Kaka Belajar Masak: Orangtua Asal Indonesia dengan Anak Autisme Jalani Lockdown di Melbourne
Elshinta
Senin, 10 Agustus 2020 - 15:16 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Kaka Belajar Masak: Orangtua Asal Indonesia dengan Anak Autisme Jalani Lockdown di Melbourne
ABC.net.au - Kaka Belajar Masak: Orangtua Asal Indonesia dengan Anak Autisme Jalani Lockdown di Melbourne

Aturan pembatasan pergerakan tahap keempat di Melbourne telah mengubah rutinitas anak-anak berkebutuhan khusus. Para orangtua asal Indonesia berbagi pengalaman bagaimana merawat mereka saat banyak diam di rumah.

Seperti yang dialami oleh Kardam Fynn Hier, akrab disapa Kaka, pria berdarah Indonesia berusia 16 tahun yang hidup dengan autisme.

Sebelumnya, bila Kaka mengalami tantrum, atau ledakan emosi, salah satu cara mengatasinya adalah dengan melakukan kegiatan jalan-jalan naik mobil, yang ia sebut sebagai "highway".

Namun, dengan adanya pembatasan aktivitas di luar rumah, orangtua Kaka harus mencarikan kegiatan baru bagi putranya.

"Untungnya, selain highway, Kaka juga suka makan. Jadi sekarang disiasati dengan belajar masak, dimulai dengan masakan yang sederhana," kata Mediyanti Hier, ibu Kaka, yang akrab disapa Medi.

Sebagai keluarga yang masih kental dengan tradisi Indonesia, Kaka diajari memasak nasi, puding, menggoreng kentang dan nugget. Dia juga bantu-bantu mencampur adonan kue.

"Segala sesuatu yang melibatkan tentacle, yaitu jari-jari tangan, pasti disukai oleh Kaka," tutur Medi kepada Farid M. Ibrahim dari ABC Indonesia.

"Misalnya memegang beras, mengupas bawang, memotong sayuran, Kaka suka karena melibatkan sensory-nya."

Menurut Medi, anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan waktu untuk bisa beradaptasi dengan perubahan rutinitas.

Untuk mendukung proses tersebut, keluarga Kaka mempersiapkan visual support, yakni mengajarkan tentang informasi seputar COVID-19 dalam bentuk gambar.

"Misalnya, mengenalkan ke Kaka gambar orang menggunakan masker, gambar yang menjelaskan kenapa harus lebih baik di rumah, gambar orang mencuci tangan selama 20 detik, dan yang lainnya."

Pemenuhan kebutuhan jadi sulit saat pandemi

Sejak pembatasan aktivitas yang semakin ketat di Melbourne, Hilda Tan, usia lima tahun setengah dengan kondisi autisme ringan pun hanya bisa beraktivitas di dalam rumah.

Hal ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi Rinna Widjaja, sang ibu, yang ingin anaknya melakukan banyak interaksi sosial untuk memenuhi keperluannya sebagai anak berkebutuhan khusus.

"[Di tengah lockdown ini] bagi saya tidak bisa berinteraksi itu yang membuat susah karena itu keperluan dia," kata Rinna kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

"Biasanya saya menemani dia main sepeda memutari komplek dan main dengan anak tetangga … tapi sejak lockdown pertama, saya mengurangi interaksi itu karena takut."

Di tengah pembatasan tahap empat, Hilda yang duduk di bangku taman kanak-kanak harus libur sekolah dan terpaksa melakukan terapi mingguannya secara online.

Menurut Rinna, terbatasnya interaksi tatap muka dalam terapi online sering membuat Hilda merasa bingung dan kemudian merajuk.

"Kalau terapi online agak susah ya, karena interaksinya jadi seperti melihat Youtube," kata Rinna yang berasal dari Jakarta.

"Ketika belajar online, guru terapinya [menggunakan] fitur share screen dan aplikasi berhitung dan main game ... jadinya gurunya yang bermain puzzle, tapi anaknya hanya melihat, bukan melakukan sendiri."

Belajar dan berinteraksi secara online menjadi tantangan bagi banyak orangtua yang membesarkan anak dengan kebutuhan khusus.

Karenanya Medi, yang juga berprofesi sebagai guru bantu pada sekolah berkebutuhan khusus di bawah La Trobe University, selalu berusaha mencarikan aktivitas baru untuk putranya sebagai pengganti kegiatan di sekolah.

"Selama lockdown, jadwal berubah menjadi Zoom seminggu sekali dengan guru kelas, dikirimkan work sheet [lembar kerja] dari sekolah untuk satu minggu," jelasnya.

"Sisanya, tergantung kreativitas orang tua saja, seperti olahraga bareng Kaka setiap hari, terus untuk life skill saya menyuruh dia menjemur cucian, memasak, vacuum rumah, membersihkan tempat tidurnya, cuci piring."

Selain itu, ia juga membuatkan semacam "supermarket rumahan" yang di dalamnya "menjual" makanan kesukaan Kaka untuk mengajarkan fungsi matematika dari kegiatan jual beli.

Kunci perkembangan anak autisme

Adanya tekanan di tengah keluarga dengan anak berkebutuhan khusus di tengah pandemi COVID-19 dibenarkan oleh Nicole Rogerson, direktur dari yayasan Autism Awareness Australia.

"COVID menimbulkan dampak buruk bagi keluarga di manapun. Namun, [kesulitan yang dialami] komunitas autisme tentunya berbeda dengan mereka," kata Nicole kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

"Ada beberapa situasi unik yang membuat keluarga autisme lebih mengalami kesulitan. Secara fundamental, salah satu yang terbesar adalah bagaimana mereka harus menghadapi perbedaan setiap waktu, karena aturan selalu berubah."

Menurut Nicole, yang juga seorang ibu dengan anak autisme, salah satu hal yang bisa dilakukan orangtua di tengah pembatasan aktivitas sosial adalah menjalin komunikasi dengan komunitas anak berkebutuhan khusus lainnya secara online.

"Di Melbourne, saya sangat menganjurkan agar keluarga mencoba untuk menjangkau support group online … berbagi ide dengan orangtua lain tentang bagaimana menjaga agar anak-anak tetap senang," katanya.

Selain itu, Nicole juga menganjurkan agar para orangtua tidak khawatir berlebihan soal dampak jangka panjang kegiatan belajar dari rumah bagi anak mereka.

Menurutnya, orangtua sebagai support system, harus bersikap baik pada diri sendiri di tengah masa yang sulit saat ini.

"Saya tahu banyak keluarga yang stress dan berpikir astaga, anak saya ketinggalan banyak dalam pendidikan yang sangat penting di momen tertentu," ujarnya.

"Tapi ingatlah pendidikan terakhir adalah seumur hidup. Kejadian beberapa bulan ini tidak mengubah kemungkinan apakah anak kita bisa sukses atau tidak."

Berbicara dari pengalaman pribadi, Medi mengatakan kunci perkembangan anak autisme adalah adanya dukungan penuh dari keluarga mereka.

"Sebenarnya ini melibatkan proses yang sangat panjang. Dulu waktu kecilnya Kaka juga selalu tantrum. Tidurnya susah sehubungan dengan apa yang disebut autisme," kata Medi.

"Tapi karena konsistensi dan kekompakan seluruh anggota keluarga, alhamdulillah, Kaka sangat banyak berubah menjadi lebih baik sekarang. Tidak ada yang mustahil jika dijalankan dengan bersungguh-sungguh."

Informasi resmi dari Pemerintah Australia seputar COVID-19 bagi warga dengan kebutuhan khusus bisa diakses di sini.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Mungkinkah Pilkada Serentak Ditunda untuk Cegah Klaster Baru COVID-19?
Selasa, 22 September 2020 - 09:35 WIB
Rangkaian tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 sudah dimulai pada awal bulan September.Dua...
Menjual Foto atau Kencan Virtual: Kegiatan Sugar Baby Indonesia Saat Pandemi
Selasa, 22 September 2020 - 09:35 WIB
Lola* lahir di keluarga yang serba berkecukupan sehingga punya kesempatan sekolah di Singapura.Tapi ...
Selandia Baru Cabut Pembatasan Lockdown 21 September Kecuali Auckland
Selasa, 22 September 2020 - 09:35 WIB
Selandia Baru kembali akan mencabut lockdown mulai 21 September. Tapi khusus kota Auckland akan teta...
Sisi Lain Backpacker di Australia: Dibayar Murah, Digerayangi Sejak Hari Pertama
Selasa, 22 September 2020 - 09:35 WIB
Setelah bekerja selama dua bulan di sebuah usaha pertanian di Queensland, Elin cuma bisa mendapatkan...
Warga Palestina Merasa Perjanjian Negara Arab dengan Israel Sebuah Pengkhianatan
Selasa, 22 September 2020 - 09:35 WIB
Dua negara Arab, Bahrain dan Uni Emirat Arab menandatangani perjanjian bersejarah untuk melakukan hu...
Karena Pakai Jilbab: Kasus Penganiayaan Perempuan Hamil di Sydney Disidangkan
Selasa, 22 September 2020 - 09:35 WIB
Rana Elasmar, wanita hamil yang dianiaya di Sydney tahun, yakin dirinya menjadi sasaran serangan kar...
Inilah Bantuan yang Tersedia Bagi Mahasiswa Internasional di Australia
Selasa, 22 September 2020 - 09:35 WIB
Pemerintah di beberapa negara bagian Australia mengeluarkan beragam bantuan bagi mahasiswa internasi...
Ini Soal Harga Diri: Warga Papua Kembalikan Uang Beasiswa Veronica Koman
Selasa, 22 September 2020 - 09:35 WIB
Permintaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) agar pengacara hak asasi manusia Veronica Koman ...
Ekonomi di Indonesia Dibuka Terlalu Cepat Tapi Bantuan Untuk Warga Terkendala
Selasa, 22 September 2020 - 09:35 WIB
Obed Humutur, seorang musisi kafe di Jakarta terpaksa menjual keyboard miliknya.Sejak Pembatasan Sos...
Lockdown Dilonggarkan, Warga Indonesia di Pedalaman Victoria Tersenyum Lagi
Selasa, 22 September 2020 - 09:35 WIB
Linda Craggs, seorang warga asal indonesia yang kini tinggal di Ballarat, kota kecil di Victoria, Au...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV