Komisi III duga kaburnya napi hukuman mati di Lapas Tangerang karena dapat `blue print`
Elshinta
Selasa, 29 September 2020 - 09:57 WIB | Penulis : Dewi Rusiana | Editor : Administrator
Komisi III duga kaburnya napi hukuman mati di Lapas Tangerang karena dapat `blue print`
Anggota Komisi III DPR RI, Sarifuddin Sudding. Foto: Ist

Elshinta.com - Komisi III DPR RI menduga kaburnya narapidana hukuman mati Cai Changpan alias Cai Ji Fan (53) karena mendapat `blue print` Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tangerang dari oknum pejabat terkait. Pasalnya, bandar narkoba ini dengan mudahnya menggali lubang yang bisa tembus hingga ke saluran air pemukiman warga.

Anggota Komisi III DPR RI, Sarifuddin Sudding yang menyebut pasti pelarian yang dilakukan Cai Ji Fa melibatkan oknum orang dalam hingga pejabat terkait. Pasalnya, kata dia, dengan mudahnya terpidana mati ini kabur dari dalam penjara dengan tahu letak bangunan dan kondisi tanah yang ada di bawahnya. 

"Kalau kita melihat penggalian lubang oleh napi hukuman mati itu penuh dengan kejanggalan. Gali lubang ke bawah dengan kedalaman 3 meter, diameter 1,5 meter, lalu panjang keluar sejauh 25 meter sampai 30 meter, itu sudah dirancang dengan baik. Pasnya lagi, bahwa di ujung galian keluar di ujung got perumahan," katanya, Selasa (29/9).

Dari pelarian itu, Sarifuddin menilai hal itu sudah sangat terencana dengan baik dan matang dengan dukungan oknum orang dalam. Pasalnya, tandas dia menilai, bila memang tidak memiliki blue print, pastinya akan tersasar kemana-mana. "Sehingga memang kita juga beranggapan ini satu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh napi, ketika tidak ada orang yang di dalamnya yang melakukan kerja sama," ujarnya.

Dikatakan Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini, saat dirinya melihat kondisi lapas sendiri, di kamar napi yang kabur tersebut juga tidak temukan bekas galian tanah. "Karena bila seandainya galian sedalam 3 meter dengan panjang 25 meter pastinya ada bekas galian, itu dikemanakan?," tanyanya. 

"Kalau misalnya tidak ada keterlibatan orang di dalam yang membuang hasil galian di dalam lapas itu tidak mungkin, ini penuh dengan kejanggalan," tuturnya. 

Dugaan keterlibatan orang dalam lainnya, kata Sarifuddin, adalah dengan menyiapkan peralatan untuk menggali. Pasalnya, untuk menggali lubang sepanjang 25 meter dan sedalam 3 meter pastinya memerlukan peralatan. 

"Alat yang digunakan tidak mungkin pakai tangan, pasti pakai alat. Dari mana alat itu didapat ya pasti dari orang dalam," ungkapnya.

Atas kaburnya Cai Ji Fan, Sarifuddin pun meminta jangan hanya mencopot Kalapas. Pejabat yang ada di atasnya seperti kepala Kantor Wilayah Hukum dan HAM (kanwilkumham) Banten, menurutnya, juga harus dicopot. 

"Menurut saya tidak hanya sebatas Kalapas saja yang bertanggung jawab, kepala kantor wilayahnya juga di non aktifkan," tegasnya.

Hal tersebut, jelas Sarifuddin, harus segera dilakukan karena masalah ini sudah berulangkali terjadi dan yang terakhir di Bali. Namun ketika hanya sebatas dimintai pertanggungjawaban, Kalapas yang dikorbankan. 

"Jangan terus berada di zona nyaman, jadi betul-betul mereka harus dimintai pertanggungjawaban atas kejadian ini agar tak lagi terulang," pungkasnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Tersangka kebakaran gedung Kejagung ditetapkan pekan ini
Selasa, 20 Oktober 2020 - 11:53 WIB
Tim penyidik Bareskrim Polri segera merampungkan penyelidikan kasus kebakaran gedung utama Kejaksaan...
Satu bulan Cai Changpan kabur, momentum pembenahan lapas
Sabtu, 17 Oktober 2020 - 10:20 WIB
Pengamat Kebijakan Publik, Trubus Rahardiansyah meminta Menteri Hukum dan HAM Yassona Laoly untuk be...
HTS siap sebutkan pihak yang terlibat dalam kasus dugan gratifikasi HK2 di Subang
Sabtu, 17 Oktober 2020 - 10:12 WIB
Mantan pejabat BKPSDM Kabupaten Subang, Jawa Barat HTS yang kini ditahan KPK siap menjalani sidang t...
Soenarko tidak penuhi panggilan pemeriksaan dengan alasan `medical check up`
Jumat, 16 Oktober 2020 - 13:59 WIB
Mantan Danjen Kopassus Mayjen TNI (Purn) Soenarko tidak memenuhi panggilan pemeriksaan yang dijadwal...
Polda pulangkan 10 tersangka kericuhan di Ternate
Jumat, 16 Oktober 2020 - 09:46 WIB
 Penyidik Dit Reskrimum Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara (Malut) memulangkan 10 orang tersang...
Komisi III terus awasi kasus kaburnya napi narkoba hukuman mati Cai Changpan 
Kamis, 15 Oktober 2020 - 12:27 WIB
Sudah sekitar satu bulan narapidana hukuman mati Cai Changpan alias Cai Ji Fan (53) kabur dari Lemb...
Belum bernomor, UU Cipta Kerja digugat ke MK
Kamis, 15 Oktober 2020 - 09:10 WIB
Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja yang baru disahkan dan belum tercatat dalam lembaran negara su...
Menaker imbau korban penipuan situs prakerja.vip lapor polisi
Senin, 12 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziah mengimbau masyarakat yang menjadi korban penipuan sit...
Pakar hukum: UU Cipta Kerja cegah korupsi di birokrasi
Senin, 12 Oktober 2020 - 09:10 WIB
Pakar hukum dari Universitas Padjadjaran, Profesor Romli Atmasasmita menilai, Omnibus Law UU Cipta K...
TGPF Intan Jaya bukan tim pro yustitia
Sabtu, 10 Oktober 2020 - 17:27 WIB
Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Intan Jaya mengklaim pihaknya bersifat netral dan bukan tim pro yu...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV