Isa kiri Isa kanan
Jadi Seperti Menteri Penerangan: Warga Indonesia Tertular COVID di Melbourne
Elshinta
Kamis, 13 Januari 2022 - 14:27 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Jadi Seperti Menteri Penerangan: Warga Indonesia Tertular COVID di Melbourne
ABC.net.au - Jadi Seperti Menteri Penerangan: Warga Indonesia Tertular COVID di Melbourne

Suzanna Martanti baru saja menyelesaikan masa isolasinya, setelah tes COVID-19 yang dilakukannya beberapa hari sebelum Tahun Baru menunjukkan hasil positif.

Sejak hari pertama menjalankan isolasi di rumah, Uchan, panggilan akrabnya, berbagi pengalamannya kepada hampir 10 ribu pengikutnya di Instagram.

"Aku itu jadi seperti menteri penerangan," kata Uchan asal Bandung yang tinggal Melbourne.

Pengikutnya, yang kebanyakan warga Indonesia di Australia, bertanya soal gejala yang ia rasakan, termasuk di mana membeli alat tes rapid antigen dan apa yang harus dilakukan saat isolasi.

Uchan tidak keberatan untuk berbagi pengetahuan, terlebih saat alat tes rapid antigen sedang sulit didapatkan di Australia dan tidak jelasnya aturan COVID-19 yang terus berubah-ubah.

"Bisa terasa sih ada perasaan takut dan panik di antara mereka yang sedang sakit atau jadi close contact [kontak erat]," ujarnya kepada Erwin Renaldi dari ABC News.

"

"Kita itu dari pernah ekstrem lockdown sampai jadi aturan yang longgar banget, jadinya banyak yang bingung."

"

Aturan terus berubah, tapi tetap kurang jelas

Uchan mengatakan ia jadi bisa menjawab beberapa pertanyaan dari teman-temannya karena bekerja di sektor kesehatan.

Tempat kerjanya secara rutin mengirimkan aturan COVID-19 terbaru di negara bagian Victoria yang lebih mudah dipahami.

Ia juga merasa bersyukur karena mendapatkan alat tes rapid antigen dari kantornya, sehingga bisa melakukan tes segera setelah merasakan gejala COVID-19.

"Enggak kebayang kan kalau yang jadi close contact, atau sedang sakit, tidak bisa mendapatkan alat tes antigen," ujar Uchan, yang suami dan anaknya pun ikut sakit.

Tapi ia memiliki tips agar setiap individu bisa tetap saling menjaga.

"

"Jadi saran aku, kalau memiliki gejala, seringan apa pun, kita harus memperlakukan diri kita sendiri seperti positif COVID. Jadi kita bisa ikut menghentikan penularan virus."

"

Anita Sajjah, warga Indonesia lainnya yang tinggal di kawasan Clyde, sekitar dari satu jam dari Melbourne, juga sudah ikut membantu komunitas Indonesia.

Bersama dengan anggota kelompok SKCC, serta didukung oleh Indonesian Muslim Community of Victoria dan Human Initiative Australia, Anita tidak hanya ikut membagikan informasi aturan COVID-19 yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tapi juga bantuan bagi yang sedang sakit atau sedang isolasi.

Paket bantuan berisi bahan makanan, kebutuhan pokok, serta obat-obatan, juga oxymeter untuk mengukur kadar oksigen, setelah mendapat saran dari dokter.

"Kita hanya mengisi kekosongan di saat Pemerintah [di Victoria] kewalahan saking banyaknya orang yang sakit secara bersamaan," ujar Anita.

Tapi di saat yang bersamaan, Anita juga mengaku merasa sampai "kewalahan" dengan tawaran bantuan dari warga Indonesia yang bersemangat saling membantu.

"Sampai ibu-ibu di komunitas kami membuat roster untuk menjadwalkan siapa yang memasak, siapa yang mengantarkan, giliran keluarga mana yang dibantu," jelasnya.

Departemen Kesehatan sudah membuat informasi COVID-19 terbaru dalam bahasa Inggris dengan bentuk infografik, misalnya.

Tapi Anita mengatakan akan sangat membantu jika informasi yang lebih mudah dicernah juga diterjemahkan dalam bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami.

'Lebih parah dari saat wabah Delta'

Pekan lalu, Pemerintah Australia mengubah kembali definisi 'close contact' atau kontak erat, yang artinya seseorang yang sudah menghabiskan waktu empat jam atau lebih bersama kasus positif dalam situasi seperti di rumah.

Tapi Len Wu, sempat kebingungan saat ia menjadi kontak erat, setelah orang di tempat kerjanya dinyatakan positif COVID-19.

Pemilik usaha jasa pelayanan kebersihan asal China ini mengaku sempat bingung saat mencari informasi di situs Departemen Kesehatan Victoria untuk mengetahui apa yang harus dilakukan, terutama soal berapa lama ia harus diisolasi.

"Saya merasa tak berdaya di saat yang sulit," ujar Len, yang mengaku hanya mengerti setengahnya saja dari penjelasan di situs Departemen Kesehatan Victoria.

Informasi yang tersedia dalam sejumlah bahasa, termasuk Bahasa Indonesia dan Bahasa Mandarin belum terlalu diperbarui oleh Departemen Kesehatan dan ABC telah menghubungi untuk meminta penjelasan.

Di Sydney, Srey Kang, seorang perawat, mendapat julukan sebagai Kerry Chant-nya komunitas warga Kamboja.

Kerry Chant adalah Kepala Petugas Kesehatan untuk negara bagian New South Wales yang sering tampil di televisi untuk menjelaskan kondisi terkini COVID-19.

"Komunitas kami benar-benar seperti tak tahu harus apa, sangat bingung, takut. Ini lebih parah dibandingkan saat wabah Delta," ujarnya.

"

"Pemerintah Australia seharusnya bisa melakukan lebih baik dari sekarang. Kita berada di titik terendah," kata Srey.

"

Hampir setiap hari ia mendapat telepon dari komunitas warga Kamboja yang kesulitan, termasuk mereka yang punya penyakit parah atau para pekerja di bidang konstruksi dan restoran.

"Kita tidak punya arahan, kita tak tahu harus mengarahkan mereka ke mana. Kita cuma bisa memberi tahu kalau punya gejala, diam di rumah, memberitahu tempat kerja mereka, melakukan isolasi mandiri, hanya itu."

'Mari kita selesaikan bersama'

Hajjeh Maha Abdo, kepala eksekutif dari Muslim Women Australia, mengatakan yang menjadi masalah saat ini sebenarnya bukanlah bahasa.

Karena bagi warga yang bahasa ibu-nya adalah bahasa Inggris pun, sama-sama kebingungan dengan informasi COVID-19 yang terus berubah.

"Setiap orang yang mengontak kami sepertinya mengalami kesulitan dalam mengikuti informasi terbaru dan pesan yang disampaikan [Pemerintah]," ujarnya.

Sejak liburan Natal, Muslim Women Australia yang berbasis di Lakemba, Sydney, sudah mendistribusikan 'COVID Care Packs', yang berisi termometer, alat pengukur oksigen dan tekanan darah, serta obat-obatan kepada yang membutuhkan.

Dalam tiga hari terakhir ada 400 warga yang menelepon Muslim Women Australia dan mereka berasal dari latar belakang berbeda.

Ia merasa Pemerintah tidak punya perencanaan yang baik untuk wabah COVID-19 saat ini, dengan kasus bisa mencapai puluhan ribu sehari di Sydney.

"Ini jadi seperti tsunami ... yang menyeret orang tanpa peringatan," katanya.

"Tapi mari kita selesaikan bersama-sama dan kita bisa melakukannya."

"

"Kita perlu berniat untuk bersama-sama, mengakui apa yang salah dan bagaimana kita bisa membuat keadaan jadi lebih baik."

"

Baca laporannya dalam bahasa Inggris atau bahasa Mandarin

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Oposisi Australia Menang Pemilu, Anthony Albanese Dilantik Jadi Perdana Menteri Baru
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Pemimpin Partai Buruh Anthony Albanese dilantik sebagai perdana menteri ke-31 Australia, setelah mem...
Dari Perumahan Rakyat ke Kursi Perdana Menteri Australia, Inilah Sosok Anthony Albanese
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Gubernur Jenderal Australia baru saja melantik Anthony Albanese sebagai Perdana Menteri yang ke-31, ...
Mantan Pengungsi Dai Le Terpilih Jadi Anggota Parlemen Federal Australia
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Seorang perempuan asal Vietnam yang pernah tinggal di kamp pengungsi di Filipina Dai Le telah terpil...
Mengapa Aktivis Lingkungan Indonesia tidak Senang dengan Peluang Investasi Nikel Tesla
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Dua minggu lalu Presiden Indonesia Joko Widodo bersama pemimpin ASEAN lainnya mengunjungi Washingto...
Saya Hampir Menangis: Seberapa Besar Peran Warga China Australia bagi Kemenangan Partai Buruh?
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Bersama dengan jutaan warga Australia lainnya, Anna Wang memberikan suaranya untuk Partai Buruh di p...
Warga Denmark Ini Menghabiskan Hampir 10 Tahun Keliling Dunia Tanpa Jalur Udara
Selasa, 24 Mei 2022 - 15:40 WIB
Warga Denmark Torbjørn "Thor" Pedersen tidak pernah menyangka perjalanan keliling dunia y...
Kemenangan Caleg Partai Buruh Sam Lim Sangat Mengejutkan dalam Pemilu Australia
Senin, 23 Mei 2022 - 10:01 WIB
Kemenangan Sam Lim warga asal Malaysia menjadi anggota parlemen federal baru di Australia adalah sal...
Kasus Cacar Monyet Pertama Diperkirakan Diidap Seorang Pria di Sydney yang Baru Pulang dari Eropa
Sabtu, 21 Mei 2022 - 08:41 WIB
Pihak berwenang bidang kesehatan di Sydney mengatakan bahwa seorang pria berusia 40-an mungkin men...
Patut Dicoba: Warga Indonesia Rela ke Pedalaman Australia Demi Mendapatkan Status Penduduk Tetap
Jumat, 20 Mei 2022 - 11:12 WIB
Christoper Reno Budiman mengaku hidupnya berubah 180 derajat sejak pindah ke Kangaroo Island, Austra...
Program Penjualan Minyak Goreng Indonesia Dilakukan di 10 Ribu Lokasi Untuk Menurunkan Harga Pasaran
Jumat, 20 Mei 2022 - 11:12 WIB
Menteri Perdagangan Indonesia Muhammad Lutfi mengatakan harga minyak goreng akan stabil segera setel...
InfodariAnda (IdA)