Risiko mesin mengelitik jika pakai BBM RON rendah
Elshinta
Selasa, 29 September 2020 - 19:36 WIB |
Risiko mesin mengelitik jika pakai BBM RON rendah
Sumber foto: Antara/elshinta.com

Elshinta.com - Ahli motor bakar Institut Teknologi Bandung (ITB) Iman K Reksowardojo mengingatkan, penggunaan bahan bakar minyak (BBM) Research Octane Number (RON) rendah sangat berisiko bagi mesin.

Menurut dia, BBM RON rendah akan menurunkan performa/unjuk kerja (daya, efisensi), memburuknya emisi gas buang kendaraan bermotor, membuat mesin mengelitik (knocking), sampai risiko terburuk yaitu ruang bakar berlubang.

Knocking inilah yang harus dihindari. Karena bisa merusak mesin, membuat piston berlubang, dan menurunkan efisiensi dan menaikan emisi gas buang,” kata Iman dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (29/9).

BBM dengan RON rendah, tambahnya, memang menjadi penyebab knocking. Secara termodinamika, knocking terjadi karena BBM RON rendah tidak tahan terhadap tekanan atau temperatur tinggi, akibatnya BBM bisa terbakar sebelum waktunya untuk dinyalakan oleh api dari busi.

"Dan pembakaran yang terjadi bukan dari busi itulah yang disebut knocking. Kondisi itu yang terjadi pada BBM RON rendah, dan sangat merusak mesin karena temperatur dan tekanan yang sangat tinggi," katanya mengutip Antara.

Hal itulah yang membedakan dengan BBM RON tinggi dengan kadar 92 ke atas. BBM RON tinggi tersebut tahan terhadap temperatur dan tekanan tinggi, untuk tidak menyala dengan sendirinya.

"Pembakaran yang terjadi hanya dari berasal api busi, bukan karena temperatur dan tekanan yang tinggi yang berasal bukan dari busi," ujar Iman.

Jadi, menurut dia, pada dasarnya angka oktan memang merupakan parameter ketahanan BBM dari tekanan/temperatur untuk nyala sendiri (detonasi). Dan semakin tinggi angka oktan, yang dicerminkan dari RON BBM, akan semakin baik pula kualitas BBM.

Itu sebabnya, Iman juga mengingatkan, pentingnya menggunakan BBM dengan angka oktan tinggi. Apalagi, spesifikasi mesin kendaraan keluaran terbaru memang dirancang untuk BBM dengan RON yang tinggi pula.

"Jadi memang harus sesuai. Kalau mesinnya dirancang untuk oktan tinggi maka harus mempergunakan BBM dengan angka oktan tinggi. Jika tidak, maka akan terjadi off-design operation atau operasi mesin di luar perancangan," katanya.

Dan kalau di luar rancangannya maka output-nya juga di luar rancangan, misal daya, efisiesi menurun, usia mesin menjadi pendek, emisi gas buang memburuk dan seterusnya.

BBM dengan angka oktan tinggi, lanjut Iman, bila digunakan pada motor bensin dengan perbandingan kompresi yang tinggi menghasilkan daya yang tinggi. Hal ini membuat pemakaian bahan bakar yang irit dan emisi gas buang yang lebih ramah lingkungan.

"Ibarat tubuh yang membutuhkan makanan bergizi, BBM ber angka oktan tinggi ini adalah ‘makanan’ sehat untuk kendaraan bermotor. Tidak hanya untuk kendaraan keluaran baru, BBM oktan tinggi juga baik untuk kendaraan-kendaraan lama,” kata Iman.

Menurut dia, untuk soal BBM, Indonesia paling ketinggalan di antara negara ASEAN bahkan, Myanmar yang sebelumnya berada di bawah Indonesia, sekarang sudah mendahului memakai BBM minimal RON 91, sedangkan di sini masih ada yang memakai RON 88.(Sik) 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Pacu industri otomotif, Menperin lihat peluang modifikasi kendaraan
Sabtu, 17 Oktober 2020 - 15:22 WIB
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memacu kinerja industri otomotif agar semakin memberikan kont...
Produksi Tesla bisa tembus 500 ribu unit pada 2020
Minggu, 11 Oktober 2020 - 12:27 WIB
Produsen mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla Inc memiliki peluang untuk memproduksi 500 ribu m...
Nissan Magnite 2020 siap meluncur di India Oktober 2020
Minggu, 11 Oktober 2020 - 11:37 WIB
Nissan India secara virtual akan memperkenalkan kendaraan sport utilitas (SUV) terbarunya yang ditun...
Ford uji pikap F-150 hybrid
Minggu, 11 Oktober 2020 - 10:12 WIB
Ford tengah menguji all-new F-150 2021 yang menggunakan mesin 3.5 liter PowerBoost full hybrid ber...
Suzuki akan luncurkan kendaraan baru di IMX 2020
Selasa, 06 Oktober 2020 - 20:52 WIB
PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) mengatakan akan membuat banyak kejutan dengan peluncuran mobil-mobil...
DP kredit kendaraan ramah lingkungan 0 persen mulai diberlakukan
Jumat, 02 Oktober 2020 - 10:59 WIB
Bank Indonesia (BI) menyempurnakan ketentuan uang muka (down payment/dp) bagi pemberian Kredit/Pembi...
Risiko mesin mengelitik jika pakai BBM RON rendah
Selasa, 29 September 2020 - 19:36 WIB
Ahli motor bakar Institut Teknologi Bandung (ITB) Iman K Reksowardojo mengingatkan, penggunaan bahan...
Ada 120 potensi bahaya di jalan yang hantui pengendara roda dua
Selasa, 29 September 2020 - 12:12 WIB
Ada 120 jenis potensi bahaya yang dapat menghantui para bikers saat berkendara di jalan raya, demiki...
Lamborghini Urus Graphite Capsule hadir di Beijing Auto Show
Senin, 28 September 2020 - 13:10 WIB
Produsen kendaraan sport asal Italia, Lamborghini telah menghadirkan model terbaru dari Lamborghini ...
Bamsoet ajak Lady Bikers jadi relawan Empat Pilar MPR RI
Senin, 28 September 2020 - 10:50 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengajak komunitas motor perempuan, Lady Bikers, menjadi bagian dari R...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV