Selandia Baru Minta Maaf Atas Tindakan Imigrasi Masa Lalu
Elshinta
Selasa, 15 Juni 2021 - 09:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Selandia Baru Minta Maaf Atas Tindakan Imigrasi Masa Lalu
VOA Indonesia - Selandia Baru Minta Maaf Atas Tindakan Imigrasi Masa Lalu
Pemerintah Selandia Baru meminta maaf atas penindakan keimigrasian yang keras hampir 50 tahun lalu terhadap orang-orang Pasifik. Pengumuman permintaan maaf itu secara resmi disampaikan Perdana Menteri Jacinda Ardern dan Menteri Urusan Orang-orang Pasifik Aupito William Sio, Senin (14/6). Sewaktu mengumumkannya, Sio mengungkapkan betapa ia mengenang hari yang menakutkan selama masa kecilnya ketika sejumlah polisi dengan anjing gembala Jerman muncul di rumah keluarganya sebelum fajar dan menyorotkan senter ke wajah mereka sementara ayahnya berdiri di sana tak berdaya.  Sio, dan seperti banyak orang-orang Pasifik lainnya, saat itu menjadi korban  program deportasi yang saat ini dikenal sebagai Dawn Raids atau Penggerebekan Fajar. Saat itu, sekitar pertengahan 1970-an, orang-orang Kepulauan Pasifik menjadi sasaran deportasi pemerintah.  Pihak berwenang melakukan   penggerebekan dari rumah ke rumah secara agresif untuk menemukan, menghukum, dan mendeportasi orang yang tinggal lebih lama daripada izin tinggalnya.  Penggerebekan itu sering dilakukan pada dini hari atau larut malam. “Kami sebagai komunitas merasa diundang untuk datang ke Selandia Baru. Kami menanggapi panggilan untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja, seperti kami memenuhi panggilan akan kebutuhan tentara pada tahun 1914,” kata Sio. Namun kemudian, katanya,  pemerintah mengabaikan mereka ketika merasa para pekerja itu sudah tidak dibutuhkan lagi. Ardern mengatakan bahwa pada saat itu, orang-orang yang tidak terlihat seperti orang kulit putih Selandia Baru diberitahu mereka harus membawa kartu identitas untuk membuktikan bahwa mereka tidak melebihi izin tinggal, dan sering diperiksa secara acak di jalan, atau bahkan di sekolah atau gereja.  Ia mengatakan orang-orang Pasifik sering diseret ke pengadilan dengan hanya mengenakan pakaian tidur mereka dan tanpa perwakilan hukum yang layak. “Tidak hanya diincar, mereka juga menjadi sasaran praktik yang benar-benar tidak manusiawi, yang benar-benar meneror orang-orang di rumah mereka,” kata Ardern. Ia mengatakan bahwa ketika catatan imigrasi terkomputerisasi mulai diperkenalkan pada 1977, fakta menunjukkan bahwa 40% dari mereka yang melebihi izin tinggal umumnya orang Inggris atau Amerika, kelompok yang tidak pernah menjadi target deportasi. "Penggerebekan itu, menciptakan luka yang dalam," kata Ardern.  “Sementara kita tidak dapat mengubah sejarah, kita dapat mengakuinya, dan kita dapat berusaha untuk memperbaiki kekeliruan. Permintaan maaf lebih resmi akan dilangsungkan pada acara peringatan peristiwa itu pada 26 Juni di Auckland. Ardern mengatakan ini adalah ketiga kalinya pemerintah membuat permintaan maaf seperti itu. [ab/uh]        
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
100 Demonstran Didakwa Menghina Raja Thailand 
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Lebih dari 100 pengunjuk rasa didakwa berdasar undang-undang penghinaan terhadap kerajaan Thailand s...
Studi: Vaksin Dua Dosis Kurangi Risiko Tertular Varian Delta 50-60%
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Sebuah studi yang dilakukan sejumlah peneliti di Inggris menemukan risiko penularan dari varian Delt...
2030, Singapura Akan Tambah Jumlah CCTV Jadi Lebih dari 200 Ribu
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Menteri Dalam Negeri Singapura, K. Shanmugam, Selasa (3/8), mengatakan negara tersebut berencana men...
PM Malaysia Tolak Mundur Setelah Sekutu Utama Tolak Dukungan
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin menolak untuk mengundurkan diri, Rabu (4/8), setelah sekut...
Diplomat Brunei Ditunjuk Sebagai Utusan ASEAN untuk Myanmar
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Para menteri luar negeri negara-negara Asia Tenggara, Rabu (4/8), memilih Menteri Luar Negeri Kedua ...
New York Times: FDA Akan Beri Persetujuan Penuh Vaksin Pfizer pada September
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Badan Pengawasan Makanan dan Obat AS (FDA) menargetkan untuk memberi persetujuan penuh bagi vaksin C...
Penjabat Menhan Afghanistan Jadi Target Serangan Bom, 8 Tewas
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Sebuah serangan bom yang menarget penjabat menteri pertahanan Afghanistan menewaskan sedikitnya dela...
Atlet Olimpiade Belarus Tsimanouskaya Bertolak ke Wina
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Seorang atlet Olimpiade Belarus yang mengatakan ia menghadapi hukuman jika kembali ke negaranya, har...
Kepala USAID Desak Pembukaan Akses Bantuan Kemanusiaan di Tigray
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Kepala Badan Pembangunan Internasional AS Samantha Power, Rabu (4/8) dijadwalkan bertemu dengan para...
Pemerintah Belum Putuskan Sertifikat Vaksinasi Jadi Syarat Kegiatan Masyarakat
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Satgas Penanganan COVID-19 menilai vaksinasi belum mampu gantikan efektifitas penerapan protokol kes...
Live Streaming Radio Network