Kunjungan PM Jepang ke Indonesia: China Anggap Sebagai Ancaman
Elshinta
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kunjungan PM Jepang ke Indonesia: China Anggap Sebagai Ancaman
ABC.net.au - Kunjungan PM Jepang ke Indonesia: China Anggap Sebagai Ancaman

Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga telah bertemu dengan Presiden Indonesia Joko Widodo dan keduanya sepakat untuk melanjutkan kerjasama di berbagai bidang, terutama kesehatan, keamanan, dan ekonomi.

  • Jepang mendukung kawasan Asia Tenggara untuk terus berupaya menjaga stabilitas perdamaian di kawasan
  • Pengamat di China menilai langkah yang diambil Jepang bisa mempersulit sengketa Laut China Selatan
  • Jepang memberikan pinjaman berbunga rendah kepada Indonesia untuk menanggulangi pandemi COVID-19

Indonesia menjadi negara kedua tujuan kunjungan luar negeri pertama PM Suga yang baru dilantik pada 16 September lalu.

Dalam pertemuan Selasa kemarin (20/10), salah satu kesepakatan yang diraih oleh dua pemimpin adalah mempercepat pembahasan ekspor senjata dan teknologi militer dari Jepang ke Indonesia.

Sejumlah pengamat mengatakan kunjungan PM Suga ke Vietnam dan Indonesia mencerminkan tanggapan atas dominasi China di Laut China Selatan dengan mendukung upaya Asia Tenggara dalam mencapai perdamaian di kawasan, sambil mempromosikan konsep Free and open Indo-Pacific atau FOIP.

"Sehubungan dengan isu-isu regional, termasuk Korea Utara dan Laut China Selatan, kami sepakat bahwa Jepang dan Indonesia akan bekerja sama secara erat," kata PM Suga dalam konferensi pers bersama Presiden Jokowi usai pertemuan.

"Saya mendukung penuh ASEAN dalam Indo-Pacific, yang digagas Indonesia, karena memiliki banyak kesamaan mendasar dengan Indo-Pasifik Jepang yang bebas dan terbuka," ujarnya.

Sementara itu Presiden Joko Widodo menyambutnya dengan menyampaikan harapan "agar Laut China Selatan dapat terus menjadi laut yang damai dan stabil".

Sebelum mengujungi Vietnam dan Indonesia, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Katsunobu Kato mengatakan Jepang berusaha untuk mempromosikan visi Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.

Termasuk memastikan supremasi hukum terus berjalan, kebebasan navigasi dan penerbangan, dan penyelesaian sengketa secara damai, dengan membangun hubungan yang stabil dengan negara-negara tetangganya "yang memiliki nilai yang sama".

"Lingkungan diplomatik di sekitar Jepang menjadi lebih sulit untuk diprediksi dan dikendalikan, mengingat meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dan China," kata Katsunobu seperti yang dikutip dari laporan The Japan Times.

China anggap langkah Jepang sebagai ancaman

Sejumlah pengamat di China mengatakan kunjungan PM Suga ke Vietnam dan Indonesia menandakan jika Jepang secara aktif mulai membantu dan memastikan strategi Indo-Pasifik untuk menahan pengaruh China di kawasan Asia Tenggara.

Media milik Partai Komunis China, The Global Times, melaporkan para pengamat juga mengkhawatirkan jika kesepakatan yang dibuat oleh Jepang di Asia Tenggara justru akan mengancam stabilitas perdamaian di kawasan.

The Global Time mengutip pernyataan Da Zhigang, direktur dan peneliti dari Institute of Northeast Asian Studies di Heilongjiang Provincial Academy of Social Sciences yang mengatakan kesepakatan militer malah akan meningkatkan kesulitan untuk mencapai konsensus multilateral atas sengketa Laut China Selatan.

Kerja sama militer antara Jepang dan Vietnam, misalnya, sudah berlangsung lama, tetapi menurutnya langkah kali ini sudah "terlalu jauh" dan akan berpengaruh pada hubungan Jepang dan China.

Da berpendapat Jepang boleh saja meningkatkan hubungannya dengan negara-negara Asia Tenggara melalui etika diplomatik, tetapi Jepang tidak dapat menggantikan posisi China di ASEAN, terlebih dalam konteks pandemi COVID-19 dan kondisi ekonomi di kawasan tersebut.

Sementara itu, Kuni Miyake dari Canon Institute for Global Studies, yang juga penasihat khusus kabinet PM Suga, pernah menulis opini di media Jepang jika perdana menterinya jauh lebih fasih berbicara soal China tanpa harus menyebutkan nama negaranya, dibandingkan pemerintahan Shinzo Abe sebelumnya,

Pinjaman Jepang ke Indonesia untuk memerangi virus corona

Dalam kunjungannya ke Indonesia, PM Suga menawarkan bantuan senilai Rp 6,95 triliun kepada Indonesia untuk menanggulangi pandemi COVID-19.

Laporan kantor berita Kyodo News mengatakan bantuan tersebut diberikan dalam bentuk "pinjaman berbunga rendah" yang dapat digunakan untuk mengatasi dampak ekonomi akibat pandemi.

Bulan Mei lalu, Jepang juga memberikan bantuan berupa 12.200 tablet Avigan kepada Indonesia.

Disebutkan dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri RI, Avigan adalah merek obat yang dikembangkan perusahaan farmasi Jepang, Fujifilm Toyama Chemical, untuk mengobati pasien influenza yang juga disinyalir meringankan gejala COVID-19.

Belasan ribu tablet tersebut diserahkan oleh Pemerintah Jepang kepada KBRI Tokyo dan tiba di Jakarta pada 18 Mei lalu.

PM Suga dan Presiden Joko Widodo juga telah sepakat untuk melanjutkan perjalanan antar negara yang ditujukan bagi para perawat dan pekerja di bidang perawatan.

Artikel ini diproduksi oleh Erwin Renaldi

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kerusuhan di Ibukota Washington,  Twitter Mengunci Akun Presiden Donald Trump
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Sekelompok orang pendukung Presiden Donald Trump bentrok dengan kepolisian, menyebabkan kerusuhan di...
Awak Kapal Asal Indonesia yang Ditahan di Iran Dikatakan Dalam Kondisi Baik
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Kedutaan Besar RI di Tehran, Iran, mengatakan terus melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak untuk...
Keluarga Korban Bom Bali:
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Beberapa anggota keluarga di Australia dari korban yang tewas dalam peristiwa bom Bali tahun 2002 me...
Jadwal Vaksinasi Australia Dimajukan, Siapa Yang Akan Disuntik Pertama?
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Jadwal penyuntikan vaksin virus corona di Australia akan dimajukan menjadi bulan depan, dengan menda...
Thailand Pernah Jadi Contoh Sukses Penanganan COVID, Kini Kasusnya Melonjak
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Thailand pernah dianggap contoh sukses penanganan COVID-19 di awal pandemi, tetapi negara itu telah ...
Abu Bakar Bashir Bebas, PM Australia Mengatakan Menghormati Keputusan Indonesia
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengatakan pembebasan Abu Bakar Basyir menjadi kesedihan b...
Brisbane Lockdown Tiga Hari Untuk Hentikan Penularan Jenis Baru Virus Corona
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Terhitung pukul 18:00 malam ini waktu setempat, warga di Brisbane, Logan, Ipswich, Moreton dan Redla...
Kongres AS Resmi Sahkan Kemenangan Biden, Ada Usulan Trump Segera Dilengserkan
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Setelah kerusuhan dengan massa menyerbu masuk ke gedung parlemen Amerika Serikat di Washington DC, K...
Brasil Menyatakan Tingkat Kemanjuran Vaksin COVID-19 Sinovac Mencapai 78 Persen
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Vaksin virus corona buatan China yang dikembangkan oleh Sinovac Biotech China telah dinyatakan 78 pe...
Australia Batasi Jumlah Kedatangan Luar Negeri untuk Hindari COVID Jenis Baru
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Di tengah meningkatnya penyebaran varian baru virus COVID-19 asal Inggris, hari ini (8/01), Pemerint...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV