AS Hendaknya Hadapi Masalah Pekerja Anak di Negerinya Sendiri
Elshinta
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
AS Hendaknya Hadapi Masalah Pekerja Anak di Negerinya Sendiri
CRI - AS Hendaknya Hadapi Masalah Pekerja Anak di Negerinya Sendiri

Hari ini adalah Hari Anti Pekerja Anak Sedunia. Menjelang hari itu, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan UNICEF bersama-sama mengeluarkan laporan terbaru yang menyatakan bahwa jumlah pekerja anak global tahun ini meningkat kembali untuk pertama kalinya selama 20 tahun terakhir ini. Sementara itu, di depan Konferensi Perburuhan Internasional ke-109 di Jenewa, isu kerja paksaan dan perekrutan pekerja anak di Amerika Serikat (AS) dikritik secara luas. Banyak analis berpendapat, AS harus bertanggungjawab atas menggawatnya masalah pekerja anak global.

Menurut statistik, kini di AS terdapat sekitar 500 ribu pekerja anak yang terlibat dalam pekerjaan pertanian. Menurut the Washington Post, dari tahun 2003 hingga 2016, terdapat 452 anak tewas akibat luka pada waktu kerja, di antaranya 237 anak meninggal dalam kecelakaan pertanian.

Penderitaan anak-anak itu hanya merupakan bagian masalah pelanggaran HAM sistemik di AS. Menurut data terkait, jumlah pekerja yang dijual ke seluruh AS untuk melakukan pekerjaan paksa itu mencapai 100 ribu orang setiap tahun. Dalam 5 tahun lalu, semua 50 negara bagian AS dan Distrik Kolombia sudah dilaporkan kasus kerja paksa dan perdagangan manusia.

Menurut statistik ILO, AS hanya meratifikasi 2 konvensi saja dalam 8 konvensi inti organisasi itu, AS merupakan salah satu negara yang paling sedikit meratifikasi konvensi-konvensi tersebut. Selain itu, AS juga merupakan negara satu-satunya yang belum meratifikasi Konvensi Hak-hak Anak (KHA). Boleh dikatakan, baik hak buruh maupun perlindungan anak sudah menjadi korban dalam “Pengecualian AS”.

AS menyebutkan diri sebagai “ Mercu Suar HAM”, tapi di AS selalu terjadi kasus pelanggaran hak buruh sistemik. Sejumlah politikus AS selalu berbicara “peraturan” di atas bibirnya, dan juga berbohong untuk mencela negara lain “memaksa kerja” dan “melanggarkan HAM”. Sebenarnya, yang meremehkan peraturan internasional dan melanggarkan HAM itu justru AS diri sendiri.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
“Berjalan Bersama dari Yiwu ke ASEAN”--Pelatihan Khusus Kewirausahaan Pemuda Global Dimulai
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
“Berjalan Bersama dari Yiwu ke ASEAN”—Pelatihan Khusus Kewirausahaan Pemuda Global...
Hasil Survei CGTN: 83,1% Warganet Dukung Penelusuran Sumber Virus Corona di AS
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Terhadap pertanyaan “Apakah Anda mendukung WHO melakukan penelusuran sumber virus corona di AS...
Aksi Riil Tiongkok dalam Kerja Sama Internasional Vaksin
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Anggota Dewan Negara merangkap Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi akan memimpin Konferensi Pertama...
Kisah Fahim Anwari, Atlet Perenang Afghanistan
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Bagi seorang perenang yang hidup di negara beriklim kering, kekurangan hujan sepanjang tahun dan han...
Penjabat Mentri Kesehatan Masyarakat Afghanistan: Penelusuran Sumber Virus Perlu Bukti Ilmiah yang Kuat
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Berkaitan dengan isu negara-negara Barat yang mempolitisasi masalah penelusuran sumber virus, Penjab...
Pejabat WHO: Saya Berjanji kepada Para Rekan Tiongkok
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Menurut laporan CNN AS pada hari Jumat lalu (30/7), Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO...
Laboratorium Fort Detrick dan Tentara AS yang Ikut dalam Pekan Olahraga Wuhan
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:11 WIB
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian di depan jumpa pers tanggal 26 Juli lalu me...
Mengungkap Rahasia Fort Detrick: Dibangun Berbasis Nazi Jerman dan Pasukan Jepang Unit 731
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:10 WIB
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian pada 26 Juli lalu menyatakan, beberapa wakt...
Xi Jinping dan Presiden Turki Saling Kirim Kawat Ucapan Selamat atas Genap 50 Tahun Penggalangan Hubungan Diplomatik Kedua Negara
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:10 WIB
Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Turki Recep Erdogan Rabu hari ini (04/08) saling mengirim ...
Wang Yi: Mengesampingkan Gangguan dan Halangan Wabah, Bersama-sama Memelihara Perdamaian dan Kestabilan Laut Tiongkok Selatan
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:10 WIB
Anggota Dewan Negara merangkap Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi saat menghadiri Pertemuan Menter...
Live Streaming Radio Network