INTIM
Sepak terjang Jenderal Fachrul Razi yang jadi Menteri Agama
Dirinya tak pernah menyangka bakal ditunjuk menjadi Menteri Agama. Sebagai tentara, ia harus siap dalam mengemban amanah baru itu. Bagaimana kiprahnya dan apa saja yang bakal dilakukannya sebagai Menag?

Cucun Hendriana
Kamis, 07 November 2019 - 11:26 WIB

Elshinta.com - Jenderal TNI (Purn.) Fachrul Razi ditunjuk menjadi Menteri Agama pada Kabinet Indonesia Maju. Tantangan di bidang keagamaan pun tidaklah kecil. Sebab dirinya bertugas untuk mengurus semua agama yang ada di Indonesia.

Pria kelahiran Banda Aceh, 26 Juli 1947 ini sebelumnya berkiprah di beberapa perusahaan, termasuk di bidang politik. Razi diketahui menjadi salah satu pendiri Partai Hanura yang pada Pilpres 2009 mendukung pasangan JK-Win.

Sepak terjangnya di bidang politik terus berlanjut. Pada 2014, Razi mendukung keberhasilan Presiden Jokowi. Yang terbaru, Pilpres 2019, ia memimpin tim Bravo 5 untuk mendukung kampanye pemilihan Joko Widodo—KH Maruf Amin.

Mantan Wakil Panglima TNI ini dilantik menjadi Menteri Agama pada 20 Oktober 2019. Sejarah mencatat, Razi adalah tokoh militer ketiga yang menjabat sebagai Menteri Agama di Indonesia.

Di usia senior ditambah dengan kesibukannya sebagai menteri, nyatanya Razi tidak lupa menjaga kesehatan. “Saya biasanya treadmill. Tinggal olahraga itu yang dilakukan, yang lainnya ditinggalkan,” katanya kepada Elshinta yang bertamu ke kantornya di Kemenag, Senin (04/11) pagi.

Razi juga bercerita kegemarannya dalam berkuliner. “Sarapannya rahasia banget nih. Kambing, domba, kikil. Ndak tahu ya, saya makan kambing dampaknya hampir enggak ada. Alhamdulillah, enggak tahu kenapa. Tapi saya pastikan cek kesehatan terus,” sahutnya.

Dalam mengawali hari, Razi terbiasa bangun sebelum shubuh. Lalu melakukan ibadah shalat di masjid yang dilanjutkan dengan tadarus al-Quran. Terkait kegiatannya bertadarus, ia mengatakan, “Tadarus itu banyak manfaatnya selain sebagai ibadah. Banyak orang menyarankan, semakin tua lidah itu makin kaku. Nah, agar tidak kaku, salah satu caranya adalah banyak membaca dengan suara kencang. Paling bagus, ya baca al-Quran,” tandasnya.

Lalu bagaimana dengan aktivitasnya di kantor? “Saya biasanya cari info yang belum terlalu paham. Datang di kantor saya cek berkas-berkas yang mendesak yang sudah ditandai staf. Itulah yang pertama saya buka. Biasanya staf saya sudah memisahkan file-file yang penting.”

Sebagai Menteri Agama baru, ia memiliki kewajiban untuk memastikan kehidupan beragama berjalan dengan baik. Yang prioritas, katanya, tentu adalah umat yang mayoritas, Islam. “Kami bagi perhatian lebih pada Islam, tapi bukan berarti boleh abai ke agama yang lain. Dalam Islam sendiri mengajarkan, yang mayoritas itu harus melindungi yang minoritas.”

Ia mencontohkan kisah Rasulullah di Madinah, dimana beliau tidak pernah mengabaikan umat agama lain. “Tapi batasnya jelas: Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”

Sejak menjabat sebagai menteri, Razi pun terus berusaha untuk memahami kondisi semua agama yang ada di Indonesia. Profil semua agama dipelajarinya. Bukan hanya dijelaskan oleh Dirjen masing-masing agama, tapi organisasi keagamaan terkait yang diundang untuk menjelaskan.

Dekat dengan Jokowi

Fachrul Razi pun bicara kedekatannya dengan Presiden Jokowi. Ia mengenal sosok Jokowi sudah sejak lama, saat dirinya bersama Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan bekerjasama dalam pengolahan kayu. “Kami selalu dukung dari Walikota lanjut jadi Gubernur hingga Presiden. Dekat banget sih enggak lah, banyak kok yang lebih dekat. Tapi karakter Pak Jokowi kan dekat dengan semua orang. Itu gaya beliau.”

Dirinya juga tak pernah menyangka bakal ditunjuk Jokowi sebagai menterinya. “Jangankan orang lain, saya saja tidak tahu. Komunikasi awalnya itu biasa saja. Presiden Jokowi menginformasikan situasi bangsa, dari pendiodikan, keamanan, toleransi dan lainnya. Intinya membawa kita agar punya kepedulian pada bangsa. Itu sangat komprehensif. Tidak spesifik ke masalah agama,” bebernya.

Hal itu pun membuatnya menebak-nebak. “Iya, tebak-tebak buah manggis aja. Hehe… Mungkin ini, mungkin itu. Tapi saya diajak ngobrol Presiden terkait persoalan bangsa, dengan senang hati saya mendengarkan dan memberikan tanggapan,” sambung dia.

Akhirnya dirinya ditempatkan untuk mengisi posisi Menteri Agama, sebagai tentara harus siap. “Di tentara, saya banyak tugas yang tidak bisa ditebak sebelumnya. Itu saya anggap biasa aja. Sebagai tentara harus siap. Termasuk di posisi Menteri Agama.”

Di awal menjabat sebagai Menag, Fachrul Razi mulai menelusuri segala persoalan yang ada di Kemenag dari dalam. Dirinya melakukan beragam evaluasi. “Terkadang orang berpikir seolah-olah saya masuk ke sini, lalu membuat ide-ide baru, misalnya soal pelaksanaan ibadah haji yang saya ajak untuk evaluasi. Evaluasi itu hal yang biasa. Jangankan saya, menteri lama pun kalau setelah melaksanakan suatu kegiatan, pasti ada evaluasinya.”

Terkait pelayanan ibadah haji yang pada 2019 ini termasuk paling bagus, ke depan Razi memastikan akan melanjutkannya. Tapi evaluasi tetap harus dilakukan. “Ya, kami evaluasi kecil. Terobosan pun dilakukan dalam batas-batas evaluasi itu,” jelasnya.

Masih soal haji, diketahui daftar tunggu jemaah di Indonesia cukup lama. Sebagai Menag baru, Razi akan mencoba membahasnya untuk melahirkan kebijakan di bidang itu. “Misalnya ada jemaah sekarang usianya 75 tahun, daftar tunggunya masih 15 tahun lagi. Artinya dia berangkat haji di usia 90 tahun. Bagaimana agar dia bisa mendapat kesempatan lebih cepat, tapi di saat yang sama tidak merugikan calon jemaah yang lain. Bagaimana kemudahan untuk jemaah lansia, solusinya seperti apa? Ini yang ke depan akan kami pertimbangkan,” lanjutnya.

Fachrul Razi juga menyinggung persoalan reformasi birokrasi dan pencegahan korupsi di lingkungan Kementerian Agama. “Soal ini juga orang kadang-kadang men-generalisasi. Sebab ternyata saat saya masuk ke dalam, enggak begitu. Sistem keuangan Kemenag yang orang duga amburadul, nyatanya mendapat penghargaan WTP dari BPK. BPK kan enggak asal ngomong, dia benar-benar lakukan auditing. Adapun jika ada pegawai yang terlibat korupsi, itu satu-dua yang kena, ya harus ditindak. Pegawai kami ini banyak sekali,” sahutnya.

Soal pendidikan yang alokasinya di Kemenag cukup besar, Razi berbangga diri. Sebab, madrasah di masa kini sudah sangat berbeda dengan madrasah di masa lalu. Madrasah sekarang sudah sangat modern. Tidak hanya ilmu agama yang dipelajari, tapi juga ilmu umum termasuk Bahasa Inggris yang dipelajari dengan baik.

Razi memberi contoh, di sebagian daerah di Jawa Tengah, misalnya, minat anak-anak masuk madrasah bahkan lebih besar dibanding sekolah umum. “Penyebabnya mungkin karena lingkungannya. Saya punya beberapa teman jenderal, anak-anaknya juga sekolah di madrasah. Jadi, madrasah sekarang ini sudah berubah lebih baik,” sebut Razi.