Protes di Myanmar Terus Berlanjut, Sudah Ribuan Warga Ditangkap Hingga Saat Ini
Elshinta
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Protes di Myanmar Terus Berlanjut, Sudah Ribuan Warga Ditangkap Hingga Saat Ini
ABC.net.au - Protes di Myanmar Terus Berlanjut, Sudah Ribuan Warga Ditangkap Hingga Saat Ini

Pemimpin Myanmar yang digulingkan Aung San Suu Kyi muncul di pengadilan ketika pada saat yang bersamaan para pendukungnya turun ke jalan di beberapa kota besar dan kecil untuk menentang tindakan keras pada hari yang paling berdarah sejak kudeta militer 1 Februari.

  • Sidang berikutnya kasus Suu Kyi dijadwalkan pada 15 Maret
  • Para menteri luar negeri ASEAN akan bertemu dan mendengar keterangan dari perwakilan junta
  • Sedikitnya 270 orang ditahan pada hari Minggu, menambah jumlah yang ditangkap sejak kudeta menjadi 1.132 orang

Menurut saksi mata, polisi menembakkan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan ratusan pengunjuk rasa di kota utama Yangon pada hari Senin (01/03).

Mereka kemudian menyisir sisi-sisi jalan, menembakkan peluru karet dan, menurut laporan media, melukai setidaknya satu orang.

Dalam pidato malam di televisi pemerintah, panglima militer Jenderal Senior Min Aung Hlaing mengatakan para pemimpin gerakan protes dan "penghasut" akan dihukum.

Tentara juga sedang menyelidiki penyalahgunaan keuangan oleh pemerintah sipil, katanya.

Suu Kyi, 75, terlihat dalam keadaan sehat dalam video link kemunculannya di pengadilan di ibukota Naypyidaw, kata salah satu pengacaranya.

Dua dakwaan lagi ditambahkan ke dakwaan yang diajukan terhadapnya segera setelah kudeta.

"Saya melihat Amay di video, dia terlihat sehat," kata pengacara Min Min Soe, yang menggunakan panggilan sayang yang berarti "ibu" untuk merujuk pada Suu Kyi.

Peraih Nobel Perdamaian, yang memimpin Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), tidak terlihat di depan umum sejak pemerintahannya digulingkan dan penahanannya bersama dengan para pemimpin partai lainnya.

Dia awalnya dituduh mengimpor enam radio walkie-talkie secara ilegal.

Belakangan, dia mengetahui bahwa dia menghadapi dakwaan tambahan karena melanggar undang-undang bencana alam karena melanggar protokol virus corona.

Pada hari Senin, dua dakwaan lagi ditambahkan - satu dari hukum pidana era kolonial yang melarang publikasi informasi yang dapat "menyebabkan ketakutan atau kekhawatiran", dan yang lainnya mengacu pada undang-undang telekomunikasi yang menetapkan lisensi untuk peralatan.

Sidang berikutnya akan digelar pada 15 Maret mendatang.

Para pengkritik kudeta mengatakan tuduhan itu dibuat-buat.

Delapan belas orang tewas dalam unjuk rasa paling berdarah

Aung San Suu Kyi appeared in court after a day of deadly violence in Myanmar. Video: Aung San Suu Kyi appeared in court after a day of deadly violence in Myanmar. (ABC News)

Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer merebut kekuasaan menyusul tuduhan kecurangan dalam Pemilu November lalu yang dimenangkan secara telak oleh NLD.

Unjuk rasa harian semakin diwarnai dengan kekerasan saat polisi dan pasukan mencoba menghentikan para demonstran.

Pidato Jenderal Senior Hlaing yang dibacakan oleh seorang pembaca berita MRTV yang dikelola negara, militer akan mengambil tindakan tegas terhadap pegawai negeri yang menolak bekerja untuk junta.

Dia mengatakan militer sedang menyelidiki apa yang mereka sebut korupsi oleh pemerintah sipil, dengan tuduhan pemerintah sipil telah menyalahgunakan anggaran pencegahan COVID-19.

"Masing-masing kementerian sedang bekerja untuk mencari tahu penyalahgunaan keuangan tersebut," katanya, menambahkan tindakan akan diambil terhadap organisasi yang kedapatan menyimpan dana dalam mata uang.

Dia mengatakan sebuah komite yang dibentuk oleh politisi yang digulingkan dari pemerintah sipil dan yang telah mengumumkan pembentukan pemerintahan di pengasingan, adalah ilegal dan siapa pun yang terkait dengannya akan dihukum.

Komite Mewakili Pyidaungsu Hluttaw (CRPH) pada hari Senin menyatakan junta militer sebagai kelompok teroris dan menyebut kekerasan terhadap pengunjuk rasa sebagai "deklarasi perang terhadap warga sipil tak bersenjata".

Pada hari Minggu, polisi menembaki kerumunan orang di beberapa tempat, menewaskan 18 orang, kata kantor hak asasi manusia PBB.

Perwakilan Junta akan menghadiri pertemuan ASEAN

Monks joined the anti-coup demonstrations in Myanmar. Video: Monks joined the anti-coup demonstrations in Myanmar. (ABC News)

Militer belum mengomentari kekerasan hari Minggu itu.

Surat kabar Global New Light of Myanmar yang dikelola negara memperingatkan bahwa "tindakan keras pasti akan diambil" terhadap "massa yang anarkis".

Demonstran yang turun ke jalan pada hari Senin di kota barat laut Kale, memegang foto Suu Kyi.

Video yang disiarkan langsung di Facebook menunjukkan kerumunan meneriakkan slogan di kota Lashio di timur laut.

Polisi dan tentara kemudian menggerebek sebuah gereja di kota itu dan menahan 11 orang, kata satu kelompok gereja.

Kudeta ini menghentikan langkah tentatif Myanmar menuju demokrasi setelah hampir 50 tahun ada di bawah pemerintahan militer.

Langkah yang diambil militer Myanmar ini telah menuai kecaman dari sejumlah negara Barat, dan menjadi pusat perhatian di antara negara-negara tetangga Myanmar.

Para menteri luar negeri dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), di mana Myanmar adalah anggotanya, akan mengadakan pertemuan melalui video daring pada Selasa (02/03) hari ini untuk membahas kudeta tersebut dan mendengarkan keterangan dari perwakilan militer Myanmar, kata Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan.

Para jenderal selama bertahun-tahun mengabaikan tekanan diplomatik, sebagian karena dukungan China dan Rusia.

Junta telah menjanjikan pemilihan baru tetapi belum menetapkan tanggal.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik mengatakan sedikitnya 270 orang ditahan pada Minggu, membuat angka orang yang ditangkap sejak kudeta menjadi total 1.132 orang.

Artikel ini diproduksi oleh Hellena Souisa dari artikel ABC News dalam Bahasa Inggris.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Jumlah Penduduk Australia Berkurang Pertama Kalinya Sejak Perang Dunia Pertama
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Jumlah pendatang ke Australia berkurang karena perbatasan Australia yang ditutup. Jika masalah ini t...
Peserta WHV Asal Indonesia Tewas dalam Kecelakaan Lalu Lintas di Australia
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Dikenal sebagai pekerja keras, Arie Putra ingin membahagiakan orangtuanya dengan bekerja di Australi...
Novel Intan Paramaditha Masuk Nominasi Penghargaan Buku Terbaik di Australia
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Kisahnya bermula dari sepasang sepatu merah dan persekutuan dengan jin. Tapi akhir ceritanya tergant...
Ikan Mas: Disantap di Indonesia, Dianggap Hama di Australia
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Sebuah penelitian di Australia menemukan 360 juta ikan mas tinggal di saluran air saat musim hujan. ...
Mayoritas Pekerja di Australia Ingin Tetap Bisa Bekerja dari Rumah
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Survei terbaru menunjukkan lingkungan kerja yang ideal bagi warga Australia adalah campuran bekerja ...
Apakah Vaksinasi Akan Membantu Pemulihan Pasien Long COVID?
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Beberapa orang yang telah sembuh dari COVID merasakan gejala berkepanjangan. Tapi sebagian mengaku k...
Penerbangan Internasional ke Melbourne Dibuka Kembali Setelah Paskah
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Penerbangan internasional ke Bandara Melbourne akan dibuka kembali. Apakah perbaikan sudah dilakukan...
Kisah Perempuan Diminta Kerja di Pertanian Australia Hanya Menggunakan Pakaian Dalam
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Sejumlah perempuan backpacker yang bekerja di pertanian Australia mengaku telah mengalami pelecehan ...
Why cant I have sex?: Tantangan Orangtua Indonesia di Australia Ajarkan Seks
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Bagi orang tua asal Indonesia ada tantangan ekstra yang harus dihadapi saat membicarakan topik seks ...
Setidaknya 200 Ekor Sapi di Australia Hanyut Akibat Banjir New South Wales
Rabu, 31 Maret 2021 - 16:10 WIB
Pasangan suami istri masih dalam misi menyelamatkan sapi-sapi mereka yang terbawa arus sungai akibat...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV