Protes Antikudeta Myanmar Berlangsung Lagi Setelah Pemogokan Umum
Elshinta
Rabu, 24 Februari 2021 - 08:27 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Protes Antikudeta Myanmar Berlangsung Lagi Setelah Pemogokan Umum
VOA Indonesia - Protes Antikudeta Myanmar Berlangsung Lagi Setelah Pemogokan Umum
Para pengunjuk rasa di Myanmar ambil bagian dalam demonstrasi menentang junta militer negara itu, Selasa (23/2), meskipun jauh lebih sedikit jumlahnya daripada kehadiran besar-besaran di banyak kota sehari sebelumnya. Kerumunan demonstran yang marah berkumpul di depan Kedutaan Besar Indonesia di Yangon menyusul laporan Jakarta sedang menggalang dukungan dari negara-negara anggota ASEAN lainnya bagi rencana yang akan membuat junta memenuhi janji menyelenggarakan pemilu baru dalam waktu satu tahun. Para demonstran menuntut agar Indonesia menghormati hasil pemilu November lalu, yang dimenangkan dengan meyakinkan oleh Liga Nasional untuk Demokrasi, partainya pemimpin yang disingkirkan, Aung San Suu Kyi. Di Jakarta, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah membantah laporan itu. Hari Selasa (23/2) ia mengatakan kepada media bahwa “itu sama sekali bukan posisi Indonesia untuk mendukung pemilu baru di Myanmar. “ Teuku mengatakan Indonesia berkonsultasi dengan sesama anggota ASEAN untuk mencapai konsensus sebelum sidang khusus mengenai situasi di Myanmar. Demonstrasi hari Senin (22/2), ditambah dengan pemogokan hari itu, berlangsung dengan membangkang peringatan yang disiarkan hari Minggu di televisi pemerintah Myanmar, yang memperingatkan para demonstran “kini menghasut orang-orang, khususnya remaja dan para pemuda yang emosional, ke jalur konfrontasi di mana mereka akan mengalami kehilangan nyawa.” Protes rakyat telah berlangsung di berbagai penjuru Myanmar setiap hari sejak militer menahan Suu Kyi dan para anggota lain pemerintah sipil pada 1 Februari, dengan alasan kecurangan pemilu yang meluas, Tiga orang tewas akibat protes harian itu, termasuk dua yang tewas hari Sabtu di Mandalay, seorang di antaranya remaja lelaki, sewaktu polisi dan aparat keamanan menggunakan peluru tajam dan peluru karet, gas air mata, meriam air dan katapel terhadap demonstran. AS dan negara-negara Barat lainnya telah menuntut pembebasan Suu Kyi dan rekan-rekannya, dan meminta junta untuk memulihkan kekuasaan kepada pemerintah sipil. Pemerintahan presiden AS Joe Biden telah memberlakukan sanksi-sanksi terhadap beberapa anggota junta, dengan dua di antaranya, Jenderal Moe Myint Tun dan Panglima Angkatan Udara Jenderal Maung Maung Kyaw, masuk daftar sanksi pada hari Selasa (23/2). Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, Senin (22/2) mengemukakan melalui Twitter, “AS mendukung rakyat Myanmar yang menuntut pemulihan pemerintah yang terpilih secara demokratis.” Cuitan itu juga menyatakan penetapan itu “merupakan langkah lain untuk mendorong akuntabilitas bagi para pemimpin militer yang melakukan kekerasan dan berupaya menindas kehendak rakyat.” Koresponden VOA untuk PBB, Margaret Besheer, melaporkan juru bicara presiden Majelis Umum PBB Selasa mengumumkan bahwa majelis akan mengadakan sidang informal hari Jumat mengenai situasi di Myanmar. [uh/ab]
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
200 Warga Indonesia Telah Tinggalkan Myanmar
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Dua ratus warga negara Indonesia di Myanmar telah meninggalkan negara itu. Hingga kini KBRI di Yango...
Free Burma Rangers Bantu Etnis Tertindas di Myanmar
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Sebuah kelompok kemanusiaan multi-etnis, The Free Burma Rangers (FBR), membantu kelompok etnis yang ...
Uni Eropa Menaruh Harapan pada Vaksin Pfizer
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Dalam beberapa bulan terakhir ada kekhawatiran tentang penguatan pemulihan global mendatang akan men...
Kuba Longgarkan Larangan Penjualan Daging Sapi dan Produk Susu
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Kuba mengumumkan pihaknya akan melonggarkan larangan yang sudah diberlakukan selama puluhan tahun te...
Pejabat AS Prihatin atas Penempatan Militer Rusia di Krimea
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Pengerahan besar-besaran pasukan militer Rusia ke Krimea memprihatinkan Amerika. Direktur Badan Inte...
Biden: Penarikan Pasukan AS dari Afghanistan Mulai 1 Mei
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Presiden Amerika Joe Biden hari Rabu (14/4) mengumumkan rencananya menarik sisa pasukan Amerika dari...
Menteri-Menteri Inggris Tolak Permohonan KTT Darurat soal Irlandia Utara
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Menteri Luar Negeri Irlandia Simon Coveney diperkirakan akan menekan Menteri Luar Negeri Inggris Dom...
Perancis Akan Sikapi Vaksin J&J Sama Seperti AstraZeneca
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Juru bicara pemerintah Perancis Gabriel Attal mengatakan Perancis akan memberikan vaksin Johnson&Joh...
Ikuti Langkah AS, NATO akan Kurangi Pasukan di Afghanistan
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Pakta Pertahanan Atlantik Utara (North Alliance Treaty Organization/NATO) mengatakan akan menarik se...
Pejabat Kurdi: Roket Mendarat Dekat Pangkalan AS di Bandara Irbil
Kamis, 15 April 2021 - 12:26 WIB
Pejabat keamanan Kurdi dalam sebuah pernyataan mengatakan sebuah roket mendarat di dekat pangkalan A...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV