Serangan di Afghanistan Hanya Fokus Untuk Cegah Serangan terhadap AS dan Sekutu
Elshinta
Selasa, 15 Juni 2021 - 09:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Serangan di Afghanistan Hanya Fokus Untuk Cegah Serangan terhadap AS dan Sekutu
VOA Indonesia - Serangan di Afghanistan Hanya Fokus Untuk Cegah Serangan terhadap AS dan Sekutu
AS tidak berencana untuk mendukung pasukan Afghanistan dengan serangan udara setelah penarikan pasukan AS tuntas, dan serangan kontraterorisme di Afghanistan akan dibatasi pada kejadian sewaktu rencana serangan itu diketahui untuk menarget wilayah Amerika atau sekutu-sekutunya, kata seorang komandan senior AS di Timur Tengah. “Ini akan menjadi alasan bagi suatu serangan yang kami lakukan di Afghanistan setelah kami pergi, ini kalau kami telah mengungkap ada seseorang yang ingin menyerang tanah air Amerika Serikat, salah satu sekutu dan mitra kami,” kata Jenderal Frank McKenzie, panglima Komando Sentral AS, CENTCOM, kepada VOA dalam wawancara eksklusif  sewaktu ia mengunjungi kawasan itu dengan pesawat militer AS. Pernyataan McKenzie itu tampaknya untuk membantah laporan the New York Times yang menyebutkan Pentagon sedang mempertimbangkan otorisasi bagi pelaksanaan serangan udara untuk mendukung pasukan keamanan Afghanistan jika Kabul atau kota besar lainnya terancam jatuh ke pihak Taliban. Deskripsi McKenzie mengenai keterlibatan AS di Afghanistan setelah penarikan pasukan itu bertepatan dengan serangan kontrateror yang terbatas terhadap ISIS dan al-Qaida sementara Pentagon memprioritaskan persaingan dengan Tiongkok dan Rusia. Ia mengatakan kekuatan pasukannya di Timur Tengah kini “mendekati 40 ribu,” suatu penurunan signifikan dari jumlahnya 18 bulan silam, sewaktu angkanya berkisar antara 60 ribu-80 ribu tentara. Sejak Presiden Joe Biden menjabat, ia telah memerintahkan penarikan penuh pasukan AS dari Afghanistan  dan mengurangi dukungan militer AS bagi ofensif pimpinan Saudi terhadap pemberontak Houthi dukungan Iran di Yaman, sementara Pentagon telah memindahkan kapal, sistem persenjataan dan pasukan keluar dari negara-negara Timur Tengah lainnya. McKenzie mengatakan penarikan dari Afghanistan merupakan peristiwa besar yang telah menguras sumber daya, bukan hanya di seluruh komandonya, tetapi juga di Komando Transportasi AS yang membantu mengangkut personel dan peralatan militer AS ke berbagai lokasi di seluruh dunia. Sumber daya itu akan terus terkuras, katanya kepada VOA, sementara pesawat AS akan terbang dari pangkalan-pangkalan berjarak ribuan kilometer jauhnya untuk mengumpulkan intelijen dan melakukan pengintaian, serta untuk “mempertahankan tekanan” terhadap teroris di Afghanistan. Rencana “Berjalan Baik” Para pakar dan mantan komandan telah mengemukakan keprihatinan mengenai kurangnya rincian terkait keamanan Afghanistan setelah penarikan pasukan AS.  “Rencananya berjalan sangat baik,” kata McKenzie, sambil menunggu Departemen Pertahanan melansir informasi lebih lanjut. Jenderal purnawirawan Joseph Votel, mantan panglima CENTCOM, mengatakan kepada VOA ia berharap akan melihat “rencana yang lebih komprehensif mengenai seperti apa penarikan itu” untuk membuat pemerintah dan pasukan Afghanistan memiliki “pijakan terbaik yang dapat kami tinggalkan.” Ia menyebutkan penarikan pasukan AS dari Irak tahun 2011 sebagai “pendekatan yang jauh lebih penuh pertimbangan” yang meninggalkan suatu misi yang besar dan unsur kerja sama keamanan pasukan khusus di lapangan. [uh/ab]    
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
100 Demonstran Didakwa Menghina Raja Thailand 
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Lebih dari 100 pengunjuk rasa didakwa berdasar undang-undang penghinaan terhadap kerajaan Thailand s...
Studi: Vaksin Dua Dosis Kurangi Risiko Tertular Varian Delta 50-60%
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Sebuah studi yang dilakukan sejumlah peneliti di Inggris menemukan risiko penularan dari varian Delt...
2030, Singapura Akan Tambah Jumlah CCTV Jadi Lebih dari 200 Ribu
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Menteri Dalam Negeri Singapura, K. Shanmugam, Selasa (3/8), mengatakan negara tersebut berencana men...
PM Malaysia Tolak Mundur Setelah Sekutu Utama Tolak Dukungan
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin menolak untuk mengundurkan diri, Rabu (4/8), setelah sekut...
Diplomat Brunei Ditunjuk Sebagai Utusan ASEAN untuk Myanmar
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Para menteri luar negeri negara-negara Asia Tenggara, Rabu (4/8), memilih Menteri Luar Negeri Kedua ...
New York Times: FDA Akan Beri Persetujuan Penuh Vaksin Pfizer pada September
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Badan Pengawasan Makanan dan Obat AS (FDA) menargetkan untuk memberi persetujuan penuh bagi vaksin C...
Penjabat Menhan Afghanistan Jadi Target Serangan Bom, 8 Tewas
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Sebuah serangan bom yang menarget penjabat menteri pertahanan Afghanistan menewaskan sedikitnya dela...
Atlet Olimpiade Belarus Tsimanouskaya Bertolak ke Wina
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Seorang atlet Olimpiade Belarus yang mengatakan ia menghadapi hukuman jika kembali ke negaranya, har...
Kepala USAID Desak Pembukaan Akses Bantuan Kemanusiaan di Tigray
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Kepala Badan Pembangunan Internasional AS Samantha Power, Rabu (4/8) dijadwalkan bertemu dengan para...
Pemerintah Belum Putuskan Sertifikat Vaksinasi Jadi Syarat Kegiatan Masyarakat
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Satgas Penanganan COVID-19 menilai vaksinasi belum mampu gantikan efektifitas penerapan protokol kes...
Live Streaming Radio Network