Berseteru dengan Pemerintah Australia, Google Ancam Tarik Layanan Google Search
Elshinta
Kamis, 04 Februari 2021 - 12:45 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Berseteru dengan Pemerintah Australia, Google Ancam Tarik Layanan Google Search
ABC.net.au - Berseteru dengan Pemerintah Australia, Google Ancam Tarik Layanan Google Search

Bagi kebanyakan warga yang hidup di Australia, Google sudah identik dengan internet itu sendiri.

Di situlah mereka mendapatkan berita, merencanakan liburan, bahkan berbelanja sehari-hari.

Namun adanya rencana UU Media Digital dari Pemerintah Australia akan mewajibkan raksasa teknologi itu membayar perusahaan media dan pembuat berita lokal, maka Google pun mengancam menghentikan layanannya.

Pertengkaran Google dengan Pemerintah Australia tampaknya akan berlangsung sengit.

"Google beranggapan mereka sangat superior sehingga orang sudah tidak dapat hidup tanpanya," ujar Peter Lewis, direktur Center for Responsible Technology.

"Banyak sekali efek lanjutan yang saya kira pihak Google pun mungkin belum memikirkannya," katanya.

Jika Google menarik diri dari Australia, dapatkah warga di sini mengandalkan mesin pencari seperti Ask Jeeves?

Apa yang sedang terjadi?

Google telah menyatakan akan menghentikan layanan mesin pencari, atau Google Search untuk pengguna internet di Australia setelah ada rencana UU Media Digital dari Pemerintah Federal.

UU ini akan memaksa raksasa teknologi tersebut membayar perusahaan media lokal untuk menyediakan konten mereka dalam pencarian di internet atau bila konten mereka dibagikan di jejaring sosial.

Hal itu, menurut Google, akan "menghancurkan layanan gratis dan terbuka yang dibangun untuk melayani semua orang".

Dengan ultimatum yang diumumkan Google minggu lalu, Perdana Menteri Australia, Scott Morrison menegaskan, "kami tidak menanggapi ancaman."

Scott Morrison says the Government will not respond to threats about the news media code. Video: Scott Morrison says the Government will not respond to threats about the news media code. (ABC News)

Bila Google menghentikan layanan mesin pencari, maka pengguna internet di Australia harus mencari cara lain untuk menemukan restoran tertentu atau untuk menyelesaikan tugas sekolah.

"Google telah menjadi internet itu sendiri. Artinya, kami masuk ke halaman website apa saja melalui halaman Google, bukan dengan mengetikkan alamat URL website bersangkutan," kata Peter dari Center for Responsible Technology.

"Tapi jika mereka menghapus pencarian di Australia, apakah mereka masih mempertahankan layanan Google Maps? Apakah mereka akan melanjutkan Gmail dan Google Docs?" ujarnya.

Apakah sudah pernah terjadi?

Kita belum pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya.

Namun hal yang agak mirip sudah terjadi, misalnya ketika Google telah menghapus beberapa layanannya dari berbagai negara sebagai tanggapan atas permasalahan lokal.

Pada tahun 2010, mereka menghentikan operasinya di China setelah menjadi target serangan dunia maya di sana.

Empat tahun kemudian, layanan Google News dihapus dari Spanyol setelah pemerintah mengesahkan UU Hak Cipta yang memaksa mesin agregator untuk membayar penyedia berita.

"Saya tak yakin apakah mereka serius dengan ancaman ini," ujar Dr Belinda Barnet, pakar regulasi media di Swinburne University, Melbourne.

"Tapi jika mereka mau, mereka pasti bisa menghentikan layanan pencarian di Australia," tambahnya.

Google dan kalangan penerbit Prancis minggu lalu membuat kesepakatan hak cipta yang mengharuskan raksasa digital membayar penerbit berita untuk konten online mereka.

Tapi, menurut Peter, pihak Google mampu mengontrol persyaratan dalam perjanjian itu.

"Jadi saya melihat penolakan terhadap UU di Australia, lebih sebagai kekhawatiran Google jangan sampai hal ini menjadi preseden global," katanya.

Apa dampaknya sehari-hari?

Menurut Komisi Persaingan dan Konsumen, Google menyumbang 90 persen lalu lintas pencarian dari pengguna komputer desktop Australia pada tahun 2018, dan 98 persen dari pengguna seluler.

Menurut Dr Belinda momentum ini sebaiknya digunakan untuk memikirkan alternatif selain Google.

Ada juga pertanyaan tentang apa dampak penghentian layanan ini bagi pengguna Android, mengingat Google telah membeli Android Inc. pada tahun 2005.

Lewis mengatakan ini adalah salah satu dari sekian banyak dampak yang belum diketahui di balik ancaman dari Google.

Ia menyebutkan, bila Google menghentikan layanan pencarian, lantas bagaimana dengan layanan lainnya.

Lalu, peluang apa yang bisa dimanfaatkan oleh penyedia layanan lainnya.

Dampaknya pada bisnis

Baik Dr Belinda maupun Peter sependapat jika dampak yang paling besar dari penutupan layanan mesin pencari Google akan dirasakan kalangan bisnis Australia.

"Pasar periklanan digital untuk pencarian Google di Australia saat ini bernilai sekitar $4,3 miliar per tahun," jelas Dr Belinda.

"Dan Google rela melepaskan pasar ini hanya demi menghindari kewajiban membayar harga yang pantas untuk konten berita lokal," ujarnya.

Menurut analisis Centre for Responsible Technology, Google saat ini menyumbang lebih dari 51 persen dari semua iklan online di Australia.

Bisnis kecil khususnya, telah mendapatkan keuntungan dari cara efektif untuk beriklan melalui Google.

"Gangguan yang terjadi tidak begitu banyak terkait dengan pencarian yang dilakukan seseorang, apakah menggunakan Google atau langsung alamat URL," jelas Lewis.

Tapi akan sangat terasa bagi bisnis dan layanan lainnya yang mengandalkan platform Google untuk beroperasi di internet.

Alternatif mesin pencari di internet

Apakah ancaman Google ini benar-benar akan terjadi, masih harus ditunggu kelanjutannya.

Namun diperkirakan bahwa alternatif untuk mesin pencari di internet, seperti Ask Jeeves (sekarang dikenal hanya sebagai "Ask"), akan langsung menggeser Google.

"Pesaing utama Google adalah Bing. Bing merasa familiar dan cara kerjanya hampir sama seperti Google, yaitu mempersonalisasi pencarian, dapat diunduh di ponsel dan bisa dijadikan browser otomatis," jelas Dr Belinda.

Kemungkinan keluarnya Google dari pasar Australia juga dapat menciptakan peluang bagi pemain lain untuk mengisi kekosongan.

Menurut Dr Belinda, saat ini semakin banyak negara yang mempertimbangkan agar Google membayar harga yang pantas untuk konten berita di seluruh dunia.

"Bila menghentikan layanannya di tiap negara, Google tidak akan memiliki produk yang tersisa. Jadi saya tidak melihat mereka akan melakukan hal ini secara massal," katanya.

"Bila benar terjadi di Australia, kita akan tetap survive [bertahan]," ujar Dr Belinda Barnet.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Di Tengah Pandemi Permintaan Rumah di Australia Melonjak, Harganya Jadi Naik
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:31 WIB
Harga rumah di Australia mengalami kenaikan bulanan tertinggi sejak Agustus 2003, karena jumlah calo...
Lama-lama kadang ya capek juga: Tantangan Ilmuwan Indonesia Menghadapi Hoaks
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:31 WIB
Tugas ilmuwan di masa pandemi semakin berat, karena harus berhadapan dengan hoaks, disinformasi, ata...
Ratusan Siswi di Nigeria Diculik, Keluarga Cemas Menunggu Kabar Mereka
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
Keluarga lebih dari 300 siswi yang diculik dari sekolahnya oleh orang-orang bersenjata minggu lalu t...
Vaksin COVID-19 Buatan Johnson & Johnson Cukup Satu Dosis. Apa Perbedaannya?
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
Amerika Serikat sudah menyetujui penggunaan vaksin ketiga untuk menangani penularan virus COVID-19, ...
 Sudah Kangen Aku Belum?: Pidato Pertama Trump Sejak Tak Lagi Jadi Presiden
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
"Jadi, kalian sudah kangen aku belum?"Begitulah cara mantan presiden AS Donald Trump membuka pidato ...
Twitter Akan Hapus Akun yang Terus Sebarkan Informasi Palsu Soal COVID-19
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
Usaha jaringan media sosial untuk memerangi berbagai informasi palsu atau yang sengaja menyesatkan m...
Protes di Myanmar Terus Berlanjut, Sudah Ribuan Warga Ditangkap Hingga Saat Ini
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
Pemimpin Myanmar yang digulingkan Aung San Suu Kyi muncul di pengadilan ketika pada saat yang bersam...
Kopi Asal Indonesia Disukai di Australia, Tapi Volume Ekspornya Masih Rendah
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
Warga Australia dikenal terobsesi dengan kopi, namun tidak sampai satu persen biji kopinya diproduks...
Di Tengah Pandemi COVID-19, Penghasilan Petani Australia Justru Meningkat
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
Di tengah ketegangan hubungan dagang dengan China serta pandemi COVID-19, sektor pertanian Australia...
Revolusi Daur Ulang: Perempuan Australia Ubah Baju Bekas Jadi Bahan Marmer
Rabu, 03 Maret 2021 - 08:30 WIB
Veena Sahajwalla selalu melihat dengan seksama apa yang ada dalam kotak sampah di rumahnya, setiap k...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV