Suaka Gajah di Myanmar Terancam Covid-19
Elshinta
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:20 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Suaka Gajah di Myanmar Terancam Covid-19
VOA Indonesia - Suaka Gajah di Myanmar Terancam Covid-19
Wabah virus corona menimbulkan tekanan finansial di sebuah suaka alam yang didedikasikan untuk gajah-gajah pensiunan di Myanmar. Suaka tersebut sebelumnya sangat mengandalkan pemasukan dari tiket masuk pengunjung untuk mendanai progam-programnya. Namun sejak sektor pariwisata ambruk, suaka itu mengalami kekurangan dana. Suaka Alam Lembah Bukit Hijau sudah sejak 2011 menjadi tempat peristirahatan bagi gajah-gajah yang sudah tua, yang sudah tidak lagi dianggap mampu bekerja. Terletak di sebuah hutan lebat di negara bagian Shan, suaka itu merupakan satu-satunya suaka yang tidak dimiliki pemerintah, melainkan para penyayang gajah. Dokter hewan Ba Kyaw merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan hewan raksasa yang telah beberapa generasi dimanfaatkan sebagai tenaga pengangkut di industri kayu di kawasan itu. "Kakek dan nenek kami punya gajah. Ada enam. Gajah-gajah ini mendukung sistem pendidikan di wilayah kami karena bekerja mengangkut kayu-kayu dari hutan. Kayu-kayu itu diolah sedemikian rupa menjadi kertas dan perangkat tulis menulis lainnya. Kini gajah-gajah itu sudah tidak lagi bekerja, dan kita bertanggung jawab memeliharanya,” ungkapnya. Myanmar adalah negara dengan populasi gajah tangkapan terbesar di dunia. Telah ratusan tahun, gajah-gajah dimanfaatkan sebagai kuli angkut kayu dari kedalaman hutan yang tidak terjangkau mesin. Namun, seiring munculnya larangan penebangan kayu di hutan-hutan alami, tidak banyak pekerjaan tersedia bagi hewan-hewan raksasa itu sehingga menimbulkan beban finansial bagi para pemiliknya. Pendiri bersama Suaka Lembah Bukit Hijau Tin Win Maw mengatakan, melepaskan gajah-gajah itu kembali ke hutan bukanlah pilihan. “Sewaktu mereka sudah tidak lagi dianggap layak bekerja, kita tidak bisa begitu saja memulangkan mereka ke hutan. Karena, kalau mereka ke hutan, siapa yang menjamin keselamatan mereka? Perburuan gajah terjadi di mana-mana. Tidak hanya di Afrika tapi juga Asia,” ujarnya. Suaka itu meminjam gajah-gajah untuk dirawat di sana dari perusahaan kayu Myanmar Timber Enterprise dan sejumlah warga setempat. Intinya, gaja-gajah itu mendapat perawatan yang diperlukan sementara para pemilik mereka mendapat pemasukan. Namun, sejak wabah virus corona merebak, dan berbagai pembatasan diberlakukan, suaka itu sepi pengunjung. Tidak ada satupun wisatawan asing yang datang, sementara wisatawan domestik pun setiap harinya bisa dihitung dengan jari tangan. Walhasil, pengelola suaka itu kewalahan menanggulangi beban sehari-hari. Seekor gajah dewasa mengkonsumsi makanan sekitar 150 kilogram setiap harinya, atau setara dengan 6-12 persen berat tubuh mereka. Tanpa kunjungan turis, sulit memenuhi kebutuhan tersebut. Selama ini, suaka tersebut menggelar sejumlah strategi untuk mengatasinya, termasuk menanam sendiri pohon buah yang menjadi kebutuhan utama gajah. Namun, dengan tujuh gajah dewasa di suaka itu, para pengurus masaih kewalahan menanggulangi kebutuhan hewan-hewan itu. Jika, kondisi ini berlanjut, bukan tak mungkin suaka ini terpaksa tutup dan gajah-gajah itu akan terlantar. [ab/uh]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Polisi Pastikan 2  Demonstran Alami Luka Tembak Akibat Bentrokan di Thailand
Kamis, 19 November 2020 - 10:28 WIB
Polisi Thailand,  Rabu (18/11), memberikan konfirmasi bahwa dua orang terluka oleh tembakan. Apara...
Jet Tempur F-16 Taiwan Hilang Sewaktu Latihan
Kamis, 19 November 2020 - 10:28 WIB
Militer Taiwan mengatakan, Rabu (18/11), salah satu jet tempur F-16 milik angkatan udaranya menghila...
Badai Iota Melemah, Bergerak Menuju Honduras
Kamis, 19 November 2020 - 10:28 WIB
Iota terus menerjang Nikaragua dengan angin kencang dan hujan lebat meskipun telah melemah menjadi b...
Pawai Mardi Gras Dibatalkan di AS, Kota-Kota Perketat Restriksi COVID-19
Kamis, 19 November 2020 - 10:28 WIB
Pawai-pawai Mardi Gras telah dibatalkan di New Orleans, sebut pemerintah kota itu hari Selasa (17/...
Penyelidikan Praktik Cuci Uang Hentikan Rencana Pembukaan Kasino di Sydney
Kamis, 19 November 2020 - 10:28 WIB
Sebuah kasino bernilai miliaran dolar di Sydney tidak akan diizinkan beroperasi sesuai rencana bulan...
Kunjungan Menlu Bahrain ke Israel Isyaratkan Menghangatnya Hubungan
Kamis, 19 November 2020 - 10:28 WIB
Menteri luar negeri Bahrain mengunjungi Israel, Rabu (18/11), isyarat terbaru mengenai hubungan yang...
Peringatkan Bahaya Kelaparan, PBB Keluarkan $100 Juta untuk 7 Negara
Kamis, 19 November 2020 - 10:28 WIB
Kantor Urusan Bantuan Kemanusiaan PBB mengeluarkan dana bantuan darurat sebesar 100 juta dolar ke...
Mungkinkah Vaksinasi Massal COVID-19 Bisa Dilakukan Akhir 2020?
Kamis, 19 November 2020 - 10:28 WIB
Presiden Joko Widodo mengatakan program vaksinasi massal COVID-19 bisa dilaksanakan menjelang akhir ...
Pemerintah Targetkan 107 juta Orang Akan Divaksinasi Covid-19 
Kamis, 19 November 2020 - 10:28 WIB
Pemerintah akan melakukan vaksinasi anti-Covid-19 terhadap 107 juta orang orang atau 67 persen dari ...
IAEA Konfirmasi Laporan Terkait Pengoperasian Nuklir Sentrifugal Iran 
Kamis, 19 November 2020 - 10:28 WIB
Badan pengawas atom PBB (IAEA) mengonfirmasi laporan bahwa Iran memulai pengoperasian sentrifugal ya...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV