INTIM
Muhammad Farhan, dari gelombang radio menuju gelanggang Senayan
M. Farhan, selebritas yang kini jadi politisi. Sebagai entertainer, jejak Farhan dimulai dari seorang penyiar radio, presenter TV, hingga jadi pemain film. Dia sukses menekuni setiap profesi yang dilakoninya. Kini, episode hidupnya mengantarnya ke gelanggang politik. Dia jadi wakil rakyat dari Jabar 1.

Cucun Hendriana
Rabu, 09 Oktober 2019 - 16:30 WIB

Elshinta.com - Muhammad Farhan namanya. Pria kelahiran Bogor, 25 Februari 1970 ini sebelumnya pernah berkarier sebagai penyiar di sejumlah radio. Pada 1995 kariernya makin mengkilap, Farhan debut di stasiun TV. Setelahnya, ia dikenal sebagai selebritas kondang di Tanah Air.

Tak hanya sebagai presenter, Farhan juga menjajal kemampuannya di bidang akting. Farhan debut di industri film. Film perdananya adalah Jakarta Undercover (2007). “Peran saya itu luar biasa keren. Istilahnya sebagai cameo, yang pada kenyataannya itu adalah figuran yang numpang beken,” kata Farhan di ruang rapat Fraksi NasDem DPR RI, Gedung Nusantara I, Senayan, Senin (7/10) pagi.

Ya, wawancara pagi itu dilakukan di Kompleks Parlemen Senayan. Sebab, Muhammad Farhan baru saja terpilih sebagai anggota DPR periode 2019—2024 dari Partai NasDem. Farhan sukses melenggang ke Senayan dari Dapil 1 Jawa Barat yang meliputi 33 kecamatan dengan perolehan  lebih dari 52 ribu suara.   

Kembali ke kiprahnya di bidang entertainment, sepanjang kariernya di dunia perfilman, Farhan juga membintangi sejumlah film layar lebar lainnya, antara lain Crush (2014), Salah Bodi (2014) The Wedding & Bebek Betutu (2015), dan Trinity, The Nekad Traveler (2017).

Yang paling anyar, wajah Farhan juga menghiasi film yang digandrungi para milenial, Dilan 1990 (2018) dan Dilan 1991 (2019). Selain itu ada pula film Susi Susanti: Love All (2019) yang dibintanginya. Farhan juga bakal ada dalam film yang bakal segera dirilis, Milea.

Dengan tiga profesi itu, apa yang membedakan ketiganya? “Sebagai penyiar radio saya harus sangat baik dalam mengolah kata dan menciptakan theatre of mind. Kalau sebagai seorang presenter TV, ya mesti tampil dalam standar umum bersama. Kalau di film, kita ikut saja apa kata sutradara. Kalau jadi orang baik, ya baik. Kalau jadi jahat, ya harus jahat. Tergantung honor. Haha…,” ucapnya.  

Setelah melewati catatan gemilang di industri hiburan, Farhan meniti ‘jalan baru’ di kancah  politik. Membuka jalan baru di dunia politik setelah dari 1994 sebagai pesohor negeri (entertainer), tentu memerlukan pertimbangan matang. “Saya sering berinteraksi dan aktif dalam amplifikasi program sosial. Saya sadar sebagai selebritas ada keterbatasannya. Ada kapasitas yang lebih besar yang mungkin bisa saya lakukan dengan masuk ke politik,” ujarnya.

Yang terberat adalah melobi keluarga dan istrinya. Butuh waktu hingga satu tahun untuk meyakinkan keluarganya, sebelum akhirnya mengijinkannya memasuki catur politik. “Kira-kira awal tahun 2016 saya bikin umroh bareng dengan salah satu sahabat yang aktif di politik. Tujuannya tentu untuk mendapatkan ridha Allah Swt dan restu dari pasangan masing-masing. Saya memantapkan niat, berdoa di hadapan Ka’bah. Malamnya menghadap istri, izin masuk ke politik.”

Lobinya pun berhasil, tapi dengan syarat yang harus ditepati. Farhan menyebut dua hal yang jadi syaratnya: jaminan untuk tidak korupsi dan tidak boleh poligami. “Jaminannya dua hal, jangan korupsi dan gak boleh poligami. Haha…,” ungkapnya sambil terbahak.

Pada Pemilu April 2019, Farhan pun akhirnya nyalon sebagai anggota legislatif dari Partai NasDem. Sekali mencalonkan diri, Farhan membuktikan bisa meraup perolehan suara pribadi terbanyak kedua dari NasDem di Dapil 1 Jawa Barat.

“Jujur sebagai anggota DPR terpilih, saya masih ada culture shock. Saya harus mulai berkantor meski tidak ada absen. Sebab, Anggota DPR itu wajib hadir apabila mendapatkan undangan resmi. Kalau tidak ada undangan, dipersilakan untuk mengatur sendiri kedatangannya. Saya sendiri dari Senin—Jumat akan di Senayan, Sabtu dan Minggu berkegiatan yang lain,” akunya.

Sebagai Anggota DPR baru, diakuinya, ia masih harus belajar banyak hal. Misalnya, terus mempelajari UUD 1945. Apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, terus dipelajarinya. “Sekarang saya serius banget. Biasanya dulu kalau pergi kemana-mana, ngecek-nya konten Youtube. Sekarang harus baca UUD 1945.” Termasuk dirinya juga terus membaca yang terkait dengan Hak-hak Keuangan dan Administrasi Pimpinan dan Anggota DPR.

Dirinya juga akan siap untuk ditempatkan di Komisi apapun nantinya. Secara pribadi, Farhan pun telah mengajukan minatnya untuk ditempatkan di salah satu Komisi, antara Komisi I, IX, atau X. “Prinsipnya sebagai Anggota DPR itu harus generalis. Artinya, bisa ditempatkan di komisi berapapun. Resminya nanti setelah Pengumuman Kabinet,” ucapnya.

Tugas berat sebagai Anggota DPR yang menanti di depan mata, siap atau tidak, Farhan menganggapnya harus siap. “Biar tahu kita harus nyemplung dulu. Kalau kita berhenti berenang, pasti tenggelam. Oleh karena itu, jangan berhenti berenang. Di legislatif, kita juga harus menjalankan tiga fungsi DPR, semua sama pentingnya: legislasi, budgeting, dan pengawasan. Semua harus dijalankan dalam porsi yang sama,” tegas dia.

Farhan juga ingin menjadi Anggota DPR yang terbuka dalam menghadapi semua tekanan. “Ya, saya ingin jadi anggota yang terbuka. Hal kecil saja, misalnya, kita bisa kok (asal ada izin –red), olahraga jogging di Kompleks Parlemen. Atau tahukah Anda di beberapa ruangan Gedung DPR itu ada seni instalasi yang bagus. Kalau layak ini bisa jadi studi untuk siswa atau mahasiswa tentang instalasi di gedung pemerintahan.”

Terkait banyaknya selebritas di panggung politik, dimana sebagian masyarakat ada yang menganggap jika para selebritas sebenarnya tidak siap berpolitik. Terlebih berperan di DPR RI. “Wah, kalau ada anggapan artis di DPR kurang mampu, itu jangan tanya saya. Tanyalah ke Dede Yusuf, kurang mampu apa dia sebagai Ketua Komisi IX DPR RI. Tanya ke Tantowi Yahya yang dipercaya sebagai Dubes di Selandia Baru. Atau tanya ke Rieke Dyah Pitaloka yang membuktikan diri sebagai pembela buruh yang luar biasa.”

Terpilih dari Dapil 1 Jabar, lalu apa yang dijanjikan Farhan ke masyarakat? “Saya janjikan peningkatan kualitas akses kesehatan melalui Posyandu dan Posbindu. Posyandu untuk balita, Posbindu untuk para lansia. Saya juga ingin berbuat sesuatu untuk PAUD. Sebab, penelitian menunjukkan PAUD itu membantu dalam pembentukan dasar karakter seorang anak. Sehingga PAUD jadi sangat penting,” tuturnya.

Baca juga: Lebih dekat dengan sang kelirumologi Jaya Suprana

Baca juga: Jejak Edvan M Kautsar, bangkit dari kebangkrutan hingga jadi motivator muda

Lepas dari kiprah barunya di Gedung Parlemen, Muhammad Farhan juga adalah tipikal orang yang gemar berolahraga untuk menjaga kesehatannya.

Pada Februari 2016, catatan berat badannya mencapai angka 105 kg. Nambah 1 ons lagi, dokternya bilang, bisa kena diabetes. Maka perubahan gaya hidup pun dilakukan dengan cepat. Tidak mudah tapi Farhan membuktikan bisa. Dan, perubahan gaya hidupnya itu membawanya pada perubahan yang luar biasa.

Satu tahun mengubah gaya hidupnya, bobotnya banyak terpangkas. Saat ini berat badannya di angka 86 kg. “Awalnya saya memaksakan diri setiap pagi harus olahraga rutin, terutama lari. Selain itu saya juga mengatur jumlah makanan dan jenis makanan, juga menghentikan kebiasaan yang tidak  sehat: merokok dan alkohol. Sekarang saya tidak merokok sama sekali,” ucapnya. Hal itulah yang ternyata berdampak terhadap berat tubuhnya yang tidak lagi segemuk dulu.