Kemenkes tingkatkan surveilans hadapi ancaman banjir dan pandemi
Elshinta
Kamis, 24 September 2020 - 13:27 WIB |
Kemenkes tingkatkan surveilans hadapi ancaman banjir dan pandemi
Ilustrasi. Sumber foto: https://s.id/rTl0r

Elshinta.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengupayakan sejumlah strategi untuk mengatasi ancaman banjir di tengah pandemi, terutama dengan meningkatkan sistem surveilans untuk menemukan kasus secara dini.

"Sistem surveilans ini harus kita kuatkan," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Direktorat Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Didik Budijanto, di Jakarta, Kamis (24/9).

Terkait kemungkinan lonjakan kasus COVID-19 di tengah ancaman banjir selama musim penghujan, Didik mengisyaratkan lonjakan tersebut dapat saja terjadi, meski dia tidak merinci bagaimana ancaman banjir tersebut dapat memengaruhi pandemi. "Kalau dari sisi COVID-19 ini kita bisa lihat tiap hari saja laporannya seperti itu. Tapi kalau dari sisi pengaruhnya yang jelas adalah kami mencoba supaya tidak memberikan beban ganda," katanya.

Untuk itu, sejumlah strategi dilakukan Kemenkes agar beban ganda akibat pandemi dan ancaman banjir dapat berkurang, salah satunya adalah dengan meningkatkan sistem surveilans.

Terkait sistem surveilans tersebut, Didik mengatakan bahwa Kemenkes sebenarnya telah memiliki sistem informasi berbasis elektronik yang dapat melakukan penelusuran vektor. "Di tempat kita (Kemenkes) sebetulnya ada supaya bisa realtime. Itu ada sistem informasi yang berbasis elektronik, sistem surveilans untuk vektor. Ini kita kuatkan supaya segera ketahuan di mana letak-letak vektor itu berada kemudian kita bisa lakukan intervensi," katanya.

Kemudian, selain meningkatkan sistem surveilans, Kemenkes juga memberikan penguatan diagnosis dini dan tata laksana yang harus dilakukan jika terjadi kasus penyakit dengan gejala yang mirip, seperti gejala DBD dan COVID-19. "(Untuk hal itu) tentu saja dengan bekerja sama dengan profesi. Misalnya kalau anak ya profesi IDAI untuk bisa meningkatkan kualitas bagaimana menegakkan diagnosis tadi, supaya tidak terjadi dua atau timpang tindih satu dengan yang lain," ujar Didik.

Untuk mencegah kekeliruan diagnosis karena ada kemiripan gejala DBD dan COVID-19, maka Kemenkes menerapkan strategi berikutnya, yaitu dengan mencoba mengendalikan vektor nyamuk secara terpadu. "Yaitu dengan gerakan satu rumah satu jumantik (juru pemantau jentik). Itu harus digerakkan betul ke teman-teman di Dinas Kesehatan atau Puskesmas, dan bekerja sama dengan masyarakat tentunya," katanya, dihimpun Antara

Sehingga kemungkinan beban ganda akibat tumpang tindih kasus satu dengan kasus lainnya dapat diminimalkan.

Sementara itu, pada kasus dengan gejala yang mirip antara DBD dan COVID-19 tersebut, Didik menyebutnya sebagai koinfeksi DBD dan COVID-19. Penegakan diagnosis tersebut, kata dia, telah tercantum di dalam Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) Nomor 238 Tahun 2020. "Itu ketika terjadi koinfeksi dengue, maka COVID-19 ini sebagai diagnosis utama dan yang infeksi dengue ini sebagai diagnosis sekunder. Jika terjadi sama," demikian kata Didik. (Ank) 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
BPBD: 22.000 jiwa terdampak banjir di Gunungputri Bogor 
Senin, 26 Oktober 2020 - 09:35 WIB
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menyatakan ada sebanyak 22.0...
Empat titik banjir bandang di Bandung rendam rumah warga
Senin, 26 Oktober 2020 - 09:22 WIB
Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Kota Bandung, Jawa Barat, menyatakan ada empa...
Erupsi Merapi 26 Oktober 2010, 353 orang tewas termasuk juru kunci Mbah Maridjan 
Senin, 26 Oktober 2020 - 08:20 WIB
Terus bergejolak sejak September 2010, Gunung Merapi akhirnya erupsi pada 26 Oktober 2010.
Gunung Sinabung luncurkan awan panas sejauh 1.500 meter
Minggu, 25 Oktober 2020 - 21:10 WIB
Gunung Sinabung di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara meluncurkan awan pa...
Banjir sempat genangi 16 RT di Jakarta Selatan
Minggu, 25 Oktober 2020 - 11:03 WIB
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat 16 rukun tetangga (RT) di wilayah Ja...
Gempa Pangandaran kejutkan warga Sukabumi
Minggu, 25 Oktober 2020 - 10:46 WIB
Gempa bermagnitudo 5,5 yang berpusat di perairan laut selatan Kabupaten Pangandaran sempat mengejutk...
Guncangan gempa Pangandaran dirasakan hingga Yogyakarta
Minggu, 25 Oktober 2020 - 10:28 WIB
Guncangan gempabumi berkekuatan Magnitudo 5,9 yang terjadi di Pangandaran, Jawa Barat, Minggu (25/10...
Gempa Pangandaran guncang wilayah Priangan Timur
Minggu, 25 Oktober 2020 - 10:10 WIB
Gempabumi yang berpusat di laut Pangandaran mengguncang daerah lain yang cukup dirasakan kuat oleh s...
Gempa tektonik M 5,9 guncang Pangandaran
Minggu, 25 Oktober 2020 - 09:15 WIB
Gempa tektonik dengan Magnitudo 5,9 mengguncang wilayah Samudera Hindia Selatan Jawa, Minggu (25/10)...
Banjir rendam beberapa perumahan di Bekasi hingga 1,5 meter
Minggu, 25 Oktober 2020 - 07:08 WIB
Beberapa perumahan yang berada di bantaran jalur sungai yang mempertemukan Sungai Cileungsi dan Cike...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV