Afghanistan Pasca NATO: Di Bawah Bayang-bayang Negara Jiran
Elshinta
Rabu, 16 Juni 2021 - 10:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Afghanistan Pasca NATO: Di Bawah Bayang-bayang Negara Jiran
DW.com - Afghanistan Pasca NATO: Di Bawah Bayang-bayang Negara Jiran

Bersamaan dengan hengkangnya koalisi pimpinan Amerika Serikat, Afghanistan mengukuhkan reputasinya sebagai kuburan bagi imperium dunia.

Sejarah negeri di jantung Hindukush itu dipenuhi invasi kekuatan asing, mulai dari Aleksander Agung, Kekhalifahan Rasyidin, Jengis Khan hingga Uni Sovyet, dan selalu berada di bawah radar adidaya dunia, dulu hingga sekarang.

Afghanistan adalah negeri multietnis yang bertetangga dengan Iran di barat, Pakistan dan India di timur, Cina di timur laut, serta kawasan kaya gas di Asia Tengah yang membentang hingga ke Rusia.

Bagi para jiran itu, negeri yang carut marut oleh perang ini memiliki nilai politik penting, meski untuk alasan yang berbeda-beda. Sebabnya penarikan mundur pasukan AS menciptakan kevakuman yang membuka pintu bagi masuknya pengaruh asing.

Thomas Ruttig dari Afghan Analyst Network, meyakini situasi di Afghanistan belum akan mereda dalam waktu dekat. "Kepentingan masing-masing negara tetangga saling bertentangan antara satu sama lain,” kata dia kepada DW.

Dalam banyak kasus, "percekcokan dan ketegangan bilateral atau multilateral antar jiran diselesaikan di medan Afghanistan,” imbuhnya.

India versus Pakistan

Fenomena ini bisa disimak pada hubungan segitiga dengan jiran di timur. Ketika India deras mendukung pemerintah di Kabul, Taliban merupakan "kartu politik terbaik bagi Pakistan di Afghanistan,” kata Ruttig.

Islamabad melihat Afghanistan sebagai halaman belakang. Kedua negara tidak hanya terikat oleh kebudayaan, melainkan juga ruang hidup geografis yang sama. "Hal ini kerap menghasilkan ketegangan diplomatis dengan pemerintah di Kabul,” tuturnya.

Saat ini AS sedang mempertimbangkan untuk memindahkan pangkalan militernya ke Pakistan. "Hal ini sedang diperdebatkan secara intensif di Washington,” kata Andrew Watkins, analis International Crisis Group.

Menurutnya, Pentagon ingin "mempertahankan kapasitas serangan drone dan serangan udara” di kawasan. Meski dibantah, Mei silam Taliban mewanti-wanti Islamabad agar tidak menampung militer AS di wilayahnya.

Tapi Ruttig menyimpulkan, "kita tidak bisa mengharapkan niat baik Pakistan, jika menyangkut Afghanistan.”

Pragmatisme Cina dan Iran

Gu Xuewu, Direktur Center for Global Studies di Bonn, menyimpulkan sikap mendua pada reaksi Beijing terhadap penarikan mundur militer AS. Meski bermusuhan, Cina diuntungkan oleh upaya AS membatasi pengaruh Taliban,” kata dia.

"Ketakutan terbesar ada pada Xinjiang, hal lain tidak penting bagi Beijing,” kata Gu. Provinsi yang dihuni minoritas muslim Uighur itu berbatasan secara langsung dengan Afghanistan. Belakangan dilaporkan, separatis Uighur berbaiat kepada ISIS dan aktif berlatih di Hindukush.

Sikap ambigu juga ditunjukkan pemerintah Iran. Meski menganggap keberadaan pasukan AS sebagai "sebuah ancaman,” Teheran ingin menghindari "kehancuran total dan bencana kemanusiaan di negara jiran,” kata Andrew Watkins.

"Situasinya serupa dengan Cina,” imbuh Thomas Ruttig. "Walaupun bermusuhan dengan AS, mereka menikmati stabilitas yang tercipta oleh keberadaan pasukan NATO.”

Berkaitan dengan Iran, Watkins meyakini kepentingan terbesar Teheran di Afghanistan adalah tidak memicu ketegangan tak perlu dengan AS, di tengah perundingan Perjanjian Nuklir 2015.

rzn/as

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Stasiun TV di Indonesia Yang Menyiarkan Inovator
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:46 WIB
Bali TV (Denpasar) : setiap Sabtu jam 16:30 Elshinta TV (Jakarta) : setiap Senin – Kamis jam...
Rekor Suhu Terpanas Dunia dalam Sejarah
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:46 WIB
Entah itu di Lapland, Kanada atau India, suhu musim panas tahun ini lebih panas dari biasa. Bahkan b...
Waspada Kemungkinan Terciptanya Varian Baru Virus Corona asal Indonesia
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:46 WIB
Pekan ini Indonesia terus mencetak rekor kenaikan jumlah harian kasus COVID-19 yang tercatat 47,899 ...
Kompor Tenaga Surya Bantu Warga Tanpa Listrik
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:46 WIB
Kompor tenaga surya buatan Afganistan bisa mendidihkan air hingga 100&...
Kenali Kanker dengan Tes Pernapasan
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:46 WIB
Hidung anjing bisa mendeteksi kanker paru-paru. Anjing bernama Bizzi memang dilatih untuk itu. Hewan...
Membaca Kembali Kemerdekaan Timor Leste
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:46 WIB
Dari pembicaraan di dataran tinggi Dieng yang beriklim sejuk dan rumah bagi sekian banyak candi-cand...
Berkisah Tentang Anne Frank, Debut Film Animasi di Festival Film Cannes
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:46 WIB
Buku Harian Anne Frank, kisah pencurahan harapan dan impian seorang gadis muda Yahudi ketika bersemb...
Industri Film Bollywood India Tidak Lepas dari Terjangan Krisis COVID-19
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:46 WIB
Sebagai industri film terbesar di dunia dilihat dari jumlah film yang diproduksi, industri film Boll...
Ribuan Anak yang Jadi Yatim Piatu Saat Pandemi Butuh Perhatian
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:46 WIB
Di tengah situasi pagebluk Covid-19 di Indonesia yang semakin memburuk dan angka kematian pasien yan...
Pelajaran tentang Pentingnya Siaga Bencana dari Pembuat Film Asal Belanda
Jumat, 30 Juli 2021 - 08:46 WIB
Produser film Belanda, Johan Nijenhuis, masih pelajar pertukaran berusia 16 tahun ketika ia pertama ...
Live Streaming Radio Network