Di Tengah Pandemi, Lawatan Paus ke Irak Dinilai Bukan Ide Bagus
Elshinta
Senin, 01 Maret 2021 - 08:37 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Di Tengah Pandemi, Lawatan Paus ke Irak Dinilai Bukan Ide Bagus
VOA Indonesia - Di Tengah Pandemi, Lawatan Paus ke Irak Dinilai Bukan Ide Bagus
Sejumlah pakar penyakit menular menyampaikan keprihatinan tentang rencana lawatan Paus Fransiskus ke Irak, di tengah melesatnya kasus virus corona, rentannya sistem layanan kesehatan dan kemungkinan kerumunan warga Irak yang ingin melihatnya, suatu hal yang tidak terhindarkan. Tidak ada yang ingin memberitahu Paus agar menangguhkan lawatan itu dan pemerintah Irak sangat berkepentingan untuk menunjukkan kondisi keamanan yang relatif stabil dengan menyambut kedatangan Paus pertama di negeri kelahiran Ibrahim itu. Lawatan pada tanggal 5-8 Maret ini diharapkan akan memberikan dorongan spiritual yang sangat dibutuhkan bagi warga Kristen yang terkepung di Irak sambil melanjutkan upaya membangun hubungan antara Vatikan dan dunia Muslim. Sejumlah pakar kesehatan mengatakan dari sudut pandang epidemiologi dan pesan kesehatan publik yang ingin disebarluaskan, lawatan Paus Fransiskus di tengah pandemi global ini tidak disarankan. Keprihatinan mereka juga dipicu dengan kabar pada hari Minggu ini (28/2) bahwa Duta Besar Vatikan Untuk Irak yaitu Uskup Mitja Leskovar – orang yang menjadi penghubung utama dalam lawatan itu dan sekaligus yang akan menemani Paus dalam seluruh pertemuannya – dinyatakan positif mengidap Covid-19 dan telah menjalani isolasi mandiri. Dalam email ke kantor berita Associated Press, Kedutaan Irak mengatakan gejala yang diidap Uskup Leskovar sangat ringan dan ia masih terus melanjutkan persiapan lawatan Paus. Terlepas dari kasus itu, para pakar mengingatkan bahwa perang, krisis ekonomi dan eksodus kaum profesional Irak telah meluluhlantakkan sistem rumah sakit negara itu; sementara beberapa kajian menunjukkan perebakan baru virus corona di Irak saat ini adalah varian sangat menular yang pertama kali diidentifikasi di Inggris. “Saya hanya merasa ini bukan ide yang bagus,” ujar Dr. Navid Madani, pakar virus dan salah seorang direktur di Pusat Pendidikan Kesehatan Sains di Timur Tengah dan Afrika Utara di Harvard Medical Schools Dana-Farber Cancer Institute. Madani yang kelahiran Iran merupakan salah seorang penulis laporan di The Lancet tahun lalu tentang tanggapan yang tidak sama di kawasan itu terhadap pandemi mematikan ini. Ia mencatat bahwa penanganan yang dilakukan Irak, Suriah dan Yaman sangat buruk, terutama karena negara-negara ini juga masih berjuang mengatasi pemberontakan kelompok ekstremis dan adanya 40 juta orang yang membutuhkan bantuan kemanusiaan. Dalam wawancara melalui telpon, Madani mengatakan warga Timur Tengah dikenal karena keramahtamahannya dan antusiasme warga Irak menyambut tokoh perdamaian seperti Paus Fransiskus ke negara yang ditinggalkan dan dikoyak perang itu mungkin akan memicu terjadinya pelanggaran yang tidak disengaja terhadap langkah-langkah pengendalian Covid-19. “Ini dapat berpotensi memicu risiko yang tidak aman atau menjadi wahana penyebarluasan virus dengan sangat cepat – atau dikenal sebagai superspreader,” ujarnya. Vatikan telah melakukan langkah berjaga-jaga menjelang lawatan Paus berusia 84 tahun itu, di mana seluruh anggota tim yang berjumlah 20 orang dan sekitar 70an wartawan yang ada dalam pesawat Paus sudah divaksinasi. [em/jm]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
200 Warga Indonesia Telah Tinggalkan Myanmar
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Dua ratus warga negara Indonesia di Myanmar telah meninggalkan negara itu. Hingga kini KBRI di Yango...
Free Burma Rangers Bantu Etnis Tertindas di Myanmar
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Sebuah kelompok kemanusiaan multi-etnis, The Free Burma Rangers (FBR), membantu kelompok etnis yang ...
Uni Eropa Menaruh Harapan pada Vaksin Pfizer
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Dalam beberapa bulan terakhir ada kekhawatiran tentang penguatan pemulihan global mendatang akan men...
Kuba Longgarkan Larangan Penjualan Daging Sapi dan Produk Susu
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Kuba mengumumkan pihaknya akan melonggarkan larangan yang sudah diberlakukan selama puluhan tahun te...
Pejabat AS Prihatin atas Penempatan Militer Rusia di Krimea
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Pengerahan besar-besaran pasukan militer Rusia ke Krimea memprihatinkan Amerika. Direktur Badan Inte...
Biden: Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan Mulai 1 Mei
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Presiden Amerika Joe Biden hari Rabu (14/4) mengumumkan rencananya menarik sisa pasukan Amerika dari...
Menteri-Menteri Inggris Tolak Permohonan KTT Darurat soal Irlandia Utara
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Menteri Luar Negeri Irlandia Simon Coveney diperkirakan akan menekan Menteri Luar Negeri Inggris Dom...
Perancis Akan Sikapi Vaksin J&J Sama Seperti AstraZeneca
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Juru bicara pemerintah Perancis Gabriel Attal mengatakan Perancis akan memberikan vaksin Johnson&Joh...
Ikuti Langkah AS, NATO akan Kurangi Pasukan di Afghanistan
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Alliance Treaty Organization/NATO) mengatakan akan menarik se...
Pejabat Kurdi: Roket Mendarat Dekat Pangkalan AS di Bandara Irbil
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Pejabat keamanan Kurdi dalam sebuah pernyataan mengatakan sebuah roket mendarat di dekat pangkalan A...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV