Di Kongo, Tari Jadi Terapi Bagi Korban Pemerkosaan
Elshinta
Selasa, 15 Juni 2021 - 09:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Di Kongo, Tari Jadi Terapi Bagi Korban Pemerkosaan
VOA Indonesia - Di Kongo, Tari Jadi Terapi Bagi Korban Pemerkosaan
Di sebuah pusat rehabilitasi di Bukavu, Republik Demokratik Kongo, menari ditawarkan sebagai salah satu metoda terapi bagi perempuan korban kekerasan seksual. Amia Lusambo, seorang penari, tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu setelah melihat sejumlah perempuan korban kekerasan seksual di Rumah Sakit Ponzi seolah tenggelam dalam trauma mereka. Mereka sering tercenung dalam diam, dan tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka. Lusambo pun menawarkan kelas tari di pusat rehabilitasi yang menjadi bagian dari rumah sakit itu. Hasilnya, perempuan-perempuan itu bisa kembali tersenyum dan menemukan kedamaian. "Saya mulai melakukan ini karena perempuan-perempuan yang datang ke fasilitas kami dalam keadaan diam. Mereka diperkosa di usia muda dan mereka tidak tahu bagaimana mengekspresikan diri," kata Lusambo. Rumah Sakit Ponzi didirikan oleh Denis Mukwege, seorang ginekolog Kongo yang meraih Nobel Perdamaian pada 2018 atas usahanya mengakhiri penggunaan kekerasan seksual sebagai senjata perang dan konflik bersenjata. Menurut pihak berwenang rumah sakit itu, mereka telah merawat puluhan ribu penyintas kekerasan seksual dalam 20 tahun operasinya. Mukwege sendiri mendorong prakarsa Lusambo. “Lebih dari 60.000 perempuan telah dirawat di sini. Kami menawarkan perawatan holistik, yang berarti kami tidak hanya melakukan perawatan medis. Kami juga melakukan perawatan psikologis, kami mendukung perempuan untuk mengintegrasikan mereka kembali ke masyarakat dengan memberdayakan mereka. Secara ekonomi kita dukung mereka. Lalu pilar keempat dari kepedulian holistik kita adalah kita mendampingi mereka di hadapan hakim.” Seorang perempuan berusia 20 tahun di kelas Lusambo mengatakan menari telah membebaskannya perasaan nyeri dan ketakutan yang dipendamnya dalam-dalam. Menari, katanya, memungkinkannya untuk tidur dengan tenang dan tersenyum lagi. Tiga tahun lalu, perempuan yang meminta untuk tidak disebutkan namanya itu mengatakan bahwa ia diperkosa dan dibiarkan mati oleh pria tak dikenal yang mengenakan seragam militer di desanya di provinsi Kivu Selatan, di mana kekerasan seksual telah menjadi ciri kerusuhan selama lebih dari 20 tahun. Ia tidak tahu apakah pria itu tentara atau seseorang dari kelompok milisi. Keluarga perempuan muda itu tidak mengadukan kejadian itu ke pihak berwenang karena mereka takut akan pembalasan. Orang tuanya membawanya ke Rumah Sakit Ponzi di Bukavu. Reuters tidak dapat mengkonfirmasi ceritanya secara independen. Para ahli mengatakan Kongo telah membuat beberapa kemajuan dalam memerangi kekerasan seksual dan beberapa pemimpin milisi tinggi dan komandan militer telah dituntut karena pemerkosaan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kasus kekerasan seperti itu tetap meluas. Sewaktu ditanya tentang catatan kekerasan seksual militer di wilayahnya, seorang juru bicara militer Kongo mengatakan beberapa anggota militer yang tidak disiplin telah melakukan pemerkosaan di masa lalu, tetapi militer berusaha menyeret para pelakunya ke pengadilan. Ia juga mengatakan bahwa tingkat kasus kekerasan seksual telah menurun secara signifikan. PBB mengatakan, alasan mengapa pemerkosaan sering terjadi di Kongo timur sangat kompleks, tetapi status perempuan yang terkikis dan struktur komando yang terfragmentasi dalam milisi dan pasukan keamanan negara itu telah menyebabkan merajalelanya penggunaan kekerasan seksual sebagai taktik militer. [ab/uh]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
100 Demonstran Didakwa Menghina Raja Thailand 
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Lebih dari 100 pengunjuk rasa didakwa berdasar undang-undang penghinaan terhadap kerajaan Thailand s...
Studi: Vaksin Dua Dosis Kurangi Risiko Tertular Varian Delta 50-60%
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Sebuah studi yang dilakukan sejumlah peneliti di Inggris menemukan risiko penularan dari varian Delt...
2030, Singapura Akan Tambah Jumlah CCTV Jadi Lebih dari 200 Ribu
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Menteri Dalam Negeri Singapura, K. Shanmugam, Selasa (3/8), mengatakan negara tersebut berencana men...
PM Malaysia Tolak Mundur Setelah Sekutu Utama Tolak Dukungan
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin menolak untuk mengundurkan diri, Rabu (4/8), setelah sekut...
Diplomat Brunei Ditunjuk Sebagai Utusan ASEAN untuk Myanmar
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Para menteri luar negeri negara-negara Asia Tenggara, Rabu (4/8), memilih Menteri Luar Negeri Kedua ...
New York Times: FDA Akan Beri Persetujuan Penuh Vaksin Pfizer pada September
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Badan Pengawasan Makanan dan Obat AS (FDA) menargetkan untuk memberi persetujuan penuh bagi vaksin C...
Penjabat Menhan Afghanistan Jadi Target Serangan Bom, 8 Tewas
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Sebuah serangan bom yang menarget penjabat menteri pertahanan Afghanistan menewaskan sedikitnya dela...
Atlet Olimpiade Belarus Tsimanouskaya Bertolak ke Wina
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Seorang atlet Olimpiade Belarus yang mengatakan ia menghadapi hukuman jika kembali ke negaranya, har...
Kepala USAID Desak Pembukaan Akses Bantuan Kemanusiaan di Tigray
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Kepala Badan Pembangunan Internasional AS Samantha Power, Rabu (4/8) dijadwalkan bertemu dengan para...
Pemerintah Belum Putuskan Sertifikat Vaksinasi Jadi Syarat Kegiatan Masyarakat
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Satgas Penanganan COVID-19 menilai vaksinasi belum mampu gantikan efektifitas penerapan protokol kes...
Live Streaming Radio Network