AL Tiongkok Bantu Pengangkatan KRI Nanggala-402, Kerja Sama Militer Tiongkok-Indonesia Ke Level Baru
Elshinta
Kamis, 06 Mei 2021 - 11:10 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
AL Tiongkok Bantu Pengangkatan KRI Nanggala-402, Kerja Sama Militer Tiongkok-Indonesia Ke Level Baru
CRI - AL Tiongkok Bantu Pengangkatan KRI Nanggala-402, Kerja Sama Militer Tiongkok-Indonesia Ke Level Baru

Kapal Selam Indonesia KRI Nanggala-402 telah ditemukan, tapi peristiwa ini jauh belum dari berakhir. Bagaimana mengangkat kapal selama tersebut dari dasar laut tetap adalah masalah sulit. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono Jumat lalu(30/4) menjabarkan skema pengangkatan KRI Nanggala-402. Dia mengatakan, AL Singapura hanya dapat mengevakuasi komponen kapal selam yang ringan. Adapun lambung  yang berat, dia mengharapkan AL Tiongkok dapat memberikan bantuan. Pada tanggal 1 Mei lalu, Tiongkok memastikan akan memberikan bantuan kepada Indonesia, dan berencana mengirim tiga kapal penyelamat untuk membantu pengangkatan KRI Nanggala-402 .Saat ini, kapal-kapal AL Tiongkok sedang menuju lokasi peristiwa atas permintaan.

Menurut laporan media Indonesia, KRI Nanggala-402 total membawa 53 awak, termasuk Komandan Kapal Selam Indonesia dan keponakan Menhan Indonesia. Presiden Indonesia Joko Widodo menyampaikan duka cita kepada keluarga korban dan berjanji menanggung semua biaya pendidikan anak-anak para prajurit yang gugur dalam peristiwa ini.

Dalam peristiwa kali ini, tanggapan pihak militer Indonesia sangat cepat. Tanpa menghiraukan kemungkinan terbocornya kerahasiaan militer, pemerintah Indonesia segera meminta bantuan kepada Kantor Penyelamatan Kapal Selam NATO(ISMERLO), Australia dan Singapura.

KRI Nanggala-402 adalah kapal selam pertama yang tenggelam, tapi bukan satu-satunya kapal selam yang tenggelam di seluruh dunia. Dalam sejarah, kapal selam yang hilang kontak dan tenggelam masih banyak sekali, pekerjaan evakuasi dan penyelidikan selalu memakan waktu panjang. Sejak kapal selam muncul di dunia, penyelamatan dan evakuasi kapal selam selalu adalah masalah yang mengganggu semua negara termasuk negara militer yang besar. Pada tahun 2000, Kapal Selam Kursk Rusia terjadi ledakan, walaupun  Rusia berkali-kali melakukan pertolongan, tapi karena cuaca jelek, akhirnya penyelamatan gagal, sebanyak 118 ABK tewas.

Mengapa pencarian dan penyelamatan terhadap kapal selam begitu sulit? Kapal selam dibuat dan digunakan agar tidak ditemukan jejaknya di bawah laut ketika menjalankan misi militer. Apakah hilang kontak, hanya bisa diketahui melalui penerimaan laporan rutinnya. Oksigen adalah unsur krusial yang memutuskan seberapa lama awak kapal selam dapat hidup. Cadangan oksigen yang berada di KRI Nanggala-402 hanya dapat bertahan 72 jam, tapi pengerahan kapal penyelamat ke TKP biasanya memerlukan waktu beberapa hari.

Bagi Indonesia,kapal selam adalah senjata strategis. Pada tahun-tahun terakhir ini, Indonesia juga sedang mendorong pembangunan modernisasi angkatan laut. AL Tiongkok kali ini membantu pengangkatan kapal selam Indonesia, juga memperlihatkan kerja sama antara kedua negara yang terus ditingkatkan secara menyeluruh.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
KTT G7 Digelar dalam Protes
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:08 WIB
Konferensi Tingkat Tinggi Kelompok-7 (G7) hari Jumat kemarin (11/6) digelar di Carbis Bay, Cornwall,...
Wang Yi Beri Pidato Virtual Di Depan Konferensi Perlucutan Senjata
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:08 WIB
Anggota Dewan Negara yang juga Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi hari Jumat kemarin (11/6) member...
Rasakan Berbagai Peradaban Yang Berbeda dengan Ikuti Tapak Tilas Xi Jinping
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:08 WIB
Tanggal 12 Juni adalah Hari Warisan Budaya dan Alam Tiongkok. Tema kegiatan pameran warisan tak bend...
AS Hendaknya Hadapi Masalah Pekerja Anak di Negerinya Sendiri
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Hari ini adalah Hari Anti Pekerja Anak Sedunia. Menjelang hari itu, Organisasi Perburuhan Internasio...
Undang-Undang Anti Sanksi Luar Negeri Ciptakan Lingkungan Tata Hukum untuk Prusahaan Modal Asing
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin hari Jumat kemarin (11/6) menyatakan, pembu...
Tiongkok Desak Inggris Tinggalkan Impian Lama Kolonialisme
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin hari Jumat kemarin (11/6) di depan jumpa pe...
Mari Nikmati Pemandangan Indah Tiongkok pada Hari Kebudayaan dan Warisan Alam
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Tiongkok kini memiliki 14 warisan alam dunia dan merupakan negeri yang memiliki warisan alam terbany...
Kemlu Tiongkok: Jepang Tidak Boleh Buang Air Limbah Nuklir Fukushima Begitu Saja
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Jubir Kemlu Tiongkok Wang Wenbin dalam jumpa pers hari Jumat kemarin (11/6) mengatakan, masalah air ...
Yang Jiechi Adakan Pembicaraan Telepon dengan Menlu AS atas Undangan
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Hari Jumat kemarin (11/6), Anggota Politbiro Komite Sentral PKT selaku Kepala Kantor Komisi Urusan L...
Wahana Tianwen 1 Realisasi 6 “Pertama Kali”
Minggu, 13 Juni 2021 - 02:07 WIB
Administrasi Antariksa Nasional Tiongkok hari ini (12/6) di depan jumpa pers memperkenalkan keadaan ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV