Lama-lama kadang ya capek juga: Tantangan Ilmuwan Indonesia Menghadapi Hoaks
Elshinta
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:31 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Lama-lama kadang ya capek juga: Tantangan Ilmuwan Indonesia Menghadapi Hoaks
ABC.net.au - Lama-lama kadang ya capek juga: Tantangan Ilmuwan Indonesia Menghadapi Hoaks

Tugas ilmuwan di masa pandemi semakin berat, karena harus berhadapan dengan hoaks, disinformasi, atau bahkan pernyataan resmi yang tidak berbasis fakta dan data, serta sentimen nasionalisme.

Ilham Akhsanu Ridlo, ilmuwan pemula dari Universitas Airlangga, Surabaya, masih berusaha mencerna pernyataan yang pernah disampaikan Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Doni Monardo.

"Target kita adalah pada perayaan 17 Agustus yang akan datang [2021] ... Artinya COVID-19 dalam posisi yang bisa dikendalikan," kata Doni seperti yang disiarkan YouTube Pusdalops BNPB, 14 Februari lalu.

Sebagai ilmuwan, yang menjadi pertanyaan Ilham adalah atas dasar ilmiah apa pernyataan resmi tersebut.

"Apa dasar evidence-nya sampai bisa menyebut 17 Agustus itu?" lontarnya saat berbicara dengan ABC Indonesia.

Sejumlah ilmuwan sebelumnya mengatakan bahwa dalam pendendalian pandemi COVID-19, Indonesia masih dianggap kurang secara ilmiah dalam jumlah tes, belum lagi laju vaksinasi yang lambat, dan pasokan vaksin yang masih sedikit.

Dengan menggunakan data laju vaksinasi di Indonesia saat ini yakni 60.000 dosis per hari, misalnya, Bloomberg dan Johns Hopkins University memperkirakan, Indonesia baru akan bisa memenuhi target menyuntik 70 persen populasi atau 181,5 juta orang setidaknya sepuluh tahun dari sekarang.

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menawarkan strategi vaksinasi yang hanya menyuntik 39 persen dari populasi untuk mengendalikan pandemi, tapi itupun diperkirakan baru bisa terlihat hasilnya paling cepat di bulan September tahun ini.

Ilmuwan berhadapan dengan pernyataan resmi, hoaks, dan disinformasi

Tapi ini bukan untuk pertama kalinya pejabat atau mereka yang punya otoritas mengeluarkan pernyataan tanpa basis data, yang disayangkan oleh Ilham sebagai ilmuwan.

"Yang pertama saya ingat soal nasi kucing, kemudian guyonan soal oh covid itu nggak akan masuk Indonesia karena perizinannya susah, sehingga kita butuh Omnibus Law. Itu luar biasa itu," katanya.

Menurut Ilham, pernyataan-pernyataan publik dari pihak yang berwenang tanpa dasar ilmiah ini membuat tugas para ilmuwan dalam mengedukasi publik semakin berat.

Belum lagi ilmuwan juga masih harus berhadapan dengan hoaks dan informasi yang beredar melalui media sosial atau aplikasi percakapan.

Hoaks dan informasi yang salah soal COVID-19 telah diakui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) yang menyebutkan ribuan hoaks muncul di berbagai platform jejaring sosial.

Awal bulan lalu, Kemenkominfo mengatakan pihaknya telah mencatat 1.402 hoaks mengenai COVID-19 sejak 23 Januari 2020 sampai 1 Februari 2021.

"Yang paling banyak broadcast message di beberapa group, mulai dari group keluarga sampai group dosen, yang sumbernya tidak jelas, mencomot informasi dari mana-mana," kata Ilham menanggapi soal hoaks.

"Misalnya pembenaran konspiratif, oh [kebijakan pembatasan] ini sebenarnya hanya untuk mengendalikan orang supaya nggak protes ke pemerintah, atau soal hoaks vaksinasi dengan metode penanaman chip."

Beberapa kali Ilham mengaku berusaha memerangi informasi yang salah dan hoaks yang diperolehnya di beberapa group.

"Tapi lama-lama kadang ya capek juga, karena bahkan misalnya budaya share dan forward yang sangat cepat itu datang dari orang-orang yang katakanlah lebih senior, atau ya sedih juga karena ini orangtua atau keluarga sendiri" cerita Ilham.

Rodri Tanoto, ilmuwan yang berkecimpung di bidang biostatistik, riset klinis, kesehatan global dan pembangunan jebolan University College London, sependapat dengan Ilham soal beratnya tanggung jawab ilmuwan.

Apalagi, menurut mantan Project Manager for Young Health Programme Indonesia di Yayasan Plan International Indonesia dan pengajar di Universitas Indonesia ini, tidak ada perubahan cara komunikasi pemerintah walaupun Menteri Kesehatan sudah berganti.

"Komunikasinya [situasi kita] aman, tenang, dan baik-baik saja, sehingga bisa ada pernyataan target 17 Agustus, atau target vaksinasi setahun, yang kita nggak tahu dasarnya apa."

"Kemudian ada juga pejabat yang kaget jumlah tracer kita sedikit, kaget ternyata pasokan vaksin terbatas. Sering sekali kaget, padahal menurut saya itu hal-hal yang mendasar. Kenapa kaget? Kenapa berani pasang target kalau nggak punya dasar itungan?" tutur Rodri.

Adanya sentimen nasionalisme sisa pemilu

Para ilmuwan juga seringkali menghadapi "sentimen nasionalisme" saat mengkritik kebijakan permerintah terkait COVID-19 yang tidak berbasis data.

Rodri dan Ilham mencatat, jika ada benturan antara ilmuwan dan pemerintah, biasanya akan dibenturkan pada nasionalisme.

"Kamu nggak nasionalisme, misalnya. Sampai nanti masuk ke ranah politik sebagai dampak dari sisa pemilu," kata Ilham.

"Kita ingat kasus Pak Pandu Riono dulu waktu mengingatkan awal-awal soal pandemi itu kemudian di-trolling, tenaga kesehatan juga yang ikut menyuarakan dibungkam, dan diserang di media sosial dan lain-lain," tambahnya.

Padahal, menurut Rodri, pertanyaan ilmiah soal beberapa inovasi seperti Genose yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada atau Vaksin Nusantara yang dikembangkan Balitbangkes di masa Menkes Terawan sangat wajar dilontarkan oleh sesama ilmuwan.

"Soal Genose, misalnya, karena ini semua ada di bawah pemerintah, kalau datanya sudah ada, mengapa tidak dibuka saja ke publik?"

Ilmuwan dilibatkan namun bersifat tokenistik

Meski demikian, baik Ilham maupun Rodri sepakat bahwa dalam penanganan COVID-19 di Indonesia, sebenarnya para ilmuwan sudah dilibatkan, yang bisa dilihat dari beberapa nama ilmuwan di dalam susunan tim pakar Satgas COVID-19.

Rodri menambahkan, pelibatan ilmuwan dalam pengendalian COVID-19 saat ini dinilainya hanya bersifat "tokenistik".

Tokenistik, dari kata tokenisme, berarti kecenderungan untuk melakukan sesuatu hanya untuk formalitas saja, tidak berdasarkan suatu niat untuk mencapai tujuan dasarnya.

"Yang paling mengecewakan sebenarnya adalah kegiatan itu semuanya, ilmuwannya tokenistik dan yang dilakukan juga kesannya tokenistik," ujar Rodri.

"Menkes yang baru kan sudah berkali-kali mengundang para ilmuwan dan aktivis kesehatan, orang-orang kebencanaan, seperti Profesor Sulfikar Amir atau Dr Pandu Riono. Tapi semua saran mereka terus ke mana?"

"Saya merasa itu semua hanya basa-basi sih. Mereka sebenarnya sudah punya rencana, dan semuanya ya maju saja terus," tambahnya.

Ini pula yang dirasakan Ilham dan rekan-rekannya di Universitas Airlangga yang setahun terakhir memberikan beberapa masukan kepada Pemprov Jawa Timur termasuk opsi karantina wilayah.

"Pada satu momen, mereka itu mengajak berbicara. Kami dipaksa berpikir dan memberi masukan, tapi seringkali opsi-opsi yang kami berikan banyak nggak dipakai dengan alasan yang kami nggak tahu kenapa," ucap Ilham.

"Itu yang bikin kami akhirnya merasa, ya udahlah kembali di kampus saja, ngajar saja, memperbanyak nulis jurnal saja ... tapi apakah harus seperti itu di saat kami tahu ada masalah yang dihadapi masyarakat?"

Ada pula kritikan bagi ilmuwan

Namun, bukan berarti ilmuwan juga tidak punya kelemahan yang harus diperbaiki.

Menurut Rodri dalam konteks spesifik pandemi mengatakan, ilmuwan Indonesia juga harus membiasakan berkomunikasi di publik.

"Banyak ilmuwan yang tidak bisa menjelaskan dengan [bahasa] yang mudah dipahami oleh publik."

"Di media sosial saya melihat banyak dokter yang juga frustrasi di-challenge oleh sekelompok orang yang padahal [pertanyaannya] bisa saja dijawab, tapi karena sudah frustrasi duluan akhirnya mundur ke posisi ya kamu baca lagi deh, begitu," kata Rodri.

Menurut Ilham, kemampuan komunikasi publik ini tidak dimiliki sebagian besar ilmuwan karena sebelum pandemi ada "jarak" antara media dan ilmuwan.

"Dan setelah COVID-19 ini, ilmuwan menjadi narasumber utama yang tidak jarang gagal mengkomunikasikan apa yang ada di pikirannya."

"Contohnya soal inovasi Genose tempo hari. Kita lihat bagaimana hasil wawancara Prof Kuwat dan teman-teman Lokadata. Itu kan bukan media yang abal-abal, kok bisa seperti itu hasilnya," kata Ilham menyayangkan.

Namun, Ilham juga mengapresiasi beberapa ilmuwan yang belajar dengan cepat beradaptasi menjadi edukator awam yang mampu menjelaskan fakta ilmiah dalam bahasa populer.

"Ada dr Dicky Budiman, ada Dr Ines Atmosukarto, misalnya, yang dulu mungkin hanya di laboratorium, namun kini tampil ke publik."

Adi Utarini, profesor kesehatan masyarakat di Universitas Gadjah Mada dalam sebuah webinar yang diselenggarakan The Conversation beberapa waktu yang lalu pernah mengingatkan pentingnya kompetensi para ilmuwan untuk mengkomunikasikan bukti ilmiah dalam format yang mudah dikonsumsi pejabat maupun publik.

Menurut Profesor Utari, kompetensi ini akan mempermudah proses adopsi penelitian ilmiah menjadi kebijakan.

"Di Indonesia, komunikasi sains belum dianggap sepenting publikasi jurnal internasional," katanya.

"Kita butuh program sistematik di lembaga akademik dan riset serta kementerian bagaimana menulis policy brief [ringkasan kebijakan]. Itu sama pentingnya dengan sains itu sendiri."

Mayoritas pejabat publik di Indonesia tidak memiliki kompetensi untuk memilah dan menggunakan bukti ilmiah dalam kebijakan, sebagaimana yang diungkap oleh studi tahun 2017 dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sementara itu di ranah media sosial, meski melelahkan dan kadang mengecewakan, Ilham mengaku masih berusaha "mengambil alih kontrol informasi agar berimbang."

"Misalnya kalau ada salah satu anggota keluarga yang menyebarkan hoaks di group, jangan sampai dia dominan. Harus kita ambil alih dengan memberikan narasi tandingan, informasi yang benar."

"Walaupun efeknya mungkin akan lama, tapi lambat laun bisa mereduksi informasi yang nggak benar, dan ini penting untuk memberi pehaman anggota group yang lain," pungkas Ilham.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Jumlah Penduduk Australia Berkurang Pertama Kalinya Sejak Perang Dunia Pertama
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Jumlah pendatang ke Australia berkurang karena perbatasan Australia yang ditutup. Jika masalah ini t...
Peserta WHV Asal Indonesia Tewas dalam Kecelakaan Lalu Lintas di Australia
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Dikenal sebagai pekerja keras, Arie Putra ingin membahagiakan orangtuanya dengan bekerja di Australi...
Novel Intan Paramaditha Masuk Nominasi Penghargaan Buku Terbaik di Australia
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Kisahnya bermula dari sepasang sepatu merah dan persekutuan dengan jin. Tapi akhir ceritanya tergant...
Ikan Mas: Disantap di Indonesia, Dianggap Hama di Australia
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Sebuah penelitian di Australia menemukan 360 juta ikan mas tinggal di saluran air saat musim hujan. ...
Mayoritas Pekerja di Australia Ingin Tetap Bisa Bekerja dari Rumah
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Survei terbaru menunjukkan lingkungan kerja yang ideal bagi warga Australia adalah campuran bekerja ...
Apakah Vaksinasi Akan Membantu Pemulihan Pasien Long COVID?
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Beberapa orang yang telah sembuh dari COVID merasakan gejala berkepanjangan. Tapi sebagian mengaku k...
Penerbangan Internasional ke Melbourne Dibuka Kembali Setelah Paskah
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Penerbangan internasional ke Bandara Melbourne akan dibuka kembali. Apakah perbaikan sudah dilakukan...
Kisah Perempuan Diminta Kerja di Pertanian Australia Hanya Menggunakan Pakaian Dalam
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Sejumlah perempuan backpacker yang bekerja di pertanian Australia mengaku telah mengalami pelecehan ...
Why cant I have sex?: Tantangan Orangtua Indonesia di Australia Ajarkan Seks
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Bagi orang tua asal Indonesia ada tantangan ekstra yang harus dihadapi saat membicarakan topik seks ...
Setidaknya 200 Ekor Sapi di Australia Hanyut Akibat Banjir New South Wales
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Pasangan suami istri masih dalam misi menyelamatkan sapi-sapi mereka yang terbawa arus sungai akibat...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV