Usai Pecahkan Rekor Suhu Terpanas, Desa Kanada Hangus Dilalap Api
Elshinta
Senin, 26 Juli 2021 - 08:48 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Usai Pecahkan Rekor Suhu Terpanas, Desa Kanada Hangus Dilalap Api
DW.com - Usai Pecahkan Rekor Suhu Terpanas, Desa Kanada Hangus Dilalap Api

Setelah didera gelombang panas mematikan selama tiga hari berturut-turut, warga Lytton di Kanada sebenarnya berharap situasi lekas membaik. Suhu udara yang sempat mencatat rekor nasional dengan 49,6 derajat Celcius, perlahan menurun pada Rabu (30/6) silam.

Di hari yang sama, sekitar 15 kilometer di selatan desa, Jean McKay mengaku mulai mencium bau kebakaran, ketika mendapat perintah evakuasi. Di luar dia mendapati asap hitam membumbung tinggi dari desa.

Api menjalar sedemikian cepat, sebagian besar bangunan mulai terbakar hanya dalam tempo beberapa menit.

"Sebanyak 90 persen bangunan di dalam desa hangus terbakar, termasuk kantor desa,” kata seorang anggota legislatif lokal, Brad Vis, seperti dikutip AFP.

Kebakaran hutan dan lahan di barat Kanada dan Kalifornia, AS, itu memaksa ribuan orang mengungsi.

Suhu yang ekstrem, ditambah kekeringan, memicu bencana kebakaran di kedua negara. Provinsi British Columbia di Kanada misalnya mendeteksi 62 titik api baru dalam 24 jam terakhir.

"Saya sekali lagi menegaskan betapa ekstremnya risiko kebakaran hutan saat ini,” kata kepala pemerintahan provinsi, John Horgan.

Api diprediksi disebabkan oleh sambaran petir. Suhu udara yang terlampau tinggi dikabarkan memicu badai di sejumlah lokasi. Kebakaran menjalar selama sepekan sebelum mengamuk di Desa Lytton, klaim media-media lokal.

"Saya sedang duduk dan berpikir apa yang harus saya bawa,” kata McKay, sebelum menyadari dia harus meninggalkan semua harta bendanya. "Rasanya sulit, sangat sulit. Meninggalkan rumah yang kami bangun dan huni sejak bertahun-tahun adalah hal yang sulit.”

Kubah panas di langit Pasifik

Cuaca ekstrem di barat Kanada dan AS diklaim dipicu oleh sebuah fenomena langka bernama kubah panas, di mana kondisi atmosfer bertekanan tinggi memblokir hawa panas yang terangkat ke atas, dan memampatkannya kembali ke permukaan Bumi.

Biasanya angin mampu memindahkan kubah panas ke wilayah lain. Tapi ketinggian kubah di barat Kanada yang mencapai atmosfer Bumi membuatnya cendrung menetap.

Meski sulit mencari penyebab utama kemunculan kubah panas di langit Pasifik, pakar iklim meyakini kondisi ini dipicu oleh fenomena meningkatknya rata-rata temperatur Bumi.

Secara statistik, gelombang panas ekstrem di barat Kanada dan AS muncul sekali dalam 1.000 tahun dalam kondisi iklim yang normal. Tapi iklim Bumi yang tidak lagi normal mengindikasikan intensitas tinggi cuaca ekstrem yang akan semakin sering terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

"Durasi gelombang panas kali ini mengkhawatirkan,” tulis LSM lingkungan, Envionment Canada, dalam rilisnya, Kamis (1/7) pagi. Terutama tingginya temperatur udara "pada malam hari” memperparah situasi.

Hal serupa dialami warga di utara Kalifornia, AS. Saat ini sekitar 1.000 petugas pemadan kebakaran masih berusaha mengendalikan tiga kebekaran besar. Salah satunya mencakup area seluas 80 kilometer persegi, yang hingga kini baru seperempatnya dipadamkan.

Menurut perkiraan, gelombang panas dari Samudera Pasifik akan bergerak ke wilayah timur Amerika Utara dalam beberapa hari ke depan.

rzn/vlz (afp,ap)



Desa Lytton kini rata dengan tanah usai kebakaran hutan dan lahan melahap 90 persen bangunan desa. Beberapa hari silam kawasan ini didera gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor suhu udara nasional.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Stasiun TV di Indonesia Yang Menyiarkan Inovator
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Bali TV (Denpasar) : setiap Sabtu jam 16:30 Elshinta TV (Jakarta) : setiap Senin – Kamis jam...
Gula Aren Obat Diabetes dari Indonesia, Akan Berlaga di Pertemuan Puncak Sains Berlin 2021
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Pengidap diabetes mellitus harus berjuang mengatasi keseharian yang membosankan, untuk menjaga kadar...
SpaceX Inspiration4: Era Misi Luar Angkasa Warga Sipil Dimulai
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Misi SpaceX Inspiration4 bisa dibilang lebih dari sekadar sebuah wisata luar angkasa, bukan hanya ka...
iPhone 13 Resmi Dirilis, Perluas Konektivitas 5G dan Chip Baru
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Apple Inc meluncurkan iPhone 13 dan iPad Mini baru pada Selasa (14/09), memperluas konektivitas 5G d...
Awal Sebuah Harapan Setelah Gugatan Polusi Udara Dikabulkan Sebagian.
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Kamis (16/09) resmi mengabulkan sebagian gugatan pencemaran uda...
Citra Fantastis Jagad Raya Dari Teleskop Ruang Angkasa Hubble
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Teleskop Luar Angkasa Hubble selama lebih 30 tahun mengirimkan gambar-gambar menakjubkan dari sudut ...
Kisah Finalis Puteri Indonesia dari Papua Barat Hadapi Diskriminasi dan Rasisme
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Saat SMA, Olvah Alhamid perempuan asal Timika, Papua Barat, pindah ke Surabaya, Jawa Timur untuk men...
Kapan Vaksin Covid-19 Akan Tersedia?
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Di seluruh dunia saat ini tercatat ada 160 kandidat vaksin. 50 diantaranya sudah melakukan uji klini...
Masalah-masalah yang Jadi Isu Penting Uni Eropa Tahun 2021
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Temuan dalam survei Eurobarometer yang ditugaskan oleh Uni Eropa (UE) baru-baru ini sangat jelas: Wa...
Kasus COVID Meningkat Lagi di Beberapa Negara Bagian India
Jumat, 24 September 2021 - 10:40 WIB
Setelah gelombang kedua Pandemi COVID yang mematikan menyergap India pada bulan April dan Mei, kasus...
Live Streaming Radio Network