MemoRI 25 Januari
25 Januari 2006: Meninggalnya Wapres ke-lima Soedharmono
Elshinta
Penulis : | Editor : Administrator
25 Januari 2006: Meninggalnya Wapres ke-lima Soedharmono
Sudharmono dan Wapres terpilih Try Sutrisno pada Sidang Umum MPR 1993. (wikipedia)

Elshinta.com - Letnan Jenderal TNI H. Soedharmono, S.H. lahir di Cerme, Gresik, Jawa Timur, 12 Maret 1927. Ia meninggal di Jakarta, 25 Januari 2006 pada umur 78 tahun.

Soedharmono adalah wakil presiden Indonesia ke lima yang menjabat selama periode 1988–1993.

Sejak kecil ia sudah menjadi yatim piatu. Ibunya Soekarsi meninggal waktu melahirkan adiknya yang bungsu pada tahun 1930. Ayahnya R. Wiroredjo meninggal 6 bulan kemudian karena sakit.

Sudharmono lalu tinggal bersama pamannya, seorang juru tulis yang bekerja di Kabupaten Jombang. Sudharmono banyak berpindah-pindah. Ia terpaksa tinggal bersama saudara orang tuanya yang lain, baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah.

Pada waktu kemerdekaan Indonesia, Soedharmono baru saja menyelesaikan sekolah menengah pertama. Ia memutuskan tidak melanjutkan sekolah, malah membantu mengumpulkan senjata dari tentara Jepang saat persiapan pembentukan Tentara Nasional Indonesia.

Selama Perang Kemerdekaan Indonesia Sudharmono sudah menjadi Panglima Divisi Ronggolawe.

Setelah Belanda mundur pada tahun 1949, Soedharmono menyelesaikan pendidikannya. Pada tahun 1952 ia pergi ke Jakarta dan bergabung dengan Akademi Hukum Militer.

Tahun 1956 Sudharmono bertugas di Medan, Sumatera Utara sebagai Jaksa Militer pada 1957-1961. Pada tahun 1962, ia memperoleh gelar dalam bidang hukum setelah menyelesaikan studi di Universitas Hukum Militer.

Soedharmono diangkat Ketua Personel Pesanan Satuan Kerja Pemerintah Pusat dan memberikan bantuan administrasi kepada pemerintah.

Selama Konfrontasi Indonesia-Malaysia, Presiden Soekarno membentuk Komando Operasi Tertinggi (KOTI), yang merupakan perintah perang segera di bawah kendali Soekarno. Pada tahun 1963, Sudharmono bergabung KOTI dan diberi peran Anggota Pusat Operasi Bersama untuk Operasi Agung

Di zaman Orba, karier Soedharmono makin menanjak. Pada Oktober 1965, Soeharto diangkat menjadi Panglima Angkatan Darat dan bergabung dengan KOTI sebagai Kepala Staf. Soeharto menjalin hubungan dengan Sudharmono pada saat masa-masa tegang dalam sejarah Indonesia.

Sudharmono mendapatkan kepercayaan dari Soeharto. Waktu Soeharto menerima Supersemar dari Soekarno, pada 11 Maret 1966, Sudharmono yang menyalin surat yang akan sebarkan kepada Perwira Militer lainnya.

Esok harinya, pada tanggal 12 Maret, Sudharmono juga ikut menulis dekret pelarangan PKI.

Ketika Soeharto menjadi presiden pada tahun 1968, Sudharmono menjadi Sekretaris Kabinet serta Ketua Dewan Stabilitas Ekonomi.

Pada tahun 1970, Sudharmono dipindahkan posisinya menjadi Sekretaris Negara, posisi yang memungkinkan ia untuk membantu Soeharto. Selain menjadi Mensesneg, Sudharmono juga menggantikan menteri lain saat mereka berhalangan, di antaranya menjadi Menteri Penerangan dan Menteri Dalam Negeri. Sudharmono juga membantu membuat pidato pertanggungjawaban Soeharto sebelum Sidang Umum MPR.

Pada tahun 1980, Sudharmono telah membuktikan kesetiaannya kepada Soeharto dan juga menunjukkan bahwa ia tidak memiliki ambisi. Pada Munas Golkar III (1983), dengan dukungan Soeharto, Sudharmono terpilih sebagai Ketua Golkar. Di Golkar Soedharmono berhasil mendongkrak jumlah dukungan pada Soeharto.

Pada Sidang Umum MPR Maret 1988, kontroversi mewarnai nominasi Sudharmono sebagai Wakil Presiden. Ketua Partai Persatuan Pembangunan, Jaelani Naro tak mau kalah, ia mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden.

Brigadir Jenderal Ibrahim Saleh juga tak mau kalah. Ia menginterupsi sidang. Ibrahim tidak setuju calon wakil presiden yang sudah diproses. Naro baru mundur pada detik-detik akhir pemilihan, setelah dilobi oleh Awaloedin Djamin.

Sarwo Edhie Wibowo, jenderal yang telah membantu Soeharto mendapatkan kekuasaan di pertengahan 60-an juga mengundurkan diri dari MPR dan Dewan Perwakilan Rakyat sebagai protes.

Soeharto akhirnya turun tangan. Ia mencontohkan keputusan MPR yang dibuat pada tahun 1973 bahwa salah satu kriteria untuk Wakil Presiden adalah ia harus mampu bekerja dengan Presiden.

Dengan pengunduran diri Naro, Sudharmono akhirnya terpilih sebagai Wakil Presiden.

Pada tahun 1997, Sudharmono merilis otobiografi, berjudul Pengalaman Dalam Masa Pengabdian.

Pada Mei 1998, pada malam jatuhnya Soeharto, Sudharmono, bersama dengan mantan wakil presiden Umar Wirahadikusumah dan Try Sutrisno mengunjungi Soeharto di kediamannya untuk membahas kemungkinan opsi lain.

Sudharmono juga terus mengelola 7 yayasan milik Soeharto.

Rabu malam, 25 Januari 2006, sekitar pukul 19.40 WIB, Sudharmono meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama dua pekan di Rumah Sakit MMC, Jakarta. Ia meninggalkan seorang istri, Emma Norma, dan tiga orang anak.

Soedharmono dimakamkan di TMP Kalibata. Pemimpin upacaranya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

sumber: wikipedia

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
28 Februari 2019: Gempa Solok, ratusan rumah rusak
Minggu, 28 Februari 2021 - 06:11 WIB
Gempa bumi mengguncang Solok Selatan dengan magnitudo 5,6. yang terjadi pada Kamis pagi, 28 Februari...
27 Februari 2013: Bus rombongan peziarah hantam tebing di Ciloto
Sabtu, 27 Februari 2021 - 06:12 WIB
Kecelakaan maut kembali terjadi di wilayah Kabupaten Cianjur. Kali ini kecelakaan terjadi pada sebua...
26 Februari 2019: Indonesia juara Piala AFF U-22
Jumat, 26 Februari 2021 - 06:10 WIB
Tim Nasional Indonesia U-22 berhasil menjadi juara Piala AFF U-22 2019. Usai mengalahkan Thailand de...
25 Februari 2020: Dampak banjir, motor boleh lewat jalan tol
Kamis, 25 Februari 2021 - 06:11 WIB
Imbas dari hujan intensitas tinggi yang terjadi di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, da...
24 Februari 1966: Aksi mahasiswa berujung tertembaknya Arif Rahman Hakim 
Rabu, 24 Februari 2021 - 06:12 WIB
Pada tanggal 24 Februari 1966, tepat hari ini 55 tahun lalu. Berbagai kelompok mahasiswa memblokir j...
23 Februari 2018: Tujuh kecamatan di Kabupaten Bandung dilanda banjir
Selasa, 23 Februari 2021 - 06:14 WIB
Hujan deras disertai angin kencang yang melanda kawasan Bandung raya beberapa hari terakhir membuat ...
22 Februari 2013: KPK tetapkan Anas Urbaningrum tersanka Hambalang
Senin, 22 Februari 2021 - 06:15 WIB
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum sebaga...
21 Februari 1949: Akhir hayat Tan Malaka, tewas dieksekusi
Minggu, 21 Februari 2021 - 06:11 WIB
Salah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka, mati secara tragis di tangan bangsanya send...
20 Februari 2015: Bus rombongan pengajian terguling, belasan orang tewas
Sabtu, 20 Februari 2021 - 06:11 WIB
Kecelakaan tunggal berujung maut terjadi di Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat 20 Februari 2015. Sebu...
19 Februari 2020: Napi terorisme jaringan Santoso bebas
Jumat, 19 Februari 2021 - 06:13 WIB
Seorang narapidana kasus terorisme (Napiter) bernama Setiawan Hadi Putra alias Ijul (36) dinyatakan ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV