Elektabilitas Herman Deru tak terkejar, akrobat politik makin menjadi
Elshinta
Senin, 21 Mei 2018 - 09:06 WIB | Penulis : Angga Kusuma | Editor : Administrator
Elektabilitas Herman Deru tak terkejar, akrobat politik makin menjadi
Sumber foto: https://bit.ly/2rZ4Z83

Elshinta.com - Pemungutan suara pemilih untuk menentukan siapa gubernur dan wakil gubernur Sumsel mendatang tinggal 36 hari. Masa menjelang hari menentukan itu akan banyak diisi dengan berbagai akrobat politik, semua dilakukan sebagai upaya terakhir agar paslon yang diusungnya bisa menang. Namun demikian, perangkat ukur pemilu telah semakin berkembang sehingga semakin kini, semakin mudah memprediksi siapa yang akan memenangkan kontestasi. Demikian disampaikan Agusta Surya Buana dari Forum Pemerhati Pilkada Sumsel saat paparan “Peta Kekuatan Jelang Pencoblosan” yang disampaikan di Palembang, Senin (21/5).

Agusta Surya Buana menyampaikan, setidaknya ada beberapa informasi hasil survei kuantitatif yang berhasil dihimpun lembaganya yakni survei yang dilakukan Konsepindo Research and Consulting Jakarta, survei Pusdeham Surabaya dan paling akhir adalah dari Lembaga Survei Strategi dan Taktik (stratak) Indonesia, kesemuanya menempatkan pasangan Herman Deru - Mawardi Yahya sebagai kontestan dengan elektabilitas tertinggi. Diakuinya, hampir tidak ada lembaga yang merilis survei secara resmi dan menggelar konferensi pers mengumumkan hasil surveinya. Hal itu menurutnya kemungkinan karena peta kekuatan tidak berubah dimana Herman Deru - Mawardi Yahya paling tinggi dengan selisih yang jauh dari pasangan Dodi - Giri kemudian dibawahnya ada Ishak dan Aswari.

Agusta Surya Buana menyampaikan ada beberapa akrobat politik yang dilakukan timses atau pendukung paslon tertentu dengan misalnya mengumbar polling media on line atau polling surat kabar, namun metode polling seperti itu sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. “Itu main-main saja, hiburan. Mungkin menghibur diri dari peta survei ilmiah yang sesungguhnya,” ujarnya seperti rilis yang diterima redaksi elshinta.com. 

Agusta Surya Buana menambahkan, akrobat paling berbahaya yang akan mencederai demokrasi dan merusak Pilkada Sumsel adalah dimanfaatkannya ajang sosialisasi Asian Games untuk kampanye salah satu paslon. Banyak pihak sudah mengadukan persoalan ini bahkan hingga ke Kemenpora dan wapres selaku panitia Asian Games. Selain itu menurutnya ada juga muncul di Pilkada Sumsel kasus dimana ada lembaga yang tidak jelas rekam jejaknya tetapi menyampaikan temuan survei. Jejak digital lembaga maupun direkturnya tidak bisa didapatkan, apalagi jejak digital survei sebelumnya. “Saat kita googling, itu nama lembaga tidak ketemu, direkturnya juga tidak jelas,” tanyanya sambil bergurau. 

Sementara itu, Oktarina Soebardjo Direktur Lembaga Survei Stratak Indonesia yang juga menjadi nara sumber dalam acara tersebut menyampaikan temuan survei lembaganya. Dari sisi elektabiltas tertutup dimana responden ditanya dan diberikan alat bantu kertas suara, pasangan Herman Deru - Mawardi Yahya dipilih oleh 43,88 persen. Dodi Reza Alex - Giri Ramanda Kiemas dipilih oleh 19,11 persen. Ishak Mekki - Yudha Pratomo dipilih oleh 16,22 persen dan pasangan Aswari Riva’i - Irwansyah dipilih oleh 10,91 persen. Sementara yang belum memutuskan sebesar 9,88 persen. 

Oktarina menjelaskan survei dilakukan pada Bulan Mei tepatnya dari tanggal 6 sampai 11 Mei 2018. Responden adalah masyarakat Sumsel yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Jumlah sampel yang ditetapkan sebanyak 820, dengan margin of error sebesar ± 3,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Pemilih terinfeksi COVID-19, begini mekanisme pemungutan suaranya
Kamis, 15 Oktober 2020 - 17:12 WIB
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Evi Novida Ginting Manik menyatakan, pemilih di Pilkada 2...
Bawaslu: Tak patuh protokol kesehatan, paslon ditegur hingga dipidana
Rabu, 14 Oktober 2020 - 15:17 WIB
Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Cianjur, Jawa Barat, menegaskan akan memberikan peringatan tertulis ...
Polres Keerom di Papua gelar simulasi Pilkada Serentak 2020
Senin, 12 Oktober 2020 - 17:45 WIB
Polres Keerom melaksanakan simulasi Sispamkota dalam rangka menghadapi Pilkada Serentak 2020 di Kabu...
KPU: Penerapan protokol kesehatan jadi tantangan Pilkada 2020
Sabtu, 03 Oktober 2020 - 12:50 WIB
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi mengatakan, pelaksanaan pem...
Pilkada di tengah pandemi, Polri tegaskan siap tindak pelanggar protokol kesehatan
Sabtu, 03 Oktober 2020 - 12:32 WIB
Polri sebagai pihak yang bertugas dalam memelihara keamanan dan ketertiban terus memberikan kontribu...
Ikuti deklarasi Pilkada Damai, pasangan ZIYAP berikrar patuhi protokol kesehatan
Minggu, 27 September 2020 - 11:15 WIB
Ketua Komisi Pemilhan Umum (KPU) Kaltara, Suryanata Al Islami menyampaikan bahwa pelaksanaan kampany...
Gibran blusukan virtual: Pakar Komunikasi, bisa ditiru calon walikota lain
Minggu, 27 September 2020 - 09:28 WIB
Pasangan Calon Walikota dan Calon Wakil Wali Kota Solo nomor urut 01, Gibran Rakabuming Raka dan Teg...
KPU larang konser pada Pilkada
Kamis, 24 September 2020 - 10:34 WIB
Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI akhirnya melarang konser musik dan kegiatan lainnya yang melibatkan m...
Satgas COVID-19 tegaskan tidak tolerir aktivitas politik dalam Pilkada yang berpotensi tingkatkan penularan
Kamis, 24 September 2020 - 07:23 WIB
Satgas Penanganan COVID-19 menegaskan, tidak akan mentolerir pihak-pihak yang tidak mengindahkan pro...
Mahfud: Parpol berperan arahkan kader patuhi protokol COVID-19
Rabu, 23 September 2020 - 07:40 WIB
Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD mengingatkan bahwa partai politik be...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV