Orang Kaya Australia Habiskan Hartanya Mengatasi Perubahan Iklim
Elshinta
Kamis, 19 November 2020 - 10:22 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Orang Kaya Australia Habiskan Hartanya Mengatasi Perubahan Iklim
ABC.net.au - Orang Kaya Australia Habiskan Hartanya Mengatasi Perubahan Iklim

Ketika Jeff Wicks pensiun, dia dan istrinya Julie memikirkan kehidupan mereka selanjutnya di Queensland, Australia.

Mereka menghitung kekayaannya cukup untuk kebutuhan sendiri dan memutuskan menyumbangkan seluruh sisa hartanya.

Pasangan ini mendirikan yayasan filantropi pribadi dan merupakan satu dari sekitar 1.600 yayasan serupa di Australia.

"Setiap tahun kami menyumbang mungkin hingga 10 kali lipat daripada yang kami butuhkan untuk hidup," ujar Jeff.

Selama ini, yayasan-yayasan pribadi di Australia beroperasi dengan cara menginvestasikan harta mereka atau korpus.

Keuntungan dari investasi itulah yang biasanya digunakan untuk sumbangan.

Namun kini semakin banyak orang kaya yang dermawan, seperti pasangan Jeff dan Julie, mendirikan yayasan yang secara sengaja dirancang untuk menghabiskan kekayaan mereka lewat sumbangan.

Mereka melihat tidak ada gunanya untuk terus mengundurkan waktu menyumbang, karena sumbangan tersebut dinilai sangat penting dalam upaya mengatasi perubahan iklim.

Menghabiskan harta untuk atasi perubahan iklim

Warga lainnya, Sue McKinnon dan suaminya John, juga menjalankan yayasan filantropi, yang akan menyumbangkan $10 juta atau Rp100 miliar selama 10 tahun.

Awalnya, yayasan mereka ini direncanakan terus berlanjut di masa depan.

Tapi Sue mengatakan, "Warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan adalah menghindarkan bencana perubahan iklim".

Yayasan McKinnon kini mengatasi perubahan iklim melalui sektor hukum dan keuangan.

Misalnya, mereka memberikan dukungan bagi pengacara David Barnden, yang berhasil menyelesaikan perkara melawan dana pensiun Rest terkait kebijakan perubahan iklim.

Yayasan yang dikelola para profesional ini juga akan menggelontorkan dana untuk menguasai saham atau kursi direksi suatu perusahaan.

Sue mengatakan advokasi bisa membuat frustrasi dan sulit diukur, namun dalam urusan itulah latar belakang bisnisnya turut berperan.

"Seluruh diri kami tercurah di sini. Keterampilan, pendidikan, jaringan, dan energi serta waktu. Itulah yang kami kerjakan," katanya.

Alokasikan Rp400 miliar untuk 10 tahun

Keluarga lainnya, yaitu Norman Pater dan istrinya Gita Sonnenberg, telah menyisihkan dana sebesar $40 juta atau sekitar Rp400 miliar untuk disumbangkan dalam 10 tahun ke depan.

Norman telah membeli tiga lahan pertanian di Australia Barat, masing-masing seluas 2.000 hektar, yang kini sedang direboisasi melalui yayasan Carbon Farming Foundation.

"Tujuan kami adalah untuk menumbuhkan kembali keanekaragaman hayati, setidaknya hingga satu juta hektar," kata Norman, mantan pengusaha di bidang TIK.

Ia mengakui target ini terbilang besar dan ambisius sehingga "para tetangga mengira kita sudah gila."

Pada tahun 2011 Norman pernah mengikuti pelatihan yang digelar oleh mantan wakil presiden Amerika Serikat dan aktivis lingkungan, Al Gore.

Pelatihan itu, katanya, menjadi pembangkit kesadaran besar dalam kehidupannya.

Kini, di lahan pertaniannya, pihak yayasan akan mengembangkan, menguji, dan mengukur model pertanian karbon.

"Kami ingin membuat pertanian karbon yang menguntungkan, sehingga petani lain bisa terlibat dalam aktivitas yang sama," kata Norman.

Petani terakreditasi saat ini dapat menerima subsidi A$16, atau Rp160 ribu per ton melalui program Pertanian Karbon Australia, tapi menurut Norman hal itu tidak cukup untuk mendorong petani menanam pohon.

Ia kini mencoba mengembangkan metrik dan faktor-faktor yang memberikan peluang keberhasilan setinggi mungkin dalam penghijauan.

"Carbon Farming Foundation bertujuan untuk mewujudkan hal nyata dan bertahan lama, terlepas dari perubahan politik di masa depan," ujarnya.

Lebih bernilai daripada uang

Dari pengalaman Jeff dan Julie Wicks, mereka mulai membeli properti untuk berjaga-jaga saat masih menjalani kariernya di dunia penerbangan.

"Masalah dengan pilot, jika kita kehilangan izin terbang, tidaklah mudah untuk bertransisi ke karir lainnya," kata Jeff.

Pasangan ini kebetulan tidak memiliki anak. Kini mereka mendirikan yayasan untuk menghabiskan harta mereka selama dekade berikutnya.

"Kami berpandangan bahwa apa yang kami lakukan 10 tahun ke depan, atau mungkin lima tahun ke depan, akan menentukan hasil akhirnya. Ayo lakukan sekarang," kata Jeff.

Yayasan mereka ACME Foundation memutar dana ke 25 hingga 30 organisasi berbeda. Salah satunya adalah organisasi perubahan iklim, Beyond Zero Emissions.

"Mereka meluncurkan program Million Jobs Plan sebagai upaya pemulihan dari COVID-19," kata Jeff.

Adanya faktor bisa merasa lebih baik telah membuat Jeff dan Julie terpikat membantu program ini.

"Faktor ini menjadi hal yang tidak bisa kami hentikan. Inilah jalan kami hingga akhir hayat nanti. Kami sangat menikmatinya," kata Jeff.

Ia melihat salah satu harapan generasi milenial dan generasi yang lebih muda, yaitu karena mereka tidak lagi hanya berfokus pada uang.

"Seringkali mereka bekerja meski penghasilannya kurang hanya untuk terhubung dengan organisasi yang mereka banggakan," ujarnya.

Ia melihat hal ini berbeda dengan generasinya, generasi baby boomer. Bagi generasi baru, "Uang bukan lagi jadi faktor pendorong utama".

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari laporan Radio National ABC

Ikuti berita seputar pandemi Australia dan informasi lainnya di ABC Indonesia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kerusuhan di Ibukota Washington,  Twitter Mengunci Akun Presiden Donald Trump
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Sekelompok orang pendukung Presiden Donald Trump bentrok dengan kepolisian, menyebabkan kerusuhan di...
Awak Kapal Asal Indonesia yang Ditahan di Iran Dikatakan Dalam Kondisi Baik
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Kedutaan Besar RI di Tehran, Iran, mengatakan terus melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak untuk...
Keluarga Korban Bom Bali:
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Beberapa anggota keluarga di Australia dari korban yang tewas dalam peristiwa bom Bali tahun 2002 me...
Jadwal Vaksinasi Australia Dimajukan, Siapa Yang Akan Disuntik Pertama?
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Jadwal penyuntikan vaksin virus corona di Australia akan dimajukan menjadi bulan depan, dengan menda...
Thailand Pernah Jadi Contoh Sukses Penanganan COVID, Kini Kasusnya Melonjak
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Thailand pernah dianggap contoh sukses penanganan COVID-19 di awal pandemi, tetapi negara itu telah ...
Abu Bakar Bashir Bebas, PM Australia Mengatakan Menghormati Keputusan Indonesia
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengatakan pembebasan Abu Bakar Basyir menjadi kesedihan b...
Brisbane Lockdown Tiga Hari Untuk Hentikan Penularan Jenis Baru Virus Corona
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Terhitung pukul 18:00 malam ini waktu setempat, warga di Brisbane, Logan, Ipswich, Moreton dan Redla...
Kongres AS Resmi Sahkan Kemenangan Biden, Ada Usulan Trump Segera Dilengserkan
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Setelah kerusuhan dengan massa menyerbu masuk ke gedung parlemen Amerika Serikat di Washington DC, K...
Brasil Menyatakan Tingkat Kemanjuran Vaksin COVID-19 Sinovac Mencapai 78 Persen
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Vaksin virus corona buatan China yang dikembangkan oleh Sinovac Biotech China telah dinyatakan 78 pe...
Australia Batasi Jumlah Kedatangan Luar Negeri untuk Hindari COVID Jenis Baru
Sabtu, 09 Januari 2021 - 11:55 WIB
Di tengah meningkatnya penyebaran varian baru virus COVID-19 asal Inggris, hari ini (8/01), Pemerint...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV