Australia Tawarkan ‘Tempat Berlindung’ Bagi Warga Negara Myanmar
Elshinta
Jumat, 07 Mei 2021 - 16:32 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Australia Tawarkan ‘Tempat Berlindung’ Bagi Warga Negara Myanmar
VOA Indonesia - Australia Tawarkan ‘Tempat Berlindung’ Bagi Warga Negara Myanmar
Australia menawarkan tempat berlindung yang aman bagi warga negara Myanmar yang saat ini berada di negeri kanguru tersebut. Canberra menyatakan rencananya memperpanjang visa sementara mereka sampai mereka aman untuk kembali ke tanah air pasca pengambilalihan pemerintahan oleh militer pada Februari 2021. Australia didesak untuk memberi tempat berlindung bagi lebih dari 3.300 warga Myanmar di sana. Lebih dari setengahnya adalah mahasiswa dan visa mereka akan diperpanjang. Banyak dari mahasiswa itu yang menyatakan takut akan dianiaya atau ditangkap jika mereka pulang sementara Myanmar dilanda kerusuhan sipil selama berminggu-minggu setelah militer menggulingkan pemerintahan terpilih dari pemimpin de facto Aung San Suu Kyi. Namun, belum jelas berapa lama Australia akan memperpanjang visa. Selain itu, belum ada indikator yang jelas untuk menentukan kapan dan kondisi yang seperti apa yang aman bagi warga negara Myanmar itu untuk kembali ke negara asal mereka. Toe Zaw Latt adalah direktur operasi Suara Demokratik Burma, organisasi media nirlaba. Ia menyambut baik keputusan yang mengizinkan mereka menetap sementara. “Menurut saya, adalah langkah yang tepat bagi pemerintah Australia untuk memperpanjang visa. Seperti terjadi di AS dan juga di banyak tempat, visa pelajar di luar negeri diperpanjang. Saya sangat menyambut baik langkah itu. Mereka seharusnya berbuat lebih untuk membawa lebih banyak warga yang membutuhkan suaka atau pindah ke tempat-tempat aman terutama di Australia. Menurut saya ini langkah yang tepat,” kata Toe Zaw Latt. Di Canberra, Menteri Imigrasi Alex Hawke, dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa Australia terus "mendesak pasukan keamanan Myanmar untuk menahan diri dan tidak melakukan kekerasan terhadap warga sipil, membebaskan mereka yang ditahan secara sewenang-wenang dan terlibat dalam dialog." Sementara itu, Departemen Dalam Negeri Australia mengadakan penyelidikan terhadap kerabat militer Myanmar yang tinggal di Australia. Ada kekhawatiran bahwa mereka menyembunyikan aset yang diambil dari Myanmar atau menerima dukungan keuangan dari militer di Myanmar setelah pemberontakan pada Februari lalu. Laporan berita menyebutkan lebih dari 20 anggota keluarga pejabat senior pemerintahan baru militer Myanmar tinggal di Australia. Partai Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi, menang telak dalam pemilihan November dengan meraih lebih dari 80% suara. Suu Kyi dikenakan tahanan rumah pada Februari lalu setelah pengambilalihan kekuasaan oleh militer. Myanmar, yang juga dikenal sebagai Birma, merdeka dari Inggris pada tahun 1948. Negara itu dikendalikan oleh pemerintahan militer yang keras dari tahun 1962 hingga 2011. Australia telah menangguhkan bantuan militer ke Myanmar dan mengalihkan bantuan ke sejumlah organisasi nonpemerintah. [mg/ka]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Derita Hazara di Afghanistan: Genosida atau Kejahatan Kemanusiaan
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Beberapa menit setelah bom menghancurkan sebuah minivan lain di sebuah kawasan permukiman Hazara di ...
Menteri Vaksin Inggris Imbau Kewaspadaan soal Pembukaan Kembali Wilayah
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Menteri vaksin COVID-19 Inggris, Jumat (11/6) mengimbau agar waspada mengenai rencana pembukaan kemb...
KTT G-7 Dimulai, Bawa Pesan Membangun Kembali dengan Lebih Baik
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Hari pertama KTT G-7 telah berakhir, di Cornwall, Inggris, di mana para pemimpin dari tujuh negara d...
Utusan AS: Serangan China terhadap Kekuatan Asing Ancam Kebebasan di Hong Kong
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Diplomat senior AS di Hong Kong mengatakan pemberlakuan undang-undang keamanan nasional baru telah m...
Jelang Pertemuan, Putin Berharap Biden Tak
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Menjelang pertemuan puncak pertamanya dengan pemimpin baru AS, Presiden Rusia Vladimir Putin, Jumat ...
AS Kirim Bantuan Keamanan $150 Juta ke Ukraina
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Amerika membantu Ukraina meningkatkan kemampuan pertahanannya, mengumumkan paket keamanan senilai $1...
Pulitzers Beri Penghargaan Liputan Pandemi COVID-19, Demonstrasi di AS
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Pulitzer memberikan penghargaan khusus kepada, Darnella Frazier, remaja yang merekam pembunuhan poli...
Castillo Mendekati Kursi Kepresidenan Peru Setelah Perselisihan Suara
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Calon unggul dalam Pemilu Presiden Peru, Pedro Castillo, Jumat (11/6) malam, bersiap-siap untuk mera...
Mantan Presiden Kolombia Minta Ampunan Atas Pembunuhan yang Dilakukan Militer
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Dalam kesaksian publik kepada komisi kebenaran Kolombia, Jumat (11 Juni), mantan Presiden Juan Manu...
Arab Saudi: Ibadah Haji Tahun Ini Hanya Untuk 60 Ribu Jemaah Domestik
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Arab Saudi, Sabtu (12/6), mengumumkan akan mengizinkan penduduk kerajaan yang telah divaksinasi untu...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV