Giacomo Casanova, Bukan Sekadar Perayu Ulung dari Venesia
Elshinta
Rabu, 23 September 2020 - 12:29 WIB | Penulis : Mitra Elshinta Feeder
Giacomo Casanova, Bukan Sekadar Perayu Ulung dari Venesia
DW.com - Giacomo Casanova, Bukan Sekadar Perayu Ulung dari Venesia

Siang itu 12 September 1755, tanpa diberitahu akan kesalahan dan pelanggaran yang telah dilakukannya, seorang lelaki yang namanya kini identik sebagai perayu dan penakluk banyak perempuan dijatuhi hukuman lima tahun penjara di kota Venesia, kini Italia.

Lelaki terhukum itu, Giacomo Girolamo Casanova, mengaku dirinya sebagai pecinta kebebasan dan keindahan perempuan. Namun hari itu ia dijebloskan ke dalam sel yang digambarkan sebagai “paling buruk” dengan tuduhan menistaan agama. Berkat sejumlah koneksi, Casanova akhirnya berhasil melarikan diri dari penjara dan melanjutkan petualangannya.

Bergonta-ganti profesi

Lahir di Venesia pada 2 April 1725 dari pasangan orang tua yang berprofesi sebaga aktor, Casanova muda dikirimkan oleh keluarganya ke sebuah rumah pondokan di daerah Padua, konon untuk menghilangkan penyakit mimisan yang sering ia derita. Namun saat itu, ia merasa 'dibuang' oleh keluarganya. Setelah neneknya berpulang, Casanova diharapkan untuk menjadi seorang pastor. Ia pun masuk seminari, namun tidak lama dia dikeluarkan oleh pihak gereja karena melanggar norma susila.

Casanova muda tumbuh menjadi pemuda dengan selera humor dan memiliki rasa ingin tahu yang mendalam akan ilmu pengetahuan. Di Universitas Padua ia dengan giat mempelajari berbagai bidang keilmuan seperti filsafat, kimia, matematika dan menunjukkan minat mendalam akan ilmu kedokteran. Namun pada saat ini jugalah ketertarikannya akan permainan judi ikut berkembang.

Pada usia awal 20-an ia sempat ingin menjadi pemain judi profesional. Namun sebuah kekalahan besar telah mengubah pikirannya. Ia pun banting setir jadi pemain violin. Keberuntungannya berubah setelah ia berhasil menyelamatkan hidup salah seorang senator, berkat ilmu kedokteran yang sempat dipelajarinya.

Dari sana, berbekal gaya dan pilihan kata-kata yang tepat dan memukau, Casanova menjalin hubungan dengan bangsawan kelas atas dan para petinggi gereja. Ia pun menikmati gaya hidup yang memungkinkannya bepergian dari satu kota ke kota lain di Eropa. Sebuah kemewahan luar biasa pada abad itu. Namun, ke mana pun ia pergi, Casanova seolah tidak lepas dari masalah, penyebabnya terutama karena ulahnya sendiri.

Bukunya jadi sumber inspirasi hingga kini

Karena kisah hidupnya yang fantastis, banyak orang lantas menganggap Casanova sebagai karakter fiksi yang diselimuti mitos. Semasa hidupnya, Casanova dikabarkan pernah menjalin kontak dengan sejumlah tokoh ternama seperti filsuf kenamaan asal Prancis, Voltaire, Benjamin Franklin dan bahkan Katarina Yang Agung dari Rusia.

Dalam sebuah pertemuan dengan Voltaire, Casanova sempat menggambarkan kegiatan favoritnya dalam mengisi waktu. “Saya menghibur diri dengan mempelajari orang-orang pada saat saya bepergian … Amat menyenangkan mempelajari dunia sambil melaluinya.”

Hidup Casanova memang dipenuhi kisah dan petualangan mendebarkan. Semua itu dituangkannya dalam sebuah memoar panjang berjudul History of My Life yang dituliskan pada tahun-tahun akhir hidupnya. Buku ini menggambarkan petualangan dari kota kelahirannya di Venesia, hingga ke London, Paris, Dresden sampai Wina.

Berbagai cerita ia tuliskan, mulai dari perjamuan makan malam, pergaulan di kalangan bangsawan, hingga - tentu saja - pengalaman intimnya bersama sejumlah perempuan. Menariknya, dalam buku ini Casanova tidak ragu menuliskan opininya tentang beberapa perempuan, menggambarkan mereka sebagai “jelek, kotor, dan tidak tahu tata krama.”

Casanova juga tidak begitu pilih-pilih. Ia telah dengan sukses memikat dan mematahkan hati banyak perempuan, baik dari kalangan bangsawan maupun dari strata sosial yang lebih rendah. Dan karenanya, ia juga menciptakan banyak permusuhan dengan sesama lelaki, utamanya suami para perempuan yang ia jadikan mitra intim.

Buku History of My Life tetap menjadi sumber inspirasi dan rujukan banyak penulis hingga saat ini. Bahkan pada tahun 2010, manuskrip asli buku tersebut dijual dengan harga tinggi yaitu 9,6 juta dolar AS atau sekitar 142 miliar rupiah.

Museum Casanova di Venesia

Bagaimanapun, Casanova bukan sekadar perayu ulung. Ia adalah juga pemikir, penyair, diplomat dan juga mata-mata. Guna mengenang lelaki berkepribadian eklektik dan kompleks ini, seorang warga Italia yakni Carlo Parodi mendirikan sebuah museum di Palazzo Pesaro Papafaya pada tahun 2018.

Museum tersebut berupaya menampilkan Casanova sebagai orang yang jauh melampaui mitosnya. Selain itu, museum ini juga memberikan gambaran sekilas tentang kehidupan di kota Venesia pada abad ke-18 dan menunjukkan apa yang ikut membentuk karakter Casanova.

Tidak ada yang tahu di mana tepatnya Casanova dimakamkan. Namun falsafah hidupnya tetap menyala hingga saat ini. Seperti yang pernah dia katakan: "Saya mencintai perempuan, bahkan sampai gila. Tapi saya selalu lebih mencintai kebebasan."

ae/yf (berbagai sumber)



Karena kisahnya yang fantastis, Casanova sering dianggap mitos. Padahal pria yang juga adalah diplomat dan penyair ini kerap diberitakan berkontak dengan tokoh terkenal.
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Apa yang Kita Pelajari dari Tikus Lucu Arktik ini?
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Benua Arktik di Kutub Utara terus mencair dan membawa perubahan muram pada ekosistem Bumi. Perkemban...
Meretas Tubuh dan Otak Sebagai bentuk Optimalisasi Melalui Biohacking dan Brainhacking
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
"Kami ingin menantang tubuh kami sehingga jadi lebih kuat.” Itulah yang diucapkan oleh Ma...
Laser: Juga Bisa untuk Pertanian
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Sinar laser memiliki banyak fungsi yang digunakan diberbagai bidang. Salah satunya industri perkapal...
Sistem Peringatan Dini Sokong Warga dan Lestarikan Gajah
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Sejak awal tahun 1970 kawasan di sebuah kota di India semakin padat penduduknya, akibatnya gajah ser...
Menemukan Perspektif Yang Belum Pernah Terlihat Sebelumnya
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Julian Charrière saat ini menjadi salah satu seniman paling sukses di Eropa. Karena dia seniman ist...
Serangan Teror di Paris Picu Diskusi Soal Islam di Prancis
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Pernyataan kecaman itu dibacakan saat Syeikh al-Tayeb berpidato di hadapan pemuka agama Kristen, Yah...
Akui Hak Berkeluarga Pasangan LGBT, Paus Fransiskus Imbau Dibuat UU Ikatan Sipil
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Paus Fransiskus mengeluarkan pernyataan dukungan paling eksplisit kepada pasangan homoseksual sejak ...
Pergulatan Prancis Melawan Islamisme  
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Akhir September lalu Prancis dikejutkan oleh serangan senjata tajam terhadap pejalan kaki di depan b...
Rasa Keadilan di Balik Sikap Paus Fransiskus Soal Ikatan Homoseksual
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Paus Fransiskus kembali membuat geger usai menyatakan dukungan atas ikatan sipil sebagai kerangka hu...
Ancaman Kepunahan Bahasa-bahasa Daerah di Indonesia
Senin, 26 Oktober 2020 - 11:27 WIB
Bahasa adalah jati diri bangsa. Itu slogan lama yang sering didengungkan oleh para pamong praja atau...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV