Pengkhianat dan Saling Tuding: Ada Apa Lagi Antara Australia dan China?
Elshinta
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Pengkhianat dan Saling Tuding: Ada Apa Lagi Antara Australia dan China?
ABC.net.au - Pengkhianat dan Saling Tuding: Ada Apa Lagi Antara Australia dan China?

Ketegangan hubungan Australia dan China kian memanas pekan ini setelah kedua pihak saling melontarkan tudingan terkait bagaimana warga mereka ditahan dan diperiksa di masing-masing negara.

Rabu kemarin (9/09), Kementerian Luar Negeri China mengecam Australia yang mereka tuding telah "bertindak irasional" karena menggerebek kediaman empat jurnalis China di Australia serta membatalkan visa dua peneliti asal China.

ABC telah mengungkap identitas jurnalis dan akademisi China yang diselidiki oleh Kepolisian Federal Australia (AFP) dan Badan Intelijen Australia (ASIO).

Di antaranya yaitu kepala biro Layanan Berita China Australia, Tao Shelan; kepala biro China Radio International Sydney, Li Dayong; pengamat dan komentator media Profesor Chen Hong; dan pakar kajian Australia, Li Jianjun.

AFP dan ASIO sedang menyelidiki dugaan keterlibatan Partai Komunis China (PKC) untuk menyusup ke Parlemen negara bagian New South Wales melalui kantor politisi Partai Buruh bernama Shaoquett Moselmane.

Mantan staf untuk Shaoquett, yakni John Zhang sedang diselidiki apakah ia telah memanfaatkan grup obrolan di aplikasi WeChat untuk mendorong Shaoquett mengadvokasi kepentingan China di New South Wales yang beribukota Sydney.

Penyelidikan tersebut semakin memicu krisis diplomatik antara China dan Australia setelah jurnalis ABC Bill Birtles dan jurnalis Australian Financial Review Michael Smith dievakuasi dari China.

Sebelumnya, penyiar berita TV di China yang memegang paspor Australia, Cheng Lei, telah ditahan oleh polisi China dengan tuduhan membahayakan keamanan nasional.

Apakah Australia dan China saling balas?

Para jurnalis China di Australia tersebut tidak menanggapi pertanyaan ABC, namun media China News Service melaporkan rumah keempat jurnalis digeledah pada 26 Juni lalu.

"Barang-barang seperti ponsel, komputer, dan bahan tulis disita. Pada akhirnya, hasil investigasi Australia membuktikan jika jurnalis China tidak melakukan aktivitas yang tak sesuai dengan identitas mereka," demikiran laporan China News Service.

China News Service dimiliki dan diawasi oleh Kantor Urusan Luar Negeri Dewan Negara China, yang digabungkan ke dalam organ Partai Komunis China, United Front Work Department, pada tahun 2018.

Pada saat kejadian, Beijing tak secara terbuka mengutuk penggerebekan, namun Rabu malam, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian mengecam Australia.

"Perilaku Pemerintah Australia sangat mengganggu pemberitaan normal media China di Australia, secara terang-terangan melanggar hak dan kepentingan sah jurnalis China di sana dan menyebabkan kerusakan parah pada kesehatan fisik dan mental para jurnalis dan keluarga mereka," kata Zhao.

Zhao menambahkan semua pekerja media tersebut kini telah kembali ke China.

Sumber ABC di Pemerintah Australia mengonfirmasi jika aparat telah berbicara dengan para jurnalis China sebagai bagian dari penyelidikan campur tangan asing di Australia.

Sementara itu beberapa pejabat Australia mencurigai tindakan China mengintimidasi Bill dan Michael merupakan "pembalasan langsung atas penyelidikan di Australia".

China anggap Australia berkhianat

Video: Wang Xining menjelaskan meningkatnya ketegangan antara Australia dan China Video: Video: Wang Xining menjelaskan meningkatnya ketegangan antara Australia dan China (ABC News)

Perseteruan terbaru ini tampaknya tak bisa dilepaskan dari ketegangan yang muncul pada awal masa pandemi COID-19, ketika Australia tiba-tiba mengusulkan digelarnya penyelidikan asal-usul penyebaran virus corona di Wuhan.

Beberapa pekan lalu, wakil kepala misi diplomatik China di Australia, Wang Xining berbicara di depan forum National Press Club di Canberra.

Ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk melontarkan sindiran kepada sikap Australia yang dianggapnya bersikap bermusuhan, justru ketika China sedang berusaha keras mengatasi COVID-19.

"Pemerintah Australia tidak pernah berkonsultasi dengan Pemerintah China sebelum proposal [penyelidikan asal-usul COVID-19] keluar," katanya.

Kemudian Wang juga menuding usulan Australia untuk penyelidikan asal usul COVID-19 di China tak lepas dari perintah Amerika Serikat.

"Proposal diajukan pada saat AS mencoba [menyalahkan China] sehingga proposal itu akan membantu Washington untuk lebih menekan China," katanya.

Wang mengatakan usulan penyelidikan asal usul virus corona terjadi bertepatan saat Wuhan dan sebagian besar wilayah China memulai membuka lockdown COVID-19.

Ia secara dramatis dalam forum di Canberra mengutip kata-kata terakhir Kaisar Romawi, Julius Caesar, sebagaimana ditulis sastrawan Inggris, William Shakespeare: "Et tu, Brute?"

"Kamu juga, Brutus?" ucap sang kaisar ketika mengetahui orang kepercayaannya itu turut menikamkan pisau untuk membunuhnya.

Brutus diasosiasikan sebagai pengkhianat dan pesan inilah yang sepertinya ingin disampaikan Wang kepada Australia.

Meskipun pemaparan Wang sangat artikulatif, namun tampaknya tak akan mengubah apa-apa di kalangan pejabat Australia di Canberra.

Alasan utamanya karena Pemerintahan PM Scott Morrison lebih fokus pada apa yang dilakukan Pemerintah China daripada apa yang dikatakan mereka.

Pemerintahan PM Morrison tidak memiliki kontak tingkat tinggi dengan China sejak Menteri Perdagangan Australia, Simon Birmingham melakukan perjalanan ke Shanghai pada November 2019.

Beijing tampaknya bertekad untuk menghukum Canberra karena telah menentangnya, sebuah pesan yang ditujukan tidak hanya ke Australia, tetapi juga ke negara-negara lain.

ABC telah mengontak Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri Australia untuk memberikan tanggapan.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari berbagai sumber.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kunjungan PM Jepang ke Indonesia: China Anggap Sebagai Ancaman
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga telah bertemu dengan Presiden Indonesia Joko Widodo dan keduan...
Warga Asal Meksiko Mendapat Diskriminasi Saat Hendak Sewa Rumah di Australia
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Viry, seorang warga asal Meksiko yang tinggal di Canberra, mulai ragu apakah dia harus mengungkapkan...
Dorothy, Perempuan Australia Berusia 107 Tahun yang Tak Khawatir Virus Corona
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Perempuan berusia 107 tahun dan ibu dari 11 anak yang selamat dari perang dunia, flu Spanyol, dan De...
Mengapa Ada Orang yang Secara Sukarela Mau Terinfeksi Virus Corona?
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Robert Hatfield menawarkan diri kepada ilmuwan untuk menularkan COVID-19 kepadanya demi membantu pen...
John Chardon, Terpidana Kematian Istri Asal Surabaya Meninggal di Penjara Brisbane
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
John William Chardon (73), terpidana kasus kematian wanita asal Indonesia Novy Chardon, meninggal da...
Menikmati Kerja: Warga Indonesia di Australia yang Belum Pensiun di Usia 70 Tahun
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Sepuluh hari lagi, Sjahrir Laonggo akan meniup lilin ulang tahunnya ke-70, namun pria Indonesia yang...
Petani Australia Putus Asa, Mendesak Agar Backpacker Segera Didatangkan
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Kalangan petani dan pelaku usaha pariwisata Australia mendesak pemerintah untuk memperbolehkan peker...
Seruan Agar Australia Melindungi Perempuan Korban KDRT Pemegang Visa Sementara
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:26 WIB
Ketika Elly, bukan nama sebenarnya, meninggalkan rumah di pinggiran kota Melbourne tempatnya berlind...
Ketika Sebagian Kita Harus Pensiun, Pensiun Dini, di-PHK di Tengah Pandemi
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:25 WIB
Pandemi COVID-19 sudah menjungkirbalikkan keadaan dunia selama beberapa bulan terakhir, termasuk di ...
Pertama Kali Dalam Empat Bulan Tidak Ada Kasus Baru COVID-19 di Melbourne
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:25 WIB
Negara bagian Victoria, Australia, hari Senin (26/10) melaporkan tidak ada kasus baru dan kematian a...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV