HRW: Bendungan di Kamboja Hancurkan Kehidupan Puluhan Ribu Orang
Elshinta
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
HRW: Bendungan di Kamboja Hancurkan Kehidupan Puluhan Ribu Orang
DW.com - HRW: Bendungan di Kamboja Hancurkan Kehidupan Puluhan Ribu Orang

Organisasi internasional hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW), menyebutkan bendungan Lower Sesan 2 di timur laut Kamboja selama ini telah memicu kontroversi, bahkan sebelum diluncurkan pada bulan Desember 2018 lalu.

Para pakar sebelumnya telah memperingatkan bahwa membendung pertemuan Sungai Sesan dan Srepok - dua anak sungai utama dari Sungai Mekong yang kaya sumber daya - bisa mengancam stok ikan di wilayah itu, yang sangat penting bagi makhluk hidup yang tinggal di sepanjang sungai.

Kerugian besar di hulu dan hilir

Puluhan ribu penduduk desa yang hidup di hulu dan hilir telah menderita kerugian besar atas pendapatan mereka, kata HRW - mengutip wawancara yang dilakukan selama dua tahun dengan beberapa orang dari 60 komunitas.

"Bendungan Lower Sesan 2 menghilangkan mata pencaharian masyarakat adat dan etnis minoritas yang  kebanyakan hidup dari memancing, mengumpulkan hasil hutan, dan pertanian, ujar John Sifton, Direktur Advokasi HRW untuk kawasan Asia yang juga menulis laporan HRW ini. "Pihak berwenang Kamboja perlu segera mempertimbangkan kembali metode kompensasi, pemukiman kembali, dan pemulihan mata pencaharian," tuturnya.

Masyarakat adat dan etnis minoritas yang terkena dampak proyek bendungan ini termasuk di antaranya anggota komunitas Bunong, Brao, Kuoy, Lao, Jarai, Kreung, Kavet, Tampuan, dan Kachok.

"Tidak ada keraguan sama sekali bahwa (bendungan) berkontribusi secara signifikan terhadap masalah yang lebih besar, yang dihadapi Mekong saat ini," kata ahli energi dan air, Brian Eyler.

Produksi energi lebih rendah

Pemerintah telah mendorong proyek pemukiman kembali sekitar 5.000 orang--dengan harapan bisa memproduksi sekitar seperenam dari kebutuhan listrik tahunan Kamboja seperti yang dijanjikan oleh grup Cina, Huaneng.

Namun, tingkat produksinya "kemungkinan jauh lebih rendah, hanya sepertiga dari yang disebutkan itu”, tulis laporan HRW.

Di lain pihak, juru bicara pemerintah, Pha Siphan mengatakan, proyek itu memberikan "dampak yang paling positif" dan bahwa penduduk desa yang dimukimkan kembali mendapat rumah baru, lahan pertanian, dan listrik.

"Tuduhan-tuduhan itu tidak masuk akal... dan lokasi baru itu lebih baik daripada tempat lama," kata Phay Siphan, seray menambahkan bahwa pemerintah akan terus memantau dampaknya.

Penduduk desa yang dimukimkan kembali mengatakan hasil pertanian mereka juga menurun karena tanah yang kurang subur, lebih banyak berbatu di lokasi pemukiman kembali, dan kehilangan pendapatan dari pohon buah dan kacang di desa lama mereka.

Pemerintah tidak memberikan kompensasi atas kerugian pendapatan dari tanaman jamur, tanaman obat, dan produk lain yang dikumpulkan dari hutan komunal. Kompensasi tidak cukup untuk mengatasi hilangnya budaya dan mata pencaharian penduduk. Warga mengeluh, air sumur di sebagian besar lokasi pemukiman kembali terkontaminasi dan tidak dapat diminum.

Dalam laporannya, HRW menulis beberapa ratus penduduk desa tidak menerima kompensasi atau pemukiman kembali pada tahun 2017, tetapi malah pindah ke lahan kosong terdekat di sepanjang waduk baru yang dibuat oleh bendungan. Pemerintah setempat mengintimidasi penduduk desa ini.

Bendungan, yang pembangunannya memakan biaya sebesar 780 juta dolar AS ini adalah bagian dari inisiatif Prakarsa Jalan Sutra Baru, sebuah proyek super raksasa Cina bernilai 1 triliun dolar AS yang memiliki visi untuk pembangunan proyek maritim, kereta, dan jalan di seluruh Asia dan Eropa.

Skema Prakarsa Jalan Sutra Baru - yang dianggap simbol dari upaya Beijing untuk memperluas pengaruh ekonomi di seluruh dunia - telah dikritik secara luas karena membebani negara-negara kecil dengan utang yang tidak dapat dikelola.

ap/hp (AFP/HRW)



Bendungan besar yang dibiayai Cina di Kamboja telah "menghancurkan" sumber mata pencaharian "puluhan ribu penduduk desa." Sementara produksi energi yang dijanjikan menurun, demikian disampaikan Human Rights Watch.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
HRW: Bendungan di Kamboja Hancurkan Kehidupan Puluhan Ribu Orang
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Organisasi internasional hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW), menyebutkan bendungan Lower Ses...
Bersepeda Solusi bagi Kemacetan dan Polusi di Mesir
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
ibu kota Mesir, Kairo, yang pada 2025 diprediksi akan menampung hingga 24 juta penduduk. Untuk menga...
Robot Jangkau Lokasi Yang Terlalu Berbahaya bagi Manusia
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Tragedi meledaknya reaktor nuklir di Fukushima mengingatkan kita tentang ancaman paparan zat radioak...
Penyandang Disabilitas dan Transpuan sebagai Model Fesyen
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Dunia mode sejak lama dikritik karena abai terhadap mereka yang dianggap tidak mewakili standar keca...
Kenali Pusar Anda
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Apakah pusarmu "masuk" atau "keluar"? Semua orang memiliki pusar, tetapi tidak ada yang sama. Kenapa...
Pakar Kuliner UGM: Nasi Goreng Indonesia Istimewa karena Beraneka Ragam
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Nasi goreng bukan hanya sekadar jadi salah satu kuliner unggulan nusantara yang disukai oleh banyak ...
Lewat Novel Sejarah, Penulis Akmal Nasery Basral Hidupkan Kembali Tokoh Kemerdekaan
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Di tengah perayaan HUT Kemerdekaan Ke-76 Republik Indonesia, penulis Akmal Nasery Basral, 53, berhar...
Pasangan Ini Bantu Ribuan Keluarga di Bali Bertahan Hidup saat Pandemi
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Di tengah pandemi COVID-19 yang kembali mengamuk, solidaritas warga justru tampak semakin menguat. S...
BNPT Perlu Waspada Euforia Taliban oleh Simpatisan Indonesia
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Keberhasilan Taliban menguasai ibu kota Kabul dan hampir seluruh wilayah di Afganistan dalam hitunga...
Angkot Indonesia di Jerman: Keburu Jauh, Apa Salah Jurusan?
Rabu, 25 Agustus 2021 - 13:28 WIB
Warna-warni yang mencolok mendominasi sebuah angkutan kota (angkot) yang melaju di jalanan Kota Köl...
Live Streaming Radio Network