Iran di Bawah Rouhani: Marjinalisasi Kelas Menengah
Elshinta
Rabu, 16 Juni 2021 - 10:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Iran di Bawah Rouhani: Marjinalisasi Kelas Menengah
DW.com - Iran di Bawah Rouhani: Marjinalisasi Kelas Menengah

Menjelang pemilihan umum Kepresidenan di Iran pada Jumat (18/6) mendatang, Hassan Rouhani menimbang warisan politiknya selama delapan tahun berkuasa. Jika prediksinya benar, maka kandidat ultrakonservatif, Ebrahim Raisi, yang akan menggantikannya di pucuk pemerintahan Iran.

Rouhani adalah figur yang awalnya dirayakan sebagai agen perubahan Iran, pasca tahun-tahun kekuasaan Mahmoud Ahmadinejad yang dipenuhi kontroversi sebagai presiden Iran.

"Dia, di atas segalanya, ingin meliberalisasi perekonomian Iran dan mengembangkan sektor swasta lewat investasi asing,” kata Thierry Coville, pengamat Iran di Institute for International and Strategic Relations (IRIS) di Paris, Prancis.

Tapi apa lacur, takdirnya bertaut dan bersilangan dengan masa kekuasaan Presiden AS Donald Trump, yang "menginjak-injak” harapan terbesar Rouhani.

Tiga tahun lalu, Trump mencabut dukungan AS terhadap Perjanjian Nuklir 2015, yang menjanjikan pencabutan embargo ekonomi sebagai ganti pembatasan program nuklir Iran, dan komitmen nonproliferasi senjata nuklir oleh Teheran.

Trump tidak hanya membatalkan perjanjian, tetapi juga kembali menerapkan sanksi yang mencekik perekonomian Iran, antara lain dengan menutup keran ekspor minyak. Akibatnya perekonomian Iran anjlok sebanyak enam persen pada 2018 dan 2019, menurut analisa Dana Moneter International (IMF).

Situasi Iran terkini diperparah dengan munculnya pandemi virus corona.

Kekecewaan kaum berpendidikan

Rouhani menyalahkan "perang ekonomi” yang dilancarkan Trump di balik lonjakan harga bahan pokok dan merosotnya daya beli masyarakat. Namun kaum reformis menilai kegagalan terbesarnya adalah menyusutnya ruang kebebasan di Iran.

Meski polisi moral sudah jarang terlihat berpatroli di jalan-jalan kota, pemerintah Iran tidak jengah menumpas gerakan sipil yang menentang kewajiban berjilbab bagi perempuan pada 2018 silam.

Selama masa jabatannya, Rouhani mengawasi aksi brutal aparat keamanan membubarkan dua gelombang demonstrasi massal yang menimbulkan korban jiwa. Pertama pada musim dingin 2017-2018, dan kedua pada November 2019 silam.

Saat ini sejumlah aktivis HAM, terutama pegiat hak perempuan, masih mendekam di penjara atau menghadapi ancaman bui. "Kelas menengah berpendidikan di kota-kota besar secara umum sangat kecewa terhadap Rouhani,” kata Coville.

"Warga memahami apa yang terjadi tapi mereka berharap Rouhani akan lebih gigih menghadang pengaruh kaum radikal,” imbuh pengamat Iran di IRIS itu merujuk kepada kaum ultrakonservatif Iran.

Adapun bagi Clement Therme, seorang pakar Iran di European University Institute di Fiorentina, Italia, "keberhasilan terbesar” sang presiden adalah menegosiasikan "kompromi diplomatis dengan Washington tanpa melanggar garis merah rezim.”

Sementara "kegagalan terbesarnya terlihat pada melemahnya kelas menengah,” dan "perlawanan” kelas buruh yang membayangi masa jabatan keduanya, pungkas Therme.

rzn/as (afp, ap)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Membujur di Tepian Laut, Kota-kota Pesisir Hadapi Ancaman Mematikan
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:29 WIB
Pesisir laut selama berabad-abad jadi pusat lalu lintas perdagangan antar negara, pembangunan, dan p...
Rekor Suhu Terpanas Dunia dalam Sejarah
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:29 WIB
Entah itu di Lapland, Kanada atau India, suhu musim panas tahun ini lebih panas dari biasa. Bahkan b...
Robot Gantikan Tugas Penyapu Ranjau
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:29 WIB
Bagi Afghanistan yang remuk oleh perang, gagasan sekelompok remaja perempuan untuk kembangkan robot ...
Sengatan Bau Berbahaya dari Timbunan Sampah
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:29 WIB
Manajemen sampah adalah salah satu tantangan masa depan yang hingga kini masih sebabkan masalah ling...
Mengukir Pakaian dari Sebongkah Kayu
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:29 WIB
Pakaian hasil karya Jessi Strixner bukan untuk dikenakan, melainkan dipajang. Pematung asal Jerman i...
Membaca Kembali Kemerdekaan Timor Leste
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:29 WIB
Dari pembicaraan di dataran tinggi Dieng yang beriklim sejuk dan rumah bagi sekian banyak candi-cand...
Berkisah Tentang Anne Frank, Debut Film Animasi di Festival Film Cannes
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:29 WIB
Buku Harian Anne Frank, kisah pencurahan harapan dan impian seorang gadis muda Yahudi ketika bersemb...
Industri Film Bollywood India Tidak Lepas dari Terjangan Krisis COVID-19
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:29 WIB
Sebagai industri film terbesar di dunia dilihat dari jumlah film yang diproduksi, industri film Boll...
Ribuan Anak yang Jadi Yatim Piatu Saat Pandemi Butuh Perhatian
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:29 WIB
Di tengah situasi pagebluk Covid-19 di Indonesia yang semakin memburuk dan angka kematian pasien yan...
Pelajaran tentang Pentingnya Siaga Bencana dari Pembuat Film Asal Belanda
Jumat, 23 Juli 2021 - 09:29 WIB
Produser film Belanda, Johan Nijenhuis, masih pelajar pertukaran berusia 16 tahun ketika ia pertama ...
Live Streaming Radio Network