Perempuan Australia Dibebaskan Dari Penjara Kerobokan, Setelah Terkait Kematian Polisi
Elshinta
Jumat, 17 Juli 2020 - 09:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Perempuan Australia Dibebaskan Dari Penjara Kerobokan, Setelah Terkait Kematian Polisi
ABC.net.au - Perempuan Australia Dibebaskan Dari Penjara Kerobokan, Setelah Terkait Kematian Polisi

Salah satu terpidana kasus pembunuhan anggota polisi di Bali, Sara Connor dibebaskan dari penjara, Kamis (16/07) setelah menjalani hukuman empat tahun di LP Kerobokan.

Pengadilan Negeri Denpasar menjatuhkan vonis bersalah terhadp Sara dalam kematian Wayan Sudarsa di Pantai Kuta pada Agustus 2016.

Dengan keputusan ini, Sarah akan langsung dideportasi ke Australia.

Sara menjadi terpidana bersama pacarnya pria asal Inggris David James Taylor yang divonis enam tahun penjara dan hingga kini masih menjalani hukumannya.

Sara yang berasal dari Byron Bay di Australia saat itu bersikukuh tidak bersalah setelah mayat Wayan Sudarsa ditemukan di Pantai Kuta.

Dia berdalih apa yang ia lakukan ketika itu adalah berusaha melerai David dan Sudarsa yang terlibat perkelahian.

Menurut Kapolresta Denpasar yang ketika itu dijabat Kombes Hadi Purnomo, kasus ini bermula ketika David dan Sara membeli bir dan duduk-duduk di Pantai Kuta sekitar pukul 9 malam.

Kombes Hadi menjelaskan kedua orang ini kemudian menuju pinggir pantai, sementara tas Sara dan bir yang mereka beli ditinggal. Mereka kemudian mendapati tas Sara sudah hilang.

"Sara panik, karena di situ ada ATM, SIM dan dompet serta uang. Karena panik, dia meminta tolong orang yang ada di situ [korban]," kata Kombes Hadi, seperti dilaporkan media setempat.

Kebetulan Wayan Sudarsa yang masih berseragam polisi saat itu berada di tangga yang menuju ke pantai.

Menurut versi polisi, Sara kemudian menanyakan apakah korban melihat tasnya yang hilang.

Pertengkaran pun terjadi, kata Kombes Hadi, setelah David datang menghampiri Sara dan menggeledah saku korban.

"Karena disebut polisi gadungan dan sakunya digeledah, Aipda Sudarsa pun marah dan mendorong David," katanya.

"David ditindih dan Sara menolong. Saat itulah, tangan dan pahanya Sara digigit oleh korban. Korban melakukan perlawanan," ungkap Kombes Hadi.

Laporan forensik menyebutkan ada 42 luka pada tubuh korban, puluhan di antaranya terjadi pada bagian kepala dan leher.

Wayan Sudarsa dipastikan meninggal beberapa jam setelah perkelahian tersebut.

David Taylor mengakui memukuli korban dengan menggunakan teleopon genggam, tangan, serta botol bir saat perkelahian, meski berdalih untuk membela diri.

Majelis hakim PN Denpasar memutuskan David bersalah telah secara bersama-sama melakukan pengeroyokan yang menyebabkan kematian orang lain dan divonis enam tahun penjara.

Sementara Sara mengakui telah menghancurkan barang bukti berupa kartu anggota polisi dari korban dan bersama-sama David membakar baju mereka yang berlumuran darah.

Dalam pembelaannya di persidangan, tim pengacara Sara hanya mengakui perbuatan kliennya yang menghancurkan barang bukti.

Menghancurkan bukti adalah perbuatan pidana yang terancam hukuman maksimal tujuh bulan penjara.

Sara mengaku dirinya membiarkan David membakar baju berlumuran darah karena dia ketakutan dan teringat pada anak-anaknya di Australia.

Dalam persidangan kasus ini, Sara menyampaikan pembelaan bahwa dirinya tidak memiliki peran apa-apa atas kematian korban.

"Saya percaya pada kebenaran, yang telah saya sampaikan kepada polisi dan dalam persidangan ini sejak awal," katanya.

"Saya tidak pernah membantah saya ada di sana, namun saya bersumpah saya tidak pernah menyakiti korban," ujar Sara.

Ia mengakui menghancurkan karti identitas korban namun hal itu dia lakukan untuk melindungi korban dari pencurian identitas.

Sara ditangkap di luar kantor konsulat Australia dua hari setelah kejadian.

"Jika saya ingin melarikan diri, bukankah saya lebih baik terbang ke Australia dan bukannya melanjutkan liburan di Jimbaran?" katanya.

"Harap diingat bahwa saya berada di negara lain. Saya tidak mengerti hukum Anda," tambahnya.

"Saya ketakutan dengan apa yang akan terjadi. Saya memikirkan anak-anakku. Saya memikirkan korban," kata Sara.

Kedua terdakwa dinyatakan terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan setelah menjalani persidangan selama enam bulan dengan menghadirkan belasan saksi.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kapan COVID-19 Berakhir? Mungkin Jawabannya Bisa Ditemukan dari Sejarah Pandemi
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Sekitar 100 tahun lalu, satu jenis baru influenza menulari hampir sepertiga penduduk dunia. Namun da...
Film Mulan Mendapat Seruan Boikot Terkait Perlakuan Muslim Uyghur di China
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Film Mulan yang diproduksi ulang dalam bentuk live-action mendapat seruan boikot karena adanya "ucap...
Tidak Bisa Diburu-buru: Tahap Akhir Vaksin Inggris Terpaksa Ditangguhkan
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Tahap akhir uji coba untuk vaksin virus corona di Inggris ditangguhkan setelah seorang peserta yang ...
Melayani Makan Siang, 103 Tertular Corona, Kini Restoran di Sydney Nyaris Bangkrut
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Pandemi COVID-19 tidak hanya merengut korban jiwa, tapi juga merugikan banyak bisnis di dunia, terma...
Khawatir Kesehatan Saya: Kondisi Petugas dan Lahan Pemakaman di Jakarta Saat Ini
Sabtu, 12 September 2020 - 09:27 WIB
Nadi bin Eji sudah bekerja di taman pemakaman umum (TPU) Pondok Ranggon, Jakarta Timur sejak tahun 1...
Pengkhianat dan Saling Tuding: Ada Apa Lagi Antara Australia dan China?
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Ketegangan hubungan Australia dan China kian memanas pekan ini setelah kedua pihak saling melontarka...
Tigerair Australia yang Pernah Bermasalah di Bali Berhenti Terbang Selamanya
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Maskpai penerbangan asal Australia, yang dikenal dengan tiket murahnya, menghentikan operasinya sete...
Pejabat Australia Juga Menghadapi Kepentingan Politik Saat Menangani COVID-19
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Para pemimpin di seluruh dunia saat ini sedang mengatasi pandemi COVID-19 dengan pilihan sulit antar...
Agar Harga Makanan Tak Naik, Warga Australia Diserukan Bekerja di Perkebunan
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Warga Australia didesak untuk bekerja sebagai backpacker di negara mereka sendiri untuk mencegah bua...
Jakarta Tarik Rem Darurat, Warga Jerman Lebih Takut Trump Ketimbang Virus
Sabtu, 12 September 2020 - 09:26 WIB
Angka penularan virus corona di Indonesia, termasuk di ibukota Jakarta terus meningkat yang membuat ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV