masalah kesehatan di tingkat paling lokal. Namun, sebagaimana Lea Mayriani di Jakarta tadi, banyak ibu yang khawatir balita mereka terpapar COVID-19 ketika datang ke posyandu atau puskesmas karena layanan Dian Daniati di Pos Perempuan Mamuju, Sulawesi Barat, mengatakan banyak penggiat isu kesehatan ibu hamil dan menyusui serta balita berupaya “menjemput bola” dengan mendatangi langsung rumah warga yang diketahui memiliki balita dan belum divaksinasi, tapi hal ini terhambat dengan pembatasan sosial yang diberlakukan, dan juga kekhawatiran para ibu akan potensi penularan virus ketika bayinya didatangi orang asing. “Kami bisa datangi rumah-rumah tapi khan dibatasi protokol COVID-19, belum jika ada anggota keluarga yang sedang isoman, juga ibu-ibu yang takut anaknya tertular. Jadi memang perlu ada strategi lain karena kita berhadapan dengan ibu-ibu di kampung jarang dapat informasi sehingga seringkali mereka khawatir,” imbuhnya. Tetapi Lea Mayriani yang tinggal di Jakarta pun merasakan hal yang sama. “Kayaknya kalau sekarang ini jangan dulu lah. Soalnya kita khan juga gak tahu yang datang itu habis dari mana, apakah dia juga tidak membawa virus. Sebelum COVID-19 berakhir, saya masih ragu," katanya.  [Apakah tidak khawatir jika bayinya tertinggal imunisasi nanti berdampak buruk ke depan?]  "Ya khawatir tapi mau bagaimana lagi. Daripada tertular virus. Lagian gak mungkin juga petugas kesehatan datang ke rumah, orang sekarang rame-rame aja langsung diusirin sama Pak RT. Saya sedih tapi mau bagaimana lagi?,” keluhnya. WHO mengingatkan agar setiap negara tetap menjalankan dan mengejar cakupan imuniasi penyakit bukan COVID-19 untuk meminimalisir penyakit-penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin, komplikasi berat atau kematian. [em/jm]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
PBB Didesak Selidiki Pelanggaran HAM oleh Taliban di Afghanistan
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Para peserta sidang khusus tentang situasi hak asasi manusia di Afghanistan telah mendesak Dewan Hak...
AS Tingkatkan Evakuasi dari Kabul
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Militer Amerika telah melakukan penerbangan evakuasi terbesar di Afghanistan sejak operasi itu dimul...
Aljazair Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Maroko
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Menteri Luar Negeri Aljazair Ramtane Lamamra, Selasa (24/8), mengatakan negaranya memutuskan hubunga...
Sejumlah Perempuan Afghanistan Laporkan Pelecehan Taliban
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Sejumlah guru dan staf perempuan lain yang dipekerjakan oleh sekolah-sekolah di dua provinsi di Afgh...
Biden: “Lebih Cepat Kita Selesaikan Evakuasi, Lebih Baik”
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Presiden Amerika Serikat Joe Biden, Selasa (24/8), mengatakan ia akan tetap memenuhi tenggat untuk m...
Pemimpin Faksi Republik di DPR: Taliban Seharusnya Tidak Mendikte AS
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Pemimpin faksi Republik di DPR, Selasa (24/8), menyerukan pemerintah Biden untuk tetap tinggal di Af...
Isu Iran Diperkirakan Jadi Fokus Pertemuan Biden-Bennett
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Perdana Menteri Israel Naftali Bennett diperkirakan akan mendorong Presiden Amerika Joe Biden untuk ...
Polandia Tuduh Belarus Dorong Migran Menuju Polandia
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Perdana Menteri Polandia mengatakan, Selasa (24/8), Belarus dengan sengaja mendorong para migran dar...
Serangan Drone Turki di Suriah Timbulkan Kekhawatiran Kurdi
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Pasukan Kurdi yang didukung AS di Suriah mengatakan mereka semakin khawatir dengan gelombang seranga...
Taliban: Upaya Apapun Untuk Evakuasi Setelah 31 Agustus “Ilegal”
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:26 WIB
Terlepas dari tekanan domestik dan internasional untuk memperpanjang tenggat penarikan pasukan Ameri...
Live Streaming Radio Network