Industri Film Bollywood India Tidak Lepas dari Terjangan Krisis COVID-19
Elshinta
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:29 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Industri Film Bollywood India Tidak Lepas dari Terjangan Krisis COVID-19
DW.com - Industri Film Bollywood India Tidak Lepas dari Terjangan Krisis COVID-19

Sebagai industri film terbesar di dunia dilihat dari jumlah film yang diproduksi, industri film Bollywood di India juga tidak kebal dari terjangan pandemi virus corona. Industri ini telah terpukul sejak kali pertama diterapkannya penguncian COVID-19 di India pada Maret 2020. Produksi film-film besar ditangguhkan tanpa batas waktu, sementara ribuan bioskop ditutup, menyebabkan hilangnya lapangan pekerjaan.

"Ini adalah industri yang sudah menelan kerugian hingga jutaan, dan akan lebih buruk dari 2020 jika kerugian terus meningkat," kata seorang analis perdagangan senior kepada DW.

Industri film skala kecil 'Tollywood' berguguran

Sekitar 1.600-1.800 film dalam berbagai bahasa biasa diproduksi di India setiap tahunnya. Sekitar 200-250 di antaranya adalah film Hindi atau yang dikenal sebagai film Bollywood.

Pendapatan box office tahunan Bollywood mencapai sedikit di atas 30 miliar rupee atau sekitar 5,8 triliun rupiah. Namun kebijakan penutupan terkait COVID-19 di India telah membawa kerugian besar bagi banyak bioskop.

"Ini adalah situasi yang mengkhawatirkan. Banyak rilis besar telah terpukul, dan ini mengganggu seluruh rantai produksi. Kerugian telah terjadi dan yang mengkhawatirkan, tidak ada yang tahu kapan situasi akan kembali normal," analis perdagangan Taran Adarsh mengatakan kepada DW.

Industri film di India selatan atau yang dikenal dengan Tollywood kini tengah menghadapi krisis terburuk dengan kerugian yang diperkirakan mencapai 9 miliar rupee (sekitar Rp 1,7 triliun), karena banyak film, termasuk blockbuster yang belum dirilis.

Tidak seperti film dalam bahasa Kannada, Tamil, dan Telugu, di mana banyak rumah produksi besar disokong dana korporasi besar, sebagian besar film Tollywood yang diproduksi di Kerala, India selatan, dibuat oleh rumah produksi kecil.

"Industri film tengah mengalami kerugian besar-besaran. Saya harus merilis film saya, Bhoomi, lewat platform digital tahun ini. Pada akhirnya, kami butuh penonton untuk kembali dan bioskop agar dibuka supaya industri dinamis yang selama ini kami kenal tetap berlangsung," Sujatha Vijayakumar, seorang produser film Tamil, mengatakan kepada DW.

Ratusan ribu pekerja industri hiburan menganggur

Di seluruh negeri, teater dan multipleks film terbengkalai. Menurut laporan Ernst and Young 2020, India memiliki sekitar 9.527 bioskop dengan sekitar 6.327 layar tunggal dan 3.200 multipleks. Tahun lalu, sekitar 1.000 bioskop ditutup permanen.

Dengan ditutupnya ribuan bioskop di seluruh negeri, banyak karyawan, bukan hanya di bioskop, tetapi juga di rantai pasokan dan pemangku kepentingan lainnya ikut kesusahan. "Ini adalah situasi yang sulit," Gautam Dutta, CEO PVR Cinemas, mengatakan kepada DW.

"Diperkirakan industri sinema India telah kehilangan pendapatan teater hampir mencapai 120 miliar rupee pada 2020 hingga 2021. Ada juga dampak hilangnya tambahan pada pendapatan dari penjualan konsesi dan penjualan iklan di layar," tambah Dutta.

Menurut Federasi Karyawan di India Barat, lebih dari 250.000 pekerja, termasuk penghibur, penata rias, perancang set, tukang kayu, dan penari belakang panggung yang juga terkena dampak pandemi.

Alternatif pengganti bioskop

Saat ini, ruang-ruang di bioskop masih hampir kosong karena kebijakan penguncian atau lockdown di banyak wilayah di negara itu. Beberapa produser memilih untuk merilis film mereka di platform streaming tanpa menunggu rilis teater.

Karena para penggemar bioskop terpaksa tinggal di rumah, platform layanan media Over-the-top (OTT) telah berubah menjadi "layar lebar baru." Ada lebih dari 45 layanan OTT di India. Tren industri menunjukkan bahwa dengan akses ke jaringan, konektivitas digital, dan smartphone yang lebih baik, platform OTT di India semakin menarik banyak pelanggan setiap harinya.

Radhe, film budget Bollywood pertama yang dibintangi Salman Khan, ditunda beberapa kali untuk rilis teater tetapi kemudian ditayangkan di platform OTT pada bulan Mei. Beberapa film laris lainnya juga diperkirakan akan menyusul dalam beberapa bulan mendatang.

"Rumah produksi besar beralih ke platform OTT untuk rilis baru mereka. Kami harus mengambil lompatan besar dan beradaptasi. Sutradara, produser, dan bahkan aktor menyadari bahwa platform ini akan semakin relevan," kata produser film Sai Krishna kepada DW.

Pasar streaming India diperkirakan akan tumbuh 31% dari 2019 hingga 2024 dengan pendapatan mencapai 2,7 miliar dolar AS, menurut perusahaan konsultan Pricewaterhouse Coopers. Pendapatan bioskop diperkirakan turun 2,6% pada periode yang sama.

Paket isi ulang ponsel yang murah dan efisien, serta konektivitas internet yang baik telah memungkinkan penduduk pedesaan dan perkotaan untuk mengonsumsi konten video dengan kecepatan tinggi.

"Yang juga saya perhatikan adalah adanya perubahan nyata dalam preferensi menonton selama krisis ini, terutama di pedesaan India, di mana orang-orang menonton film di ponsel mereka. Orang-orang telah mengubah kesulitan menjadi keuntungan," kata aktor Shabana Azmi kepada DW.

Namun, banyak orang India masih mendambakan pengalaman menonton langsung di sinema dan menunggu pembukaan kembali gedung-gedung teater.

ae/yp



Kompleks bioskop di India tutup selama pandemi COVID-19. Ratusan film ditunda rilisnya tanpa batas waktu. Industri Bollywood yang menjual mimpi memperkirakan kerugian besar.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
HRW: Bendungan di Kamboja Hancurkan Kehidupan Puluhan Ribu Orang
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Organisasi internasional hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW), menyebutkan bendungan Lower Ses...
Bersepeda Solusi bagi Kemacetan dan Polusi di Mesir
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
ibu kota Mesir, Kairo, yang pada 2025 diprediksi akan menampung hingga 24 juta penduduk. Untuk menga...
Robot Jangkau Lokasi Yang Terlalu Berbahaya bagi Manusia
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Tragedi meledaknya reaktor nuklir di Fukushima mengingatkan kita tentang ancaman paparan zat radioak...
Penyandang Disabilitas dan Transpuan sebagai Model Fesyen
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Dunia mode sejak lama dikritik karena abai terhadap mereka yang dianggap tidak mewakili standar keca...
Kenali Pusar Anda
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Apakah pusarmu "masuk" atau "keluar"? Semua orang memiliki pusar, tetapi tidak ada yang sama. Kenapa...
Pakar Kuliner UGM: Nasi Goreng Indonesia Istimewa karena Beraneka Ragam
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Nasi goreng bukan hanya sekadar jadi salah satu kuliner unggulan nusantara yang disukai oleh banyak ...
Lewat Novel Sejarah, Penulis Akmal Nasery Basral Hidupkan Kembali Tokoh Kemerdekaan
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Di tengah perayaan HUT Kemerdekaan Ke-76 Republik Indonesia, penulis Akmal Nasery Basral, 53, berhar...
Pasangan Ini Bantu Ribuan Keluarga di Bali Bertahan Hidup saat Pandemi
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Di tengah pandemi COVID-19 yang kembali mengamuk, solidaritas warga justru tampak semakin menguat. S...
BNPT Perlu Waspada Euforia Taliban oleh Simpatisan Indonesia
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Keberhasilan Taliban menguasai ibu kota Kabul dan hampir seluruh wilayah di Afganistan dalam hitunga...
Angkot Indonesia di Jerman: Keburu Jauh, Apa Salah Jurusan?
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Warna-warni yang mencolok mendominasi sebuah angkutan kota (angkot) yang melaju di jalanan Kota Köl...
Live Streaming Radio Network