Wabah Cerminkan Dua Aspek AS
Elshinta
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:18 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Wabah Cerminkan Dua Aspek AS
CRI - Wabah Cerminkan Dua Aspek AS

 

Pada hari Sabtu kemarin (8/8), jumlah kasus positif virus corona di AS secara akumulasi mendekati 5 juta orang, AS menjadi negara yang paling serius wabahnya. Akan tetapi, orang AS terhadap wabah mempunyai dua sikap yang berbeda. Jika wabah adalah sebuah cermin, jadi akan tercermin dua aspek AS yang berbeda.

Festival Balap Sepeda Motor yang Konyol

Dari tanggal 7 Agustus lalu, puluhan ribu penyetir sepeda motor memasuki Sturgis, kota kecil di Dakota Selatan untuk menyertai Festival Balap Sepeda Motor tahunan. Acara ini dimulai dari tahun 1938, merupakan festival karnaval penggemar balap sepeda motor di AS. Festival selama 10 hari tahun ini akan menarik 250 ribu orang, ini merupakan perkumpulan skala terbesar di AS sejak wabah virus corona merebak.

Banyak orang turun ke jalan, papan promosi dengan emblem Harly Davison dan logo pilpres Trump 2020 kelihatan di mana-mana, ada orang yang memakai kaos hitam yang bertulisan Biarkan Virus Corona ke Mana-mana, Saya Nekad Ke Sturgis. Mereka tidak memakai masker, juga tidak peduli protokol menjaga jarak sosial. Demikian dilaporkan wartawan New York Times.

Gubernur dari Partai Publik Kristi Noem menantikan festival sepeda motor dapat mendatangkan lebih banyak pendapatan, dan melalui media meninta orang-orang dengan aktif ikut serta acara kali ini.

Akan tetapi, penduduk setempat sangat mengkhawatirkan keamanan mereka. Para ahli kesehatan memperingatkan, para pendatang dari  berbagai penjuru AS dengan perlakuannya miripseperti mesin penyebar virus. Tapi mereka tidak menghiraukan hal ini. Jim Bush mengatakan, dirinya merasa suasana yang tegang saat ini sengaja diciptakan orang tertentu yang mempunyai motif tak bisa diumumkan.

Wasiat Guru Terhadap Pembukaan Sekolah

Dibandingkan dengan pembalap sepeda motor yang tidak takut akan mati, perpisahan di antar sejumlah guru sangat tragis.

Untuk memprotes pembukaan sekolah pada Musim Gugur, guru-guru di berbagai tempat AS dengan acara yang ektrem yakni menulis berita kematian untuk menyatakan ketidakpuasan mereka.

Belakangan ini, di hadapan media, seorang guru dari Florida bernama Whitney Reddick membacakan berita kematiannya

“ dengan rasa sedih yang mendalam, saya mengumumkan Whitney Reddick meninggal dunia. Pada 7 Agustus 2020, dia meninggalkan kami di atas ventilator di rumah sakit.”

Pada awal bulan ini, sejumlah guru di Iowa menyerahkan berita kematian mereka kepada gubernur, dan mengharapkan pemerintah dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan pembukaan sekolah kembali. Sebagai seorang guru, Sarah Backstrom mengatakan untuk pertama kali dia merasa takut kembali ke sekolah. Dia memberitahukan CNN,” saya harus berhati-hati, benar-benar mengharapkan gubernur dapat membaca dan memaham, jika terjadi masalah, saya akan mati.”

Backstrom dalam berita kematiannya mengatakan, “Sarah sangat mencintai sanak keluarga dan teman. Kesenyumannya terpesona, walaupun di saat paling gelap, dia pun menemukan sinnar matahari.”

Wabah Memisahkan AS dalam Dua Kubu

Pembalap sepeda motor yang gila dan guru yang memprotes memanifestasikan kenyataan AS saat ini--wabah ini telah memisahkan mnasyarakat dalam dua kubu, ada yang tidak menghiraukan, ada yang merasa sedih, sperti sebuah ngarai yang memisahkan orang-orang di kedua sisinya.

Washington Post mengatakan, saat ini, banyak orang AS berpendapat, penyakit menular ini dilbuat-buat dengan berlebihan. Gejala yang menentang ilmu pengetahuan telah menjadi teori konspirasi, dan menganggap kebohongan ahli adalah bagian politik.

Keadaan serupa Diakibatkan Pemerintah Federal

Sejarawan AS James Grossman menyatakan, para ahli historis akan mencatat keterpisahan saat ini dalam kitab sejarah seperti apa adanya, dan menyimpulkan hal itu sebagai kesalahan pemerintah sekarang. Dia mengatakan, menengok kembali masa depresi besar, Presiden Roosevelt melalui kebijakan baru mempersatukan negara ini. Ini adalah reaksi naluriah setiap presiden, walau tidak sukses, tapi harus berupaya mempersatukan rakyat.

Selain Tujuan Politik, Tradisi Individualisme AS Juga Dorong Pemecahan Sosial

Komentar New York Times berpendapat, tradisi AS memprioritaskan individualisme jika dibandingkan dengan tindakan pembatasan yang diambil pemerintah. Tradisi ini adalah salah satu sebab yang mengakibatkan tidaksetaranya sistem pengobatan AS. Kepala Institut Kesehatan Publik di bawah Universitas Washington Jared Baeten mengatakan, sebagai warga AS, saya mau mengatakan, tradisi kebebasan kita mempunyai banyak keunggulan, tapi akibatnya tidak akan mencapai sukses dibandingkan aksi kolektif.

Pada tanggal 7, Faucci kepada CNN menyerukan orang AS besatu padu, bersama melawan wabah. Tapi Faucci sedikit tidak berdaya. Dia mengatakan, dirinya akan terus menyerukan masyarakat agar memakai masker, tidak berkerumun dan lain sebagainya  sampai dia “terkikis tenaga terakhir”.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
CIFTIS Merupakan Aktivitas Internasional Pasca Wabah ke-1 Yang Diselenggarakan Tiongkok
Jumat, 11 September 2020 - 15:47 WIB
Pekan Perdagangan Jasa Internasional Tiongkok CIFTIS 2020 selama 6hari ditutup di Beijing kemarin (9...
Kemlu Tiongkok Rilis Dokumen Berpendirian Tiongkok Berkenaan 75 Tahun Berdirinya PBB
Jumat, 11 September 2020 - 15:47 WIB
Kementerian Luar Negeri Tiongkok hari ini (10/9) mengemukakan Dokumen Berpendirian Tiongkok Berkenaa...
Pertemuan Pemimpin Tiongkok, Jerman dan Uni Eropa Diharapakan Menambahkan keyakinan dan Dinamika kepada Ekonomi Dunia Pasca Wabah
Jumat, 11 September 2020 - 15:47 WIB
Jubir Kemlu Tiongkok Zhao Lijian hari ini (10/9) menyatakan, Pertemuan Virtual Tiongkok, Jerman dan ...
CIFTIS Manifestasikan Langkah Keterbukaan Tiongkok Yang Tak Berhenti untuk Selama-lamanya
Jumat, 11 September 2020 - 15:47 WIB
Pekan Perdagangan Jasa Internasional Tiongkok CIFTIS hari Kamis kemarin (9/9) ditutup. Sebagai aktiv...
Xi Jinping dan Guru-gurunya
Jumat, 11 September 2020 - 15:47 WIB
Hari ini, tanggal 10 September, adalah Hari Guru Tiongkok. 17 juta guru Tiongkok menyongsong hari ra...
Retno: Inilah rahasia kebangkitan ekonomi Tiongkok pasca wabah Covid-19
Jumat, 11 September 2020 - 15:47 WIB
Di depan Rakornas Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) secara virtual kemarin (10/9), Menteri...
Tuo Xiuying, Gadis Muslim Tiongkok Masuki Universitas
Jumat, 11 September 2020 - 15:47 WIB
Tuo Xiuying, seorang gadis etnis Dongxiang yang beragama Islam di Komune Yagou Desa Dashu Kabupaten ...
Kemlu Tiongkok Bantah Pernyataan Pompeo Yang ‘Prihatin dan Khawatir’ pada Operasi Kapal Nelayan Tiongkok di Laut Lepas
Jumat, 11 September 2020 - 15:47 WIB
Berkenaan opini tak layak dari Menlu AS Mike Pompeo baru-baru ini tentang opreasi kapal nelayan Tion...
Perusahaan Swasta Tiongkok Menuju Luar Negeri dengan Semakin Baku dan Rasional
Jumat, 11 September 2020 - 15:47 WIB
‘Laporan Riset Top 500 Perusahaan Swasta Tiongkok 2020’ yang diumumkan hari Kamis kemari...
Menlu Tiongkok dan India Capai Lima Kesepahaman
Jumat, 11 September 2020 - 15:47 WIB
Anggota Dewan Negara selaku Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dan Menteri Luar Negeri India Subra...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV